Menghalau Kekikiran dan Kecemburuan

April 7, 2008 at 7:05 am (islam)

Menghalau Kekikiran dan Kecemburuan

Allah memberitahukan kita dalam ayat berikut ini bahwa jiwa manusia dikuasai oleh sifat kikir.

“… manusia itu menurut tabiatnya kikir dan jika kamu menggauli istrimu dengan baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh) maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (an-Nisaa` [4]: 128)

Jadi, sama halnya dengan sifat jahat lainnya, kita semua menurut tabiatnya selalu bergelut dengan perasaan-perasaan kecemburuan dan kekikiran yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Orang akan berjuang menyucikan dirinya dari perasaan tersebut. Namun sebaliknya, ia tidak akan pernah mampu mengamalkan nilai ajaran moral yang ada di dalam Al-Qur`an dengan sepenuhnya dan tidak akan pernah mampu sepenuhnya meraih ridha Allah. Demikian pula halnya pada ayat Al-Qur`an lainnya, yang menyatakan bahwa manusia berselisih antara satu sama lainnya dan tersesat dari jalan yang lurus hanya kerena rasa iri. Mereka merasa bertentangan satu sama lainnya, meskipun mereka telah menerima Kitab yang membimbing mereka ke jalan yang lurus.

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (al-Baqarah [2]: 213)

Perumpamaan yang digambarkan dalam Al–Qur`an ini memiliki pengaruh yang besar dalam membantu manusia untuk memahami betapa besarnya bahaya yang disebabkan oleh iri hati. Walaupun sadar dan melihat dari jalan yang benar, seseorang dapat saja mengambil keputusan yang salah, hanya karena iri hati. Iri hati dan kikir mencegah seseorang untuk berpikir rasional dan mengevaluasi setiap peristiwa dengan benar. Ketika dihadapkan pada situasi tertentu, seseorang yang tengah mengatasi rasa tersebut, mungkin tidak bisa bersikap sesuai dengan nilai-nilai ajaran Al-Qur`an. Ia tidak dapat berbicara tentang apa yang diperkenankan Allah atau berlaku ikhlas dan tulus. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak akan bisa diatur oleh pikiran dan hati nuraninya, tetapi diatur oleh hawa nafsunya, mendengarkan bujukan dan rayuan setan. Hawa nafsu mengarahkan dirinya kepada tingkah laku setan.

Agar tersucikan dari kekotoran ini, seseorang seharusnya lebih dulu dan lebih utama untuk dapat memahami bahwa iri hati dan kikir itu bertentangan dengan agama. Ia harus menyadari bahwa perasaan ini muncul dari nilai–nilai duniawi. Manusia menjadi iri hati atas harta dan kebaikan akhlaq orang lain, yang kemudian menjadikannya bersaing melawannya. Padahal, seorang mukmin sejati adalah mereka yang mampu menahan diri dari keterikatan pada harta benda duniawi yang terlalu berlebihan. Pada intinya, mereka hanya menginginkan akhirat. Seorang mukmin sejati mengetahui pasti bahwa kenikmatan duniawi itu adalah titipan dari Allah dan akan diambil kembali oleh-Nya ketika saatnya tiba. Walaupun ia dapat memperoleh kesenangan tersebut dengan cara yang diridhai Allah, ia tidak bernafsu mencurahkan seluruh tenaga untuk mendapatkannya dan tidak menjadi orang yang terlalu berambisi. Ia bersyukur kepada Allah atas segala yang telah dianugerahkan kepada dirinya dan dia mengetahui cara menjadi bagian dari apa yang telah ia miliki. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut, apabila Allah menganugerahkan lebih banyak berkah-Nya atas orang lain, ia tahu bahwa ini memiliki maksud.

“Kepunyaan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (asy-Syuura [42]: 12)

Berpikir tentang Akhirat Dapat Melenyapkan Iri Hati Dan Kikir

Setiap orang sedang diuji melalui karunia dari Allah berupa kecukupan dan kebaikan untuknya. Dengan demikian, dapat terlihat perbedaan antara mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh syukur dan kerendahan hati dan mereka yang tidak memiliki rasa terima kasih dengan meninggalkan ajaran moral Al–Qur`an. Karena itu, seseorang tampaknya tidak mungkin menjadi kikir atau iri hati atas keberkahan dunia yang dimiliki orang lain jika ia memahami bahwa kehidupan duniawi hanyalah tempat sementara yang semata-mata diciptakan Allah untuk menguji manusia. Misalnya, iri hati terhadap orang lain hanya karena kekayaan, ketampanan, atau dikaruniai kekuasaan. Sifat ini bertentangan dengan akhlaq yang terkandung dalam Al-Qur`an. Seseorang yang hidup dalam tingkatan akhlaq Al-Qur`an yang tinggi akan mengetahui dengan jelas bahwa Allah akan menganugerahkan keberkahan atas dirinya di akhirat kelak. Jadi, ia hidup dengan ketenangan pikiran dari kesadaran atas kebenaran yang dibawa Al–Qur`an. Akan tetapi, mereka yang gagal memahami takdir, kenyataan alamiah dari kehidupan dunia ini, kenyataan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan memerintahkan mereka agar beriman kepada-Nya, terbawa oleh sifat iri hati dan kikir. Mukmin mana pun yang sadar akan kebenaran itu, menahan dirinya untuk melakukan perbuatan yang salah.

Walaupun ini adalah sifat yang mencerminkan kemuliaan akhlaq Al–Qur`an, orang yang beriman akan berhati-hati dalam menjauhkan diri dari rasa iri hati. Sebagai gantinya, ia ingin bisa mencontoh kebaikan akhlaq dari saudara muslimnya. Harapannya untuk selalu terpelihara” tidak membawanya kepada kekikiran. Dalam kaitannya dengan ayat Al–Qur`an yang menyatakan Berlomba–lombalah satu sama lainnya menuju kebaikan”, ia berjuang dengan ikhlas untuk menjadi salah satu di antara hamba–hamba yang dicintai oleh Allah, serta melaksanakan kebaikan yang terkandung dalam Al–Qur`an dengan sikap yang sangat ideal. Sekalipun demikian, perlombaan ini tidak dilandaskan atas perasaan iri hati atau persaingan. Perlombaan ini ditujukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah daripada mendekatkan diri kepada manusia. Sama halnya seperti seseorang yang juga berdo’a demi mukmin yang lain agar menjadi salah satu di antara hamba–hamba yang paling dicintai oleh Allah, dan ia pun berdo’a untuk dirinya sendiri. Ia tidak hanya berdo’a dengan ikhlas, namun juga berjuang untuk mendapatkan apa yang dimintanya itu.

Orang–orang mukmin sadar akan hal itu, sebagaimana semua makhluk lainnya, mereka lemah. Mereka takut kepada Allah dan mengakui kelemahan–kelemahan diri ketika berhadapan dengan Tuhannya. Pada salah satu ayat Al-Qur`an dijelaskan tentang kebenaran ini,

“Katakanlah, ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (al-A’raaf [7]: 188)

Seseorang yang lebih mengutamakan kepentingan akhirat daripada hal–hal yang bersifat duniawi, tidak pernah mengambil contoh akhlaq yang berdasarkan pendapat orang lain. Ia hanya berusaha mencapai ridha Allah. Jadi, ia tidak pernah mencoba agar menjadi lebih baik daripada orang lain (dalam hal keduniawian), mencari penghargaan atau untuk mengamankan posisi mereka, serta menginginkan pengaruh penting dalam pergaulan. Sebagaimana dipahami dari masalah yang telah disebutkan di atas pada bagian ini, jika seseorang mengetahui kecenderungan dan penurunan yang ada pada dirinya, ia seharusnya sadar bahwa ia sedang melakukan perbuatan moral yang pada akhirnya akan membahayakan keikhlasannya dan mencegahnya untuk mendapatkan ridha Allah.

Dalam karyanya, Badiuzzaman Said Nursi membahas secara mendalam tentang persoalan ini dan lebih menekankan pada beberapa bagian penting, agar dapat memandu orang–orang yang beriman. Dalam komentarnya tentang keikhlasan, ia menggambarkan persaingan yang terjadi di antara orang-orang beriman,

Dalam masalah yang berkaitan dengan agama dan akhirat, seharusnya tidak ada persaingan, iri hati, atau kecemburuan. Semua itu tidak benar. Alasan untuk merasa iri hati dan cemburu adalah ketika kita mencoba meraih suatu tujuan, ketika beberapa pasang mata terpaku pada satu posisi tertentu, ketika ada perut-perut lapar akan satu kerat roti saja. Pada awalnya, iri hati muncul sebagai akibat dari adanya konflik, perselisihan, dan persaingan yang kemudian berkembang menjadi kecemburuan. Ketika banyak orang memiliki keinginan yang sama di dunia ini, dan karena dunia ini sempit dan merupakan tempat sementara yang tidak dapat memuaskan keinginan manusia yang tak kunjung habis, manusia kemudian menjadi pesaing satu sama lain. Namun sudah jelas, tak ada hal yang dapat menyebabkan terjadinya persaingan di akhirat atau memang tidak ada persaingan di sana. Dalam hal ini, tak ada persaingan untuk mendapatkan pahala di akhirat. Tak ada tempat untuk cemburu. Seseorang yang cemburu salah satunya mungkin adalah orang munafik yang mencari keuntungan dunia dengan bepura-pura melakukan amal saleh atau pura–pura ikhlas, namun sebenarnya ia adalah orang awam yang tidak mengetahui tujuan amal saleh yang ia lakukan. Ia tidak memahami bahwa keikhlasan merupakan semangat dan dasar dari segala amal saleh. Dengan melakukan persaingan dan permusuhan terhadap kesucian Allah, ia sebenarnya ragu akan keluasan kasih sayang Allah.

Wahai orang–orang yang berada di jalan yang lurus! Melaksanakan kebenaran adalah seperti memikul dan memelihara sebuah harta benda yang berat dan besar. Orang–orang yang memikul kepercayaan tersebut pada pundaknya akan merasa bahagia dan bersyukur bilamana tangan–tangan kuat datang menawarkan bantuan. Jauh dari rasa cemburu, seseorang seharusnya dengan bangga menghargai kekuatan, kedayagunaan, dan kemampuan orang yang unggul, yakni mereka yang dengan kasih sayang yang tulus datang untuk menawarkan bantuan. Lalu, mengapa mencari saudara–saudara dan penolong yang mengorbankan dirinya dalam semangat persaingan hingga kita kehilangan keikhlasan.”[1]

Di sini, Badiuzzaman telah memperingatkan orang–orang beriman bahwa rasa cemburu dan persaingan tidak memiliki tempat di surga. Demikian pula halnya dengan perilaku amal saleh yang bertujuan untuk mendapatkan surga, ia tidak akan pernah bisa dinodai oleh rasa cemburu atau persaingan. Orang–orang beriman adalah sahabat, pelindung, dan saudara satu sama lainnya, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Setiap kali ada yang melakukan amal kebaikan dengan tujuan yang sama, saat itu pula yang lainnya mendukung. Dengan demikian, hal ini akan membuat Allah senang. Untuk alasan inilah, apa yang pantas dilakukan oleh orang–orang beriman adalah membantu dan saling membanggakan satu sama lain. Ini lebih baik daripada cemburu akan kemuliaan amal saleh yang dikerjakannya dan kemudian bersaing dengannya. Dalam semua kondisi, inilah bagian terbaik yang mencerminkan nilai keikhlasan. Rasulullah memberitahukan kepada kita akan pentingnya persatuan, kasih sayang satu sama lain, dan persahabatan di antara orang–orang beriman,

Kamu akan melihat bahwa orang–orang beriman itu seperti bagian tubuh yang berhubungan satu sama lainnya, dalam urusan kebaikan hati, cinta, dan kasih sayang. Ketika satu bagian dari tubuh tersebut ditimpa kesulitan, seluruh bagian tubuh tersebut akan ikut merasakannya; ia akan sulit tidur dan demam di sekujur tubuhya.”[2]

Pada salah satu karyanya yang lain, Badiuzzaman Said Nursi mengingatkan kepada setiap muslim bahwa seorang mukmin sejati harus mampu mengatasi rasa cemburu dan persaingan, dengan cara membanggakan sifat–sifat orang yang lebih unggul daripada dirinya. Ia juga menekankan bahwa setiap orang yang mengamalkan akhlaq tersebut akan mampu merendahkan kepribadiannya untuk kemudian ikut larut dalam kepribadian seluruh umat muslim. Jadi, setiap amal mulia yang dikerjakan akan disifatkan kepada setiap diri mereka.

Ini merupakan cara untuk membayangkan kebaikan dan jasa saudaramu di dalam dirimu sendiri, dan dengan penuh terima kasih serta bangga akan kemuliaan mereka. Para sufi memiliki istilah yang mereka gunakan di kalangan mereka sendiri, yakni ‘penghapusan shekh, penghapusan Rasulullah’. Saya bukan seorang sufi, namun prinsip-prinsip yang mereka gunakan memberikan kebiasaan baru bagi kita, yakni dalam bentuk ‘penghapusan saudara muslim’. Di antara saudara muslim, hal ini disebut ‘tafani’ atau dengan kata lain disebut ‘penghapusan satu sama lainnya’. Ungkapan tersebut bermakna bahwa untuk melupakan perasaan dari nafsu seseorang adalah hidup dalam pikiran seseorang dengan kebaikan dan jasanya. Pada peristiwa apa pun, dasar yang kita gunakan adalah persaudaraan. Persaudaraan ini bukan berarti persaudaraan antara ayah dan anak atau pemimpin dan pengikutnya, namun persaudaraan ini memiliki arti persaudaraan yang sejati. Yang paling sering adalah campur tangan seorang guru (ustadz). Cara kita adalah persahabatan yang paling erat. Persahabatan ini memaksa kita untuk menjadi sahabat karib, teman yang paling banyak berkorban, saudara yang paling mulia. Intisari dari persahabatan ini adalah keikhlasan yang sejati. Seseorang yang menodai nilai keikhlasan sejati ini akan jatuh dari puncak persahabatan. Ia mungkin akan terjerumus ke dasar ketertekanan batin yang dalam, tidak ada tempat pegangan untuk bersandar.”[3]

Kecemburuan dan Persaingan akan Menghancurkan

Kekuatan Orang Mukmin

Badiuzzaman juga menekankan tentang bahaya yang ditimbulkan dari perselisihpahaman yang berkembang di antara orang-orang beriman. Ia juga mengungkapkan bahwa sama halnya dengan perselisinpahaman dan persaingan yang mengakibatkan kehancuran orang–orang beriman, kesepahaman dan kesatuan akan memberikan mereka kekuatan.

“… Bagi orang-orang yang ingkar dan sesat, agar mereka tidak kehilangan keuntungan yang kepadanya mereka tergila-gila, dan agar tidak menghina para pemimpin dan sahabat yang mereka puja demi keuntungan sendiri–dalam rasa malu, penghinaan, dan kurangnya keberanian–mereka bersekutu denga cara apa pun dengan teman-temannya dalam apa pun yang mungkin diperintahkan oleh keinginan mereka bersama. Sebagai hasil dari kesungguhan ini, mereka benar-benar mendapatkann keuntungan yang diinginkan.”[4]

Sebagaimana dipahami dari ungkapan Said Nursi tersebut, mereka yang ingkar kepada Allah atau pada hari akhirat, dapat melupakan persaingan yang terjadi di antara mereka dan membangun kesatuan satu sama lainnya hanya untuk tujuan mendapatkan kekuatan, kenikmatan, dan manfaat duniawi. Kegandrungan mereka yang tiada tara terhadap kenikmatan-kenikmatan ini dapat melenyapkan kecemburuan dan persaingan di antara mereka, dan mereka dengan segera menjadi sahabat karib. Mereka mengharapkan keuntungan yang dapat diperoleh dari persekutuan mereka tersebut sehingga mereka dapat memperoleh hasilnya.

Walaupun orang–orang yang ingkar kepada Allah dapat membentuk persekutuan yang hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan penghargaan itu, sangatlah tidak mungkin bagi mukmin sejati yang semata–semata bertujuan menggapai ridha Allah itu, mengalami kegagalan dalam membuang rasa cemburu dan persaingan serta kemudian membangun persekutuan seperti itu. Kegembiraan mereka untuk meraih ridha Allah dapat dengan mudah mengatasi rasa cemburu dan persaingan yang dibisikkan oleh hawa nafsu dalam diri mereka. Masalah yang terpenting adalah mereka memahami bahwa perselisihpahaman tersebut dapat membahayakan diri dan keyakinan mereka. Mereka diingatkan bahwa pertengkaran dan perselisihpahaman menjadi penyebab lemahnya kekuatan yang mereka miliki.

Rasulullah juga telah mengungkapkan bahwa umat Islam seharusnya mampu saling melengkapi kekurangan yang mereka miliki dan menutupi kekeliruan yang pernah mereka lakukan, sebagaimana haditsnya, Jika seseorang berusaha menutupi aib (dosa) saudaranya di dunia, Allah akan menutupi aib (dosa)nya di akhirat kelak.”[5] Namun jika yang terjadi sebaliknya, kesatuan dan persatuan di antara mereka akan sirna dan kekuatan mereka akan menjadi lemah. Ketika kekuatan umat muslim melemah, kekuatan orang yang kafir kepada Allah akan menjadi kuat. Tak ada seorang muslim pun bersedia bertanggung jawab terhadap hal tersebut, hanya karena ia memenuhi keinginan hawa nafsunya. Sesungguhnya, umat Islam diharapkan mampu mengamalkan kebenaran yang terkandung di dalam Al–Qur`an dengan segala kemampuan terbaik yang mereka miliki. Ia harus menjadi contoh bagi umat muslim lainnya dan mendorong semangat agar mereka hidup sesuai dengan tuntunan Islam. Ini membuktikan bahwa seseorang yang belum berhasil mengatasi kecemburuan dan persaingan yang ada pada dirinya, ia tidak akan mampu memenuhi tanggung jawab ini dengan sebenar-benarnya. Karena itu, ia berbuat sesuatu yang melemahkan kekuatan orang–orang beriman dan menguatkan orang yang ingkar kepada Allah. Sebagai akibatnya, orang seperti ini tidak hanya menjadi contoh buruk bagi teman dan keluarganya, tetapi ia juga memikul kesalahan dan dosa besar. Karena itu, ia seharusnya dengan segera berhenti melakukan kebiasaan seperti itu dan mencontoh akhlaq yang lebih mulia. Hanya dengan begitu, ia mampu mendapatkan keikhlasan dan mencapai tingkatan akhlaq yang diridhai Allah. Sebagaimana yang diungkapkan Badiuzzaman, apa yang pantas bagi seorang muslim adalah “membangun kesatuan yang murni dengan sesama muslim” sesuai dengan ayat yang menyatakan, “Tolong-menolonglah satu sama lainnya dalam kebaikan dan amal saleh,” dan memelihara semangat keikhlasan agar tetap hidup.

Obat yang dibutuhkan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh pertengkaran yang terjadi di antara orang yang beriman adalah untuk membuat seseorang patuh terhadap larangan-larangan Allah. Seperti yang terkandung dalam firman-Nya, ‘… dan janganlah kamu berbantah–bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…,’ (al-Anfaal [8]: 46) dan perintah Allah tentang kehidupan sosial terkandung dalam firman-Nya, ‘… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketaqwaan….” (al–Maa`idah [5]: 2) Seseorang seharusnya menyadari lebih jauh betapa berbahayanya perselisihan di dalam Islam dan alangkah bermanfaatnya perselisihan tersebut bagi orang-orang yang sesat atas orang–orang beriman. Seseorang seharusnya dengan sepenuh hati dan dengan pengorbanan diri bergabung dengan barisan orang–orang beriman, dengan perasaan akan kelemahan dan ketidakmampuan dirinya. Pada akhirnya, seseorang harus melupakan dirinya sendiri, menyingkirkan kemunafikan dan kepura–puraan, serta berpegang teguh pada keikhlasan.”[6]


[1] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalsh an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.

[2] Hadits Bukhari-Muslim dari Nu’man Ibnu Bashir.

[3] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-21.

[4] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.

[5] Hadits sahih Bukhari-Muslim.

[6] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: