Seperti Apakah Orang yang Benar Itu? (2)

April 7, 2008 at 6:57 am (islam)

Seperti Apakah Orang yang Benar Itu? (2)

Berusaha Bersama-sama dan Melakukan

Perbuatan Baik Terus-menerus

Di dalam ayat berikut, Allah menyatakan bahwa perbuatan baik yang dilakukan terus-menerus adalah lebih baik ganjarannya di sisi Allah.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (al-Kahfi [18]: 46)

Perbuatan tersebut juga merupakan tanda keikhlasan dan kesucian seseorang. Sebagian orang dapat melakukan perbuatan baik, tetapi bukan karena mereka takut kepada Allah, melainkan ingin mendapatkan kehormatan dan pujian di mata manusia. Sebagai contoh, seseorang yang mengirimkan barang-barang dan pakaiannya untuk orang-orang yang kehilangan tempat tinggal karena gempa bumi. Ia mungkin saja membantu tetangganya, atau bersikap baik, sayang, dan baik budi. Ia mungkin juga ramah, lembut, dan memahami karyawannya. Ia mungkin hormat dan penuh toleransi kepada orang yang lebih tua. Jika perlu, ia bisa saja mengorbankan dirinya, ikut serta dalam kegiatan kemanusiaan. Semua itu adalah perbuatan yang baik. Bagaimanapun juga, apa yang benar-benar penting adalah keteguhan dan kesabaran yang ditunjukkan saat melakukan perbuatan tersebut. Sepanjang hidupnya, setiap muslim yang telah menyucikan dirinya harus membantu siapa pun yang membutuhkan, tanpa memperhatikan pendapat orang lain tentang dirinya. Usaha-usaha yang dilakukan hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah ini juga dilaksanakan untuk membuktikan tingkat keikhlasan mereka. Bagaimanapun juga, jika orang tersebut gagal membawa dirinya kepada ajaran moral yang disebutkan di atas dan untuk bersikap dalam sikap pengabdian dan pengorbanan diri yang sama, kesucian yang akan didapatnya saat melakukan perbuatan lain akan mudah hilang.

Demikian pula, ada sebagian orang dalam masyarakat jahil yang mampu melakukan perbuatan baik, bahkan meski mereka tidak percaya kepada Allah. Akan tetapi, mereka melakukan perbuatan tersebut bukan karena rasa takut mereka kepada Allah atau dalam harapan mereka akan hari akhirat. Mereka bertujuan untuk mendapatkan balasan dan keuntungan dunia, besar maupun kecil. Sebagai contoh, mereka mungkin membantu korban gempa bumi hanya untuk membuang barang-barang mereka yang sudah tak terpakai. Begitu pula, rasa hormat yang ditunjukkan terhadap orang yang lebih tua mungkin hanya semata-mata karena pengaruh tradisi budaya. Demikian pula, ia mungkin saja memperlakukan karyawannya begitu ramah hanya untuk membuat mereka lebih giat bekerja dan menghasilkan pendapatan yang lebih. Ia mungkin memberikan bantuannya untuk menolong organisasi kemanusiaan untuk mendapatkan kehormatan dan harga diri dalam masyarakat. Untuk dapat memastikan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan karena rasa takutnya kepada Allah dan ajaran akhlaq mulia yang diperintahkan Allah, orang tersebut harus menggunakan upaya yang sama dalam setiap detik kehidupannya dan terus-menerus bersikap sesuai dengan prinsip Al-Qur`an. Pentingnya berpaling kepada Allah setiap pagi dan petang, terus-menerus setiap hari, ditekankan dalam ayat,

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (al-Kahfi [18]: 28)

Jika seseorang dengan tulus meyakini keberadaan Allah dan hari akhir, ia tidak akan berbuat sebaliknya. Karena itu, ia tahu pasti bahwa ia bertanggung jawab akan setiap detik kehidupannya di dunia dan ia layak mendapatkan kehidupan yang abadi di surga-Nya hanya jika ia menjalani kehidupan dengan mengikuti keridhaan Allah. Ia bersegera melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan ridha Allah dalam setiap perbuatan, perkataan, dan sikapnya. Dengan bertanya pada diri sendiri, “Apa yang dapat saya lakukan?”, “Bagaimana seharusnya saya bersikap agar Allah ridha dan sayang?’, “Sikap apa yang harus saya perbaiki agar tingkah laku saya lebih baik?”, dan ia berusaha dengan sungguh-sungguh. Demikian pula disebutkan di dalam Al-Qur`an bahwa tingkah laku mereka yang berusaha, sebagaimana mereka seharusnya berusaha, diberi ganjaran yang besar. Dinyatakan dalam ayat,

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (al-Israa` [17]: 18-19)

Mengabdi dan Terus Berusaha Menjadi Orang yang Benar

Allah menekankan dalam ayat-ayat Al-Qur`an bahwa akhlaq Ilahiyah harus diaplikasikan ke dalam setiap bagian hidup seorang mukmin sejati. Seseorang harus hidup sebagai orang mukmin, berbicara dan berpikir sebagai seorang muslim. Sejak saat ia membuka matanya di pagi hari hingga saat ia tidur di malam hari. Ia harus berusaha menuju kesucian, berniat untuk selalu berlaku ikhlas dan jujur kepada Allah, dan selalu menggunakan kesadaran dan kemauannya dengan sebaik-baiknya hingga akhir nanti.

Sebagian orang berusaha untuk membatasi agama pada ritual-ritual tertentu. Mereka yakin bahwa kehidupan spiritual mereka harus dipisahkan dari kehidupan dunia. Entah bagaimana, mereka melihat ide tersebut logis dan masuk akal. Mereka mengingat Allah dan hari akhir hanya saat mereka melakukan shalat, puasa, bersedekah, atau ketika melakukan haji. Di lain waktu, mereka terbawa pada kerumitan urusan dunia. Mereka melupakan Allah dan balasan yang akan diterimanya di hari pembalasan. Mereka tidak peduli pada usaha untuk menggapai ridha Allah dan gagal berjuang hingga akhirnya.

Mereka tidak menyadari bahwa mereka juga diharapkan untuk berpikir agamis pada saat berjalan, makan, bekerja di kantor, berolah raga, berbicara dengan orang lain, melakukan transaksi, menonton televisi, berbicara tentang politik, mendengarkan musik, dan sebagainya. Saat mereka mengira bahwa hal-hal tersebut hanyalah masalah duniawi, mereka cenderung percaya bahwa rencana-rencana mereka pun seharusnya bersifat keduniawian. Akan tetapi, seseorang dapat menyempurnakan akhlaq sesuai dengan Al-Qur`an dan mendapat keikhlasan saat berhubungan dengan hal-hal tersebut di atas. Ia dapat menunjukkan perhatian dalam tugas-tugasnya dan penuh perhatian saat berbicara dengan orang lain, makan, berolah raga, bersekolah, bekerja, tengah membersihkan sesuatu, menonton TV, atau mendengarkan musik. Ia harus berusaha mendapatkan berkah Allah saat melakukan semua aktivitas tersebut.

Semua tingkah laku yang menjadikan Allah ridha dijelaskan secara rinci dalam banyak ayat Al-Qur`an. Banyak rincian tentang bagaimana berbuat adil dalam jual beli, tidak mengambil harta yang tidak halal, memberikan takaran dan timbangan yang tepat, dan sebagainya, telah dijelaskan di dalam Al-Qur`an. Ketika seseorang hidup dengan rasa takut kepada Allah dan melakukan perbuatan sesuai dengan ayat-ayat tersebut, ia melakukan jual beli untuk memenuhi keridhaan dan keikhlasan kepada Allah. Demikian pula, menahan diri dari perkataan kotor, tidak tinggal diam ketika orang lain menghina Al-Qur`an, dan berbicara dengan jujur dan bijaksana, semua itu adalah bagian dari akhlaq agung yang disebutkan di dalam Al-Qur`an. Karena itulah, seharusnya tidak ada seorang pun yang salah mengartikan bahwa agama hanyalah terdiri atas ritual-ritual agama dan bahwa keikhlasan hanya bisa didapatkan dengan melakukan ritual-ritual tersebut. Karena rumitnya kehidupan duniawi kita, manusia bertanggung jawab untuk terlibat dalam berbagai hal. Yang penting adalah bahwa seseorang harus selalu menempatkan Allah di dalam hatinya. Ia harus mencari keridhaan Allah di dalam setiap perbuatannya, tidak mengorbankan ajaran moral Al-Qur`an, serta menjaga kesuciannya.

Pandai Menguasai Diri, Ikhlas, dan Dapat Dipercaya

Seseorang yang secara konsisten berbuat ikhlas akan terlihat bersifat baik dan bersungguh-sungguh. Mereka yang hanya ingin mendapatkan keridhaan Allah dan tidak mencari balasan duniawi, tidak akan pernah menjadi orang yang palsu, penuh tipu daya, tidak ikhlas, dan tidak wajar. Ia bersikap baik, demikian pula perbuatan dan ucapannya. Hal ini karena ia tidak akan berusaha memengaruhi orang lain atau terlalu ambisius. Ia akan cepat disukai dan membuat orang lain merasa nyaman dengannya. Karena ia hanya ingin mendapatkan keridhaan Allah, ia menyadari sepenuhnya bahwa sifat-sifat menipu yang dilakukan untuk mendapatkan pengaruh pada orang lain akan merusak ketulusan hatinya. Ia akan merasa nyaman dan damai karena mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya teman baik dan satu-satunya pelindung.

Seseorang yang dengan teguh menjaga kesucian dan ketulusannya, berharap agar Allah akan menerima setiap perbuatannya sebagai orang yang saleh dan membalasnya dengan imbalan yang berlimpah, baik di dunia maupun di akhirat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: