Model baru super komputer masa depan berkinerja tinggi

April 7, 2008 at 7:23 am (computer)

Model baru super komputer masa depan berkinerja tinggi

Tanggal 27 Mei y.l. 2 tokoh terkemuka bidang IT/komputer : Gordon Bell – salah seorang yang pertama kali mencetuskan tentang komputer personal / mini computer tahun 1970an – dan Linus Thorvalds tokoh yang menciptakan sistem operasi Linux , terlihat hadir bersama dengan para pakar komputer yang menyaksikan uji coba kinerja super komputer jenis baru “Green Destiny” – yang ujudnya terdiri atas ratusan buah CPU-Central Processor Unit yang dinamakan “blade server” – yakni server berujud kompak atau “pretelan” yang hanya terdiri atas komponen komputer yang dasar saja – yang dirangkai menurut suatu konfigurasi yang disebut “Beowulf cluster”.

Pemrakarsa uji coba Wu-Chun Feng selaku ketua kelompok peneliti RADIANT- the Research and Development in Advanced Network Technology di Los Alamos, AS menguraikan bahwa dengan menggunakan server blades “Green Destiny” dapat membentuk suatu sistem super-komputer yang berwujud lebih kecil, mengkonsumsi daya yang lebih sedikit, dengan kinerja yang lebih “cost effective” jika dibanding dengan tipikal komputer server yang banyak dipakai sekarang.

Feng menguraikan lebih lanjut, bahwa :” Kebanyakan super komputer yang dikembangkan sekarang ini tidaklah menjawab sebagian besar tantangan fundamental yang akan menjadi kunci penting dimasa mendatang. Dengan hanya membuat perangkat mesin berkapasitas lebih besar agar dapat bekerja lebih cepat semata tidaklah memadai lagi untuk menjadi solusi super komputer masa depan”.

Tidak seperti kebanyakan super komputer yang menggunakan komponen spesial hingga menjadikan ujud komputer menjadi sedemikian besar, “Green Destiny” cukup menyatukan 240 keping blades server buatan RLX Technologies Inc. yang dirangkai dalam suatu rak server yang cukup ringkas sehingga muat dalam suatu lemari berukuran kompak. Prosesor komputer menggunakan prosesor Transmeta Corp berkecepatan 633 Mhz dan memakai sistem operasi Linux.

Sistem serupa ini akan mengkonsumsi daya yang lebih hemat energi disamping biaya pemeliharaan yang amat rendah, demikian hasil uji coba yang telah dijalankan selama 9 bulan lamanya seperti yang ditunjukkan oleh versi mini “Green Destiny” yang diberi kode “MetaBlade”. Komputer bekerja dengan kinerja yang amat memuaskan tanpa adanya sekalipun kegagalan (“failure”). Lebih hebat lagi dalam bekerja komputer tidak memerlukan dilakukannya upaya untuk pemeliharaan regular , seperti yang wajib dilakukan pada kebanyakan super-komputer.

Para insinyur yang mengembangkan sistem “Green Destiny” menyatakan bahwa mereka memang tidaklah mengandalkan melipatgandakan jumlah transistor guna menghasilkan kinerja komputer yang lebih cepat seperti halnya model prosessor andalan Intel Corp. dan AMD – Advanced Micro Devices. Sebagai gantinya para peneliti lebih memilih menggunakan prosessor Crusoe buatan Transmeta Corp. berhubung basis inti sistemnya yang lebih mengutamakan olah kerja piranti lunak dengan dibantu sejumlah kecil saja perangkat keras / hardware dalam menjalankan bekerjanya sistem, sehingga kinerjanya akan berlainan sama sekali dengan prosessor yang berintikan kumpulan transistor hingga menjadikannya sebagai prosessor yang boros energi.

Dengan perbedaan mendasar khususnya dalam hal cara kerja mengatur pertukaran panas, maka prosessor Crusoe praktis tidak mempersyaratkan “active cooling” atau pendinginan dengan fan selama tengah dioperasikan, sedangkan sejenis model prosessor Pentium 4 akan bisa mengalami macet (“failure”) karena “over heated” selagi tengah bekerja andaikata sistemnya tidak menjalankan pendinginan intensif. Dalam uji coba komputer Green Destiny diletakkan dalam ruangan semacam gudang dengan kondisi yang cukup berdebu dengan kondisi temperatur ruang yang terkadang mencapai diatas 27 Celcius ( 80 derajat Fahrenheit ).

Merujuk kepada idea Bell yang sejak dulu mengimpikan diciptakannya super komputer yang berkinerja tinggi namun tetaplah cost-effective serta dapat diperoleh seluas mungkin dengan harga yang sebanding, maka Feng lalu mengajukan suatu tolok ukur baru sebagai pertimbangan dalam mengukur unjuk kerja suatu super komputer. Tolok ukur utama tidaklah semata-mata mendasarkan kepada kalkulasi berapa banyak perintah kerja yang dapat dijalankan dalam batasan satuan waktu yang tertentu saja, namun mestilah juga mempertimbangkan faktor-faktor lain yakni :
waktu kegagalan bekerjanya sistem (“downtime”), ukuran (“size”), harga (“price”) dan kebutuhan pemeliharaan (“maintenance requirements”).

Jika berdasar atas tolok ukur seperti di atas, Feng meyakinkan bahwa super komputer sistem MetaBlade yang berujud kompak ini akan dapat dibeli cukup dengan AS $ 33.000 dengan masa operasi selama 4 tahun. Jumlah biaya yang jauh lebih kecil jika dibanding dengan super komputer dengan spesifikasi prosesor Pentium-4 yang harganya AS $ 120.000 ataupun Pentium-3 seharga AS $ 93.000.

Jumlah biaya yang jika diurai ternyata mengandung proporsi nilai yang cukup besar justru untuk komponen biaya pengeluaran tambahan, seperti : sistem administrasi yakni : – instalasi piranti lunak, konfigurasi, up-grading, pemeliharaan – diluar besarnya biaya untuk konsumsi energi kerja prosesor maupun sistem pendinginannya. Menurut kalkulasi Feng biaya pemeliharaan pertahun untuk super komputer berbasis Pentium paling tidak akan berjumlah AS $ 15.000 , sementara pada Green Destiny cukup hanya dengan AS $ 200 per tahun.
( SI-IPTEKnet merangkum publikasi Los Alamos Newsletter dan sumber lain ).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: