Menyingkirkan Kesombongan

April 7, 2008 at 7:06 am (islam)

Menyingkirkan Kesombongan

Pada bab ini, kita akan membicarakan sifat–sifat yang mengurangi keikhlasan seorang mukmin dan melihat kecenderungan yang dimiliki nafsu jiwa, seperti persaingan, ambisi, dan mengutamakan diri sendiri daripada orang lain. Seluruh ciri pada hawa nafsu yang terdapat pada diri seseorang ini didasarkan pada besarnya godaan setan berupa kesombongan.

Kesombongan dapat ditemukan pada diri orang yang meremehkan ibadah kepada Allah, dengan melupakan kelemahan–kelemahannya, memandang rendah orang lain, dan bangga akan dirinya sendiri. Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang lemah. Ia bergantung pada kekuasaan Allah untuk dapat hidup dan menyokong kehidupannya. Allah adalah Zat Yang Mahakuasa yang telah menciptakan manusia dari ketiadaan. Zat yang telah meniupkan ruh ke dalam tubuhnya, menaungi, dan memberi rezeki kepadanya, yang menyebabkannya dapat bernafas. Ia adalah Zat yang memberikan berkah yang tak terhitung atas diri manusia. Allah adalah Tuhan semesta alam. Kedengkian atas kemurnian kebenaran ini adalah ketika seseorang berpikir bahwa dirinya adalah orang yang tidak bergantung kepada Allah dan percaya akan kemampuan serta kecakapan yang muncul dari dalam dirinya, namun sesungguhnya ia adalah orang yang menderita karena khayalan dirinya.

Seseorang tidak berhak untuk sombong. Sesungguhnya, Allah dapat menarik kembali seluruh rahmat dan berkah yang dianugerahkan atas dirinya ketika telah datang bukti dan keterangan yang cukup kepadanya. Dari waktu ke waktu, kita telah mengetahui bahaya yang disebabkan sikap sombong atas kecantikan atau ketampanan fisik, pengetahuan, kecerdasan, harta atau status sosial yang dimiliki. Kita juga dapat melihat hal–hal yang terjadi pada manusia ketika mereka kehilangan segala kelebihan yang pernah dimilikinya untuk alasan apa pun. Jika hal ini terjadi dikarenakan tingkah laku yang diperbuatnya, tidak alasan baginya untuk bersedih karena kehilangan kelebihan tersebut. Allah menciptakan kemalangan dan kesulitan dalam hidup di dunia agar membantu manusia memahami kenyataan hidup. Allah menguji umat manusia dengan memberikan banyak kelemahan, seperti ketuaan dan penyakit.

Orang yang menyadari bahwa Allah telah melimpahkan rahmat atas segala yang ia miliki dan juga menyadari bahwa ia tidak memiliki kekuasaan tanpa bantuan serta pertolongan Allah, ia senantiasa berpulang kepada kebijaksanaan Allah dalam penciptaan-Nya, dan dengan segala kerendahan hati, ia mengakui kelemahan yang dimiliki. Menurut Badiuzzaman, langkah terpenting yang harus diambil untuk memperoleh keikhlasan hati adalah dengan menyingkirkan sifat sombong.

Dengan menjaga kebenaran dari kebohongan, dengan menyingkirkan sifat mementingkan diri sendiri dan pasrah pada kesalahpahaman dari keangkuhan, serta menahan diri dari segala perasaan tidak berarti yang timbul akibat persaingan (jika pemahaman ini melekat pada dirinya), maka keikhlasan akan terpelihara dan manfaatnya akan diwujudkan dengan sempurna.”[1]

Ini merupakan hal terpenting agar kita taat pada ajaran moral tersebut dalam rangka memperoleh keikhlasan. Keangkuhan menyebabkan seseorang bertingkah laku sesuai kehendaknya sendiri daripada bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Keangkuhan berarti lebih mencintai dan menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain, lebih mendengarkan dirinya daripada mendengarkan nasihat orang lain, dan melindungi apa–apa yang dimilikinya dengan segala daya dan upaya. Karena itu, seseorang yang terhanyut dan lalai dari kesombongannya, nuraninya akan tertutupi dari segala peringatan. Karena ia tidak dapat mendengarkan bisikan suara hatinya, ia tidak akan mampu beramal dengan hati ikhlas.

Dalam kitab suci Al–Qur`an, Allah menegaskan pengaruh dan akibat yang ditimbulkan oleh kesombongan,

“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertaqwalah kepada Allah,’ bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk–buruknya.” (al-Baqarah [2]: 206)

Apa yang sesungguhnya pantas bagi seorang mukmin adalah membuang kesombongan dan menundukkan hawa nafsunya serta melakukan amalan–amalan yang membuat Allah ridha.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba–hamba-Nya.” (al-Baqarah [2]: 207)

Dalam surah al-Qashash, Allah menjelaskan kepada kita tentang pertemuan terakhir oleh umat-umat yang bersikap takabur terhadap rasul Allah,

“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya, aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’ Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidak perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (al-Qashash [28]: 78)

Menyadari akan Kerugian yang Ditimbulkan oleh Kesombongan

Kita mungkin dapat melihat lebih jauh tentang kerugian yang disebabkan oleh kesombongan atas keikhlasan seseorang dalam setiap fase kehidupan yang dialaminya. Seseorang yang menyatakan dirinya lebih unggul daripada orang lain, ia akan menolak segala macam kritikan, peringatan, atau nasihat yang datang dari mereka. Meski ada orang lain yang mengingatkan dirinya akan hal yang belum ia pertimbangkan, ia akan sangat terpengaruh oleh perasaan unggul dalam dirinya. Ia akan tetap mempertahankan pendapatnya daripada tunduk pada kebenaran tersebut, walaupun ia tahu bahwa ia berada dalam posisi yang salah. Dengan begitu, ia menjadi tidak ikhlas dan diatur oleh hawa nasunya. Meski demikian, apa yang menjadi contoh keikhlasan adalah menuruti apa yang dikatakan orang lain (bila ia salah, sedangkan orang lain benar, Ed.) serta berserah diri tanpa perlu merasa lebih unggul dari orang lain.

Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, yang pertama dan terpenting adalah keharusmampuan meninggalkan perasaan egois yang menjadi penyebab timbulnya kesombongan serta menahan diri dari sifat keras kepala dalam diri kita. Hanya dengan demikian, kita diharapkan mampu memenuhi ruh Al–Qur`an dan beramal dengan ikhlas. Badiuzzaman Said Nursi juga mengingatkan mukmin sejati bahwa penangkal yang tepat melawan ambisi untuk merasa lebih unggul dan paling benar dari orang lain adalah dengan melawan kesombongan dan mengakui bahwa mukmin sejati tidak selalu menuruti pikirannya sendiri.

Satu–satunya obat penyakit ini adalah dengan menyalahkan jiwamu sendiri sebelum orang lain menyalahkannya dan tuntutlah dirimu. Dan dengarkan nasihat sahabatmu, bukan hanya nasihat dari dirimu sendiri. Aturan dari kebenaran dan kewajaran ini dikuatkan oleh sarjana ahli debat, yang berisi, ‘Barangsiapa yang ingin berdebat tentang masalah apa pun, menginginkan kata–benar, siapa saja yang ingin benar dan lawannya salah dan keliru, orang yang demikian telah berlaku tidak adil.’ Tidak hanya itu, orang yang demikian, ketika ia memunculkan kemenangan dalam perdebatan tersebut, ia belum mempelajari segala sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui dan kemungkinan rasa kebanggaanya akan menyebabkan dirinya kalah. Akan tetapi, apabila lawan bicaranya benar, ia akan belajar sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui dan dengan demikian ia mndapatkan sesuatu tanpa sedikit pun merasa kalah. Itu sama baiknya seperti terpelihara dari kesombongan. Seseorang yang adil sehubungan dengan kegemarannya pada kebenaran, akan mempersoalkan keinginan jiwanya untuk menuntut sesuatu dari kebenaran tersebut. Jika ia melihat lawannya berada pada posisi yang benar, ia dengan rela akan menerima kekalahannya dan mendukungnya dengan sukacita.[2]

Keberhasilan seseorang hanya dapat dicapai bila ia mampu melawan kesombongan yang merusak keikhlasan. Allah adalah Zat yang telah menganugerahkan atas diri umat manusia pikiran dan kemampuan. Sebagaimana dinyatakan pada ayat di bawah ini, manusia tidak mengetahui apa–apa kecuali yang telah Allah hidayahkan kepadanya,

“Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang dapat kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan lagi Mahabijaksana.’” (al–Baqarah [2]: 32)

Manusia adalah makhluk lemah yang telah diciptakan Allah dari ketiadaan menjadi ada. Segala kemampuan manusia merupakan hasil pemberian, kemurahan, dan kebaikan Allah. Ketika dibawa ke dalam kebijaksanaan tiada akhir, kekuasaan yang tiada batas, dan pengetahuan yang dimiliki Allah, jelaslah bahwa orang yang beranggapan telah mendapatkan kemampuan tersebut dengan sendirinya, sesungguhnya ia berada pada jurang kesalahan. Ia terbuai oleh kesombongannya kemudian lalai akan kenyataan ini dan berpikir bahwa keberhasilan yang diperolehnya berasal dari prestasi yang dimilikinya. Hal ini lantas membuatnya sombong dan tidak ikhlas. Apa yang pantas bagi seorang mukmin sejati adalah tidak pernah menganggap bahwa keberhasilan yang didapatnya adalah karena kemampuan yang dimilikinya, meski sesungguhnya ia adalah seseorang yang sangat mampu, cerdas, dan merupakan manusia yang paling sempurna yang pernah ada di bumi. Kesombongan tidak akan pernah menguasai dirinya kalau saja ia bersikap santun untuk mengakui kelemahan diri yang menghalanginya dari semua keberkahan tersebut, bahkan kemudian Allah akan melimpahkan kemurahan, bahkan lebih, atas dirinya. Allah akan membawa dirinya menggapai ridha, kasih sayang, serta masuk ke dalam surga-Nya sebagai balasan atas keikhlasan serta ketulusan hatinya. Sekalipun begitu, banyak orang yang lalai dan lupa bahwa kehidupan dunia adalah fana dan hanya merupakan sebuah ujian bagi orang–orang beriman. Mereka akan ingat kepada Allah tatkala ditimpa kemalangan. Akan tetapi, mereka tidak bersyukur ketika keberuntungan serta kenikmatan datang kepadanya. Mereka juga melakukan kesalahan besar, dengan meyakini bahwa keberkahan dan keberuntungan yang diperolehnya itu merupakan hasil jerih payah yang dikerjakannya. Mereka yakin bahwa keberhasilan hanyalah milik mereka semata. Dalam surah az–Zummar, Allah berfirman,

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, ‘Sesungguhnya, aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.’ Sebenarnya itu adalah ujian, namun kebanyakan mereka itu tidak mengetahuinya.” (az-Zumar [39]: 49)

Kecenderungan lain yang sering ada di antara orang yang berada di bawah pengaruh kesombongan adalah “ambisi untuk menjadi pemimpin”. Hawa nafsu menggoda manusia agar berambisi meraih cita–citanya tersebut, bahkan sambil menunjukkan amalan–amalan saleh dan berusaha merusak keikhlasannya dengan memberikan alasan–alasan yang dapat diterima oleh akal. Said Nursi menegaskan, Keikhlasan dan ketaatan pada kebenaran membutuhkan orang yang seharusnya berkeinginan agar setiap muslim dapat memperoleh keuntungan dan manfaat dari siapa pun dan di mana pun mereka bisa. Berpikir,Biarkan mereka mengambil pelajaran dari diriku. Dengan begitu, aku akan mendapatkan pahala,’ merupakan tipu muslihat dari nafsu dan diri sendiri.”[3] Pada berbagai keadaan, sebagian orang melakukan tindakan dengan mangambil keputusan, “Aku akan menjadi orang yang menyelesaikan tugas ini, tanpa meminta balasan atas hasil atau manfaat yang dapat diraih sebagai konsekuensinya. Watak seperti ini, dikuasai oleh keinginan untuk memimpin dan rasa sombong, dan hal ini sangat merusak keikhlasan.

Sebagaimana diungkapkan Badiuzzaman, Jika kita mengatakan kepada diri sendiri, ‘Biarkan diriku yang mendapatkan pahala tersebut, biarkan diriku yang memimpin orang–orang ini, biarkan mereka mendengarkan diriku,’ maka pikiran ini menciptakan persaingan terhadap saudara–saudaranya yang ada di hadapannya dan saudaranya yang benar–benar butuh kasih sayang, pertolongan, persaudaraan, dan bantuan. Mengatakan pada diri sendiri, ‘Mengapa murid–muridku datang kepadanya? Mengapa aku tidak memiliki murid sebanyak yang ia miliki? ini akan menjatuhkannya menjadi korban keegoisan, kecenderungan penyakit ambisius yang menggebu, ia kehilangan segala keikhlasan, dan terbuka peluang menuju kemunafikan.”[4] Seseorang yang memiliki tabiat buruk akan menganggap saudara muslimnya sebagai saingan bagi dirinya. Rasa tidak rela jika orang lain ditugasi tanggung jawab penting dan berhasil menyelesaikan tugasnya, dapat dipahami sebagai keinginan untuk tidak mengharapkan siapa pun mendapatkan pahala surga atau menerima sebuah tanggung jawab yang membuatnya masuk ke dalam surga.

Sifat yang paling mulia menurut Al–Qur`an adalah yang paling ikhlas, dengan membiarkan orang lain memperoleh jalan masuk ke surga dan menumbuhkan semangat mereka agar memulai tugas–tugas yang membuat Allah senang.

Seorang muslim seharusnya berharap agar orang lain memperoleh pahala–pahala surga dan melakukan tugas–tugas mulia yang membimbing mereka kepada pertolongan di hari kiamat. Seperti halnya ia ingin melakukan amal saleh untuk keuntungan dirinya sendiri. Mengubah perilaku baik seseorang demi kepentingan ambisi duniawi, dengan mengatakan, “Aku adalah orang yang paling mampu menyelesaikan tugas ini”, “Biarkan mereka melihat betapa aku mampu mengurus tugas tersebut dengan baik dan melihat betapa unggulnya kelebihan–kelebihan yang aku miliki”, “Aku akan melakukan pekerjaan ini agar dapat meraih status dan martabat di antara orang–orang beriman”, adalah bertentangan dengan keikhlasan. Yang bahkan seharusnya dilakukan seseorang adalah memberikan yang lebih dia sukai kepada mukmin lain. Ia dapat menunjukkan bahwa ia juga memiliki keunggulan yang membuat dirinya mampu mengamalkan perbuatan baik dan berlaku ikhlas. Agar dapat mengalahkan kesombongan dan ambisinya atas kekuasaan, Badiuzzaman said Nursi memberikan nasihat,

Obat dan penyembuh bagi penyakit hati yang serius ini adalah dengan membanggakan sahabat atau teman seperjuangan dalam menempuh jalan yang lurus. Ini berkaitan dengan prinsip mencintai karena Allah. Selain itu, dengan mengikuti mereka serta menolak menjadi pemimpin mereka dan menganggap orang yang berada di jalan Allah mungkin lebih baik dari dirinya sendiri. Dengan demikian, sifat egois diharapkan dapat hancur dan keikhlasan diperoleh kembali. Penyakit hati ini juga bisa dihindari dengan mengetahui bahwa sebuah perbuatan kecil yang dilakukan dengan ikhlas lebih disukai daripada perbuatan besar yang dilakuakan tanpa keikhlasan, serta menyukai status sebagai pengikut daripada pemimpin, dengan segala bahaya dan tanggung jawab yang harus dipikul. Jadi, keikhlasan harus dimiliki setiap orang dan merupakan tugasnya dalam rangka mempersiapkan diri untuk hari kiamat yang kedatangannya pasti akan terjadi.”[5]

Dengan ungkapan ini, Said Nursi–sekali lagi–telah menegaskan betapa pentingnya keikhlasan dan ia mengingatkan orang–orang beriman bahwa mereka yang ingin menikmati kehidupan surga di akhirat harus membersihkan dirinya dari sifat mementingkan diri sendiri, seperti egoisme, persaingan, dan ambisi untuk menjadi pemimpin.

Said Nursi juga memberikan catatan tentang pentingnya memberikan sesuatu yang lebih didambakan oleh mukmin lainnya sebagai sebuah bentuk keikhlasan. Memperkenankan saudara mukmin lainnya untuk memimpin dan gembira dengan apa yang dicapainya. Said Nursi juga mengingatkan orang–orang beriman bahwa yang sesungguhnya mencerminkan keikhlasan adalah dengan berkeyakinan bahwa orang lain juga mampu lebih unggul dari dirinya dan mengakui keunggulannya itu.


[1] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.

[2] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.

[3] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.

[4] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.

[5] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: