siti khotijah

July 16, 2008 at 11:25 am (untaian arti makna)

Siti khotijah

Sebuah nama yang cukup bermakna spiritual, bermakna historis magis dan bersejarah, jika kita pelajari sejarah kenabian Muhammad SAW, tentunya kita mengenal nama ini. Siti Khotijah adalah Istri pertama sang Revolusioner sejati, Istri seorang Tokoh terbesar sepanjang masa, dan dia adalah teman Hidup seorang Nabi dan Rosul yang kita imani, Muhammad SAW. Pada waktu itu Siti khotijah adalah seorang janda yang kaya raya, ia adalah seorang niagawati yang sukses, banyak saudagar kaya dan tokoh-tokoh yang terkemuka yang melawarnya, akan tetapi semuanya ia tolak… selain cantik dan baik hati ia juga seorang yang punya keteguhan iman. Pada suatu ketika siti khotijah bermimpi ada matahari yang turun dari langit dan masuk kerumahnya sehingga pancaran cahayanya bersinar merata keseluruh penjuru mekkah. Mimpi itu diceritakan kepada anak bapa saudaranya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.

Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahawa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.”

“Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh.

“Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat.

“Dari suku mana?”

“Dari suku Quraisy juga.”

Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?”

“Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur.

Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai anak bapa saudaraku?”

Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”

Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah sentiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.

Yang mana setelah itu Siti Khotijah benar-benar menikah dengan pemuda yang namanya Muhammad yang tidak lain adalah seorang Nabi dan Rosul. Siti Khotijah adalah sosok pertama yang mengimani bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rosul… ia menemani Muhammad selama dua puluh enah (26) tahun. Ia adalah istri Tunggal Nabi yang terceraikan karena kematiannya. Tahun kematiannya disebut dengan tahun kesedihan (‘amul khuzni). Pernah Muhammad Rosullulah berkata :”Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir’aun”.

Dan itulah namamu yang kamu emban sebagai bentuk do’a orang tuamu… nama yang suci, sederhana tapi sarat makna, juga sebagai bentuk inspirasimu untuk menjadi sosok wanita yang sholihah sebagai mana khotijah istri Rosullulah. Ahhh tapi melihat umurmu memang belum saatnya untuk membicarakan tentang apa itu pernikahan.apa itu istri… ya mungkin dari ceritamu, sebuah angan-angan dan bayangan sebuah keluarga sudah mulai kamu mimpikan. Sehingga sebuah keputusan untuk kerja sebagi satu bentuk rasa kedewasaanmu dalam menjalani tapak-tapak kehidupan sudah kamu beranikan… ya pesanku hati-hati dan selalu mendekatkan diri dengan yang Kuasa nantinya di negeri perantuan.

Lulus SMA adalah masa-masa remaja menginjak masa muda setelah itu baru dewasa… mungkin aku tidak sebegitu mengenal siapa kamu. Tapi sedikit pembicaraan lewat telephon kapan hari aku menghargai kamu adalah sosok muda yang sudah berani berproses menuju kedewasaan. Masa-masa dan cara berpikir remaja nampaknya sudah saatnya ditinggalkan.

Melihat begitu glamournya kehidupan sekarang, hedonis, bebas, dan lebih tak terjaganya moral-moral pergaulan. Tentunya haruslah diwaspadai.. cara pandang hidup yang pragmatis pada nilai-nilai material, dan sudah jauh dari substansi hidup sebagai bentuk penghambaan pada yang Kuasa, tentunya harus diperhatikan. Tentunya sebuah ketaatan dan keistiqomahan dalam belajar, bekerja, beramal dan ibadah seharusnya selalu semakin mengingatkan kita pada keagungan Tuhan Allah SWT.

KhoTidjah…….. kalau aku boleh memanggilmu begitu. Aku kira ini bukan nama yang jelek… atau kedengaran udah tua gitu…kayak eyang-eyang atau mbah-mabah… aku rasa lebih kental dengan makna ke-ibuan, dan lebih teduh dan bersahaja. Niatan dan harapan membahagiakan orang tua dan juga sebagai bentuk taruhan untuk diambil sebuah hikmah pengalaman, ketika merantau dinegeri orang jauh dari sanak saudara, beda adat dan budaya, lain bahasa dan tutur kata, asing secara lingkungan dan juga menggantungkan rasa kerinduan, kesepian, kesendirian yang nanti akan kamu rasakan, tapi itu bisa saja sebagai hikmah belajar untuk membentuk sebuah kemandirian diri dalam menghadapi realita kehidupan.

Merantau adalah bagian dari safari melihat kebesaran Tuhan. Dimanapun kita menginjak Bumi Allah, disana kita bisa bersujud pada-Nya. Tidak ada sebuah ketakutan, rasa kesendirian ataupun ketakutan karena kemanjaan untuk bisa mandiri di negeri orang. Allah adalah tempat bersandar, Ia adalah Sang Penjaga, yang Maha Memenuhi Kebutuhan. Dan Maha Penjawab Do’a.

Hidup memang pilihan….

Setiap pilihan akan semakin membentuk sebuah karakter dan bentuk bekas langkah kita dalam menjalani hidup ini, setiap aksi selalu ada reaksi, setiap sebab yang berproses selalu menghasilkan akibat, Setiap penyesalan adalah buah dari ketololan, dan setiap langkah kehidupan adalah pilihan.

Memilih pasangan hidup juga bagian dari memilih warna kehidupan…..

Pengorbanan membutuhkan sebuah perjuangan, perjuangan membutuhkan sebuah ketabahan, dan ketabahan membutuhkan keyakinan

Berjuta warna pelangi mewakili keindahan kehidupan

semoga kita adalah bagian dari warna pelangi itu..

%d bloggers like this: