Menahan Diri dari Kemunafikan

April 7, 2008 at 7:07 am (islam)

Menahan Diri dari Kemunafikan

Kemunafikan adalah salah satu kecenderungan yang didorong oleh hawa nafsu. Ia bertentangan dengan ketentuan dan aturan yang terdapat dalam Al–Qur`an. Kemunafikan mengandung arti bahwa maksud sebenarnya yang tersembunyi dalam diri seseorang berbeda dengan sifat lahiriahnya. Dengan kata lain, orang tersebut bermuka dua, tidak berkelakuan sesuai dengan yang ia yakini. Jadi, kemunafikan merupakan sifat buruk yang merusak keikhlasan. Kenyataan yang membuktikan bahwa seseorang yang dapat berlaku tidak ikhlas dan melakukan dua sikap yang berbeda dalam lahir-batinnya, menunjukkan bahwa ia sepenuhnya belum memahami arti keimanan serta tidak menghargai kebesaran kekuasaan dan kebijaksanaan Allah.

Allah Maha Menguasai segala sesuatu, Dia Maha Mengetahui sesuatu yang dirahasiakan, Maha Mengetahui sesuatu yang terlintas dalam pikiran manusia, dan Maha Melihat di mana pun mereka berada. Jika seseorang berusaha menyembunyikan perasaan sebenarnya dan berusaha menunjukkan kebalikannya, berarti ia telah melupakan sifat-sifat Allah. Walaupun ia berhasil menyenangkan orang lain yang berada di sekelilingnya melalui perbuatan dan kata–katanya, Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di lubuk hatinya.

Orang yang takut kepada Allah akan menjauhkan diri dari sikap dan perbuatan yang membuat Allah murka. Manusia dapat menyanjung orang lain di dunia ini karena kemunafikannya, namun ia tidak akan pernah mendapatkan kesenangan di akhirat. Harus diingat bahwa kenikmatan yang diraih selama hidup di dunia adalah fana jika dibandingkan dengan kenikmatan yang didapatkan di akhirat. Allah mengingatkan kita tentang kebenaran ini sebagaimana firman-Nya dalam surah at-Taubah,

“… Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (at-Taubah [9]: 38)

Seseorang yang memiliki sifat munafik adalah orang yang bermuka dua dan orang yang sombong. Dengan kehendak Allah, mukmin sejati akan mampu mengetahui tabiat seperti itu. Kenyataan menjelaskan bahwa para rasul Allah diberi pengetahuan yang ditanamkan dalam diri mereka oleh Allah. Mereka mampu mengenali dan mengetahui orang–orang munafik yang menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka pikirkan dengan bersikap munafik serta menampilkan jati diri yang berbeda dari yang sebenarnya. Orang-orang munafik menunjukkan kemampuan bicaranya dan penampilannya. Meskipun orang–orang seperti ini tidak dapat dikenali oleh mukmin sejati, Allah mengetahui kepura–puraan dan ketidaktulusannya. Dia Maha Mendengar setiap ucapan dan kata–kata, dan Dia Maha Melihat setiap tingkah lakunya. Allah menjelaskan lebih lanjut tentang pengetahuan-Nya ini dalam salah satu firman-Nya,

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (ath-Thaghaabun [64]: 4)

Seorang mukmin sejati tidak perlu bersandar pada kemunafikan untuk membuat orang lain mau mengasihi dan menerimanya. Hal ini karena hanya Allahlah yang mampu menanamkan kasih sayang di antara manusia. Tiap-tiap mukmin lazimnya mambantu dan mengasihi mukmin yang berjuang dan berusaha menggapai ridha Allah. Merupakan dasar keyakinan orang–orang beriman untuk mencintai seseorang yang sopan, ikhlas, jujur, dan murni. Memperoleh ridha Allah akhirnya juga akan membawa kita pada keridhaan para mukmin sejati. Perbuatan yang dilakukan semata–mata untuk mendapatkan ridha manusia akan menjadi tidak berguna dalam usaha untuk menggapai ridha Allah.

Karena itulah, seseorang seharusnya tidak mendengarkan hasutan nafsunya. Ia seharusnya menyucikan diri dari segala macam sifat dan pemikiran yang mengarah pada kemunafikan untuk memperoleh keikhlasan.

Meninggalkan Ambisi untuk Memperoleh Kekuasaan dan Jabatan

Penyebab lain yang mencegah manusia dari keinginan menggapai ridha Allah dan berjuang dengan ikhlas demi memperoleh surga adalah kesenangan yang berlebihan akan nilai–nilai kehidupan duniawi, seperti kekuasaan, status sosial dan nama baik. Nilai–nilai duniawi seperti itu sama sekali tidak ada artinya untuk akhirat. Allah memberitahukan bahwa kelebihan manusia ditentukan bukan berdasarkan kekuasaan atau status, melainkan berdasarkan tingkat kebajikannya. Sebagaimana firman-Nya,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki–laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa–bangsa dan bersuku–suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujurat [49]: 13)

Dalam salah satu karyanya, Badiuzzaman Said Nursi menegaskan kenyataan ini,

(Rintangan kedua yang merusak keikhlasan) adalah menyanjung diri sendiri dan mengutamakan bujukan nafsu setan dengan menarik perhatian diri dan perhatian serta sambutan orang lain, yang digerakkan oleh keinginan akan ketenaran, kemasyhuran, dan pangkat atau jabatan. Ini sungguh–sungguh merupakan penyakit hati yang serius, yang membuka peluang menuju kemunafikan dan mementingkan diri sendiri. Hal ini disebut ‘penyekutuan Allah yang tersembunyi’ dan ini merusak keikhlasan.” [1]

Keyakinan bahwa kekuasaan dan jabatan termasuk sebuah kelebihan, adalah tipuan yang lazim terjadi di kalangan orang–orang awam. Siapa pun mukmin sejati yang memahami makna keimanan, ia tidak akan berada pada kecenderungan godaan–godaan hawa nafsunya. Ia bahkan akan mencari kelebihan melalui keikhlasan. Karena itu, orang yang menyucikan jiwanya dari keinginan–keinginan tersebut akan mendapatkan sesuatu yang jauh melebihi apa yang ada di dunia ini. Ia akan dilimpahi ketenaran dan kehormatan sejati. Umat manusia diingatkan akan kenyataan ini dalam salah satu ayat kitab suci Al–Qur`an,

“Jika kamu menjauhi dosa–dosa besar di antara dosa–dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan–kesalahanmu (dosa–dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (an-Nisaa` [4]: 31)

Agar layak mendapatkan tempat mulia tersebut, kita harus memahami kebenaran di bawah ini,

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan–perkataan yang baik dan amal saleh dinaikkan-Nya….” (Faathir [35]: 10)

Allah adalah satu-satunya pemilik kemuliaan. Salah satu cara untuk mendapatkan kemuliaan adalah melakukan amalan–amalan saleh dengan ikhlas.

Dalam karyanya, Badiuzzaman Said Nursi memberikan perhatian khusus pada masalah ini. Ia menyoroti betapa fana kekuasaan duniawi, seperti status dan nama baik, jika dibandingkan dengan tempat mulia yang dapat diperoleh di akhirat. Ia mengutip ayat Allah, Janganlah kamu menukarkan ayat–ayat-Ku dengan harga yang rendah,dan ia menyatakan,

Kita sangat perlu belajar dengan sungguh–sungguh tentang keikhlasan dalam diri kita sendiri. Dengan kata lain, apa yang telah kita capai sejauh ini dalam pengorbanan dan pengabdian kita yang suci akan menjadi bagian yang hilang dan tidak akan bertahan selamanya, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Kita akan membuktikan ancaman keras yang terkandung pada larangan Tuhan, Janganlah kamu menukarkan ayat–ayat-Ku dengan harga yang rendah,” (al-Baqarah [2]: 41) dan perusakan keikhlasan, yang akan mengancam kebahagiaan abadi demi kepentingan yang tiada arti, tiada penting, berbahaya, menyedihkan, mementingkan diri sendiri, menjemukan, perasaan-perasaan yang berdasar pada kemunafikan, dan keuntungan yang tidak berarti. Dan perbuatan-perbuatan tersebut juga akan melanggar hak–hak saudara kita, mengingkari tugas yang ditugaskan oleh Al–Qur`an, dan menjadi tidak hormat terhadap suci dan benarnya keimanan.”[2]

Keinginan untuk mendapatkan status dan kekuasaan mencegah seseorang untuk tidak ikhlas dalam beramal serta menjadikannya tidak jujur. Sebagian orang yang ingin menggapai ridha Allah dan ganjaran surgawi, mungkin juga ingin mendapatkan kemuliaan dan nama baik di dunia ini. Secara tidak sengaja, hal ini akan menjadi penyebab menurunnya amalan-amalan yang dikerjakannya. Setiap mukmin sejati harus memperhatikan peringatan Al–Qur`an ini dan membersihkan jiwanya dari keinginan–keinginan untuk mendapatkan nama baik dan kemuliaan di dunia. Ia harus berusaha untuk menggapai keagungan dan kemuliaan bersama Allah.

Sebaliknya, seseorang akan dilalaikan oleh “persaingan satu sama lainnya untuk saling mengungguli” hingga akhir hayatnya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat, Bermegah–megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (at-Takaatsur [102]: 1-2) Ia hanya akan memahami bahwa ajalnya di akhirat adalah hasil dari menghabiskan tahun demi tahun untuk memenuhi hasrat hawa nafsunya yang sia-sia. Segala daya dan upaya yang dilakukannya tidak akan berguna. Lebih baik bagi seorang mukmin untuk menyucikan diri dari keburukan jiwanya semasih ada waktu untuk memperbaikinya di dunia. Ia akan memperoleh keikhlasan, yakni sebuah tingkatan akhlaq yang diridhai Allah.

Tidak Cemas akan Kekayaan dan Hidup Seseorang

Kecenderungan buruk hawa nafsu adalah cinta yang berlebihan terhadap harta benda dan keindahan jasmani. Karena itu, hawa nafsu akan terus-menerus menyemangati seseorang agar lebih berambisi untuk mendapatkan dua hal tersebut. Akan tetapi, harta benda dan keindahan fisik tidak diciptakan untuk dicintai secara berlebihan, tetapi sebagai ujian bagi manusia dalam kehidupan dunia ini. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran,

“Kamu sungguh–sungguh akan di uji terhadap hartamu dan dirimu….” (Ali Imran [3]: 186)

Allah menjanjikan balasan surga bagi mereka yang lebih suka mengorbankan hartanya demi menggapai ridha Allah daripada terobsesi mengejar harta dunia. Allah menjelaskan kepada umat manusia bahwa mereka sebaiknya bersikap demikian demi memperoleh kebahagiaan dan keberhasilan di akhirat sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang–orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al–Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah [9]: 111)

Karena itu, mukmin sejati dengan hati–hati akan menahan diri untuk mencintai harta dan diri mereka secara berlebihan. Nafsu akan terus-menerus merayu manusia untuk mendapatkan dua hal tersebut. Akan tetapi, seorang mukmin sejati yang sadar dan yakin kepada janji Allah, tidak akan mengikuti kecondongan hawa nafsunya. Dengan demikian, tidak ada yang dapat diraih melalui harta dan usaha pribadi dalam kehidupan dunia jika dibandingkan dengan keberkahan di akhirat. Karena itu, Allah memerintahkan manusia untuk bergembira dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu”.

Manusia ditakdirkan untuk menikmati keberkahan di dunia ini hanya dalam waktu singkat. Pada saat kematian, seseorang tidak hanya akan dipaksa meninggalkan jasadnya, tetapi juga harta yang telah dikumpulkannya selama hidup di dunia. Keberkahan yang dilimpahkan Allah di akhirat adalah makna sebenarnya bagi pencapaian kebahagiaan dan keberhasilan. Badiuzzaman mengutarakan keadaan mereka yang sangat terikat pada harta dan kehidupannya, dan kemudian memahami kagagalannya,

Jadi, dalam tubuh manusia ada banyak emosi. Tiap–tiap bagiannya memiliki dua tingkatan, yang satu merupakan kiasan dan yang lain adalah keadaan sebenarnya. Sebagai contoh, emosi kegelisahan akan masa depan telah ada dalam diri setiap orang. Seseorang yang sangat gelisah akan masa depan, ia melihat bahwa dirinya tidak memiliki apa–apa yang menjaminnya akan meraih masa depan yang ia cemaskan. Juga dalam menghormati pemeliharaan, ada sebuah usaha darinya. Masa depan adalah singkat dan tidak bemanfaat untuk sangat cemas seperti itu. Jadi, ia akan berpaling dari masa depan menuju masa depan di alam baka yang akan berlangsung lama. Bagi yang tidak memperhatikan, ia tidak berusaha ke arah sana.”[3]

Pada karya yang sama, Badiuzzaman Said Nursi mengemukakan kegagalan nafsu manusia akan harta benda dan pribadi mereka sendiri,

Manusia juga menunjukkan ambisi yang kuat akan harta benda dan jabatan, kemudian ia memahami bahwa kekayaan yang telah diamanahkan untuk sementara waktu di bawah kontrolnya adalah fana dan tidak abadi. Ketenaran serta jabatan yang mencelakakan, membahayakan, dan menjerumuskan manusia ke dalam jurang kemunafikan adalah tidak berguna dalam berambisi seperti itu. Ia kemudian berpaling dari hal–hal yang demikian menuju tingkat dan derajat rohani dalam pendekatan diri kepada Allah, yang mengangkatnya ke tingkatan/derajat yang sejati dan pembekalan diri menuju hari kiamat, dan amalan–amalan saleh yang merupakan harta yang sebenarnya. Ambisi metaforis yang merupakan hal buruk diubah menjadi ambisi sejati, sebuah sifat yang ditinggikan.[4]

Jika seseorang cemas akan harta benda dan kehidupannya, tidak mungkin baginya mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang tulus, menundukkan dirinya di hadapan Allah. Nafsu–nafsu yang tersembunyi dalam jiwanya akan mengarahkannya secara sembunyi-sembunyi dan menyebabkannya bertindak demi kepentingan dirinya sendiri daripada berusaha menggapai ridha Allah. Sebagai perumpamaan, ketika ia menemukan seseorang yang membutuhkan, ia lebih suka menyimpan kenikmatannya sendiri daripada menyedekahkan dan membantu orang yang lebih membutuhkan. Namun sebagaimana yang Allah jelaskan pada ayat di bawah ini, yang lebih mewakili keikhlasan adalah rela memberikan atau menyedekahkan hartanya kepada orang lain, sekalipun dengan ini berarti ia tidak akan memiliki apa–apa,

“Dan orang–orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr [59]: 9)

Begitu pula keinginan pribadinya yang akan memalingkan perhatiannya demi menggapai ridha Allah. Allah menjelaskan kepada kita dalam kitab suci Al–Qur`an bahwa pilihan seperti itu hanya akan mendatangkan aib,

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara– saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di Jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (at-Taubah [9]: 24)

Sebagaimana telah diuraikan oleh Allah, kekayaan seseorang tidak akan berguna di akhirat,

“Dan Hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (al-Lail [92]: 11)

Hanyalah mereka yang ikhlas yang akan diganjar dengan keberkahan yang tiada akhir dan kekal,

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (al-Lail [92]: 17-21)

Al–Qur`an menceritakan berbagai contoh keadaan orang–orang yang sangat cemas akan kehidupan dan harta mereka. Dengan demikian, mereka kehilangan keikhlasannya dan tidak sanggup meraih ridha Allah. Ketika Rasulullah saw. mengajak orang-orang untuk berjihad dengan diri mereka demi kepentingan Allah, beberapa di antaranya mengatakan, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama–samamu,” (at-Taubah [9]: 42) sedangkan yang lainnya berkata, “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” (at-Taubah [9]: 81) Karena itu, mereka melebihkan diri mereka sendiri dengan menguraikan alasan–alasan selanjutnya. Sambil mencari-cari alasan, sebagian mereka pergi keluar dengan melafalkan sumpah atas nama Allah untuk menunjukkan bahwa mereka mengatakan yang sesungguhnya. Akan tetapi, Allah menegaskan bahwa Dia mengetahui kebohongan yang mereka lakukan. Mereka telah memberikan jiwa mereka kepada hukuman atas ketidakikhlasannya. Sikap yang dimiliki para mukmin sejati–sebagaimana dilukiskan pada ayat yang dikutip di bawah ini–adalah bahwa yang mewakili keikhlasan sesungguhnya adalah,

“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung.” (at-Taubah [9]: 88)

Orang-orang beriman akan berjihad dengan harta dan dirinya demi mendapatkan ridha Allah. Pada salah satu ayat-Nya, Allah mengabarkan berita gembira bagi orang-orang beriman bahwa mereka yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka dan mereka yang mengakui adanya kepentingan besar demi ridha Allah, akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Tuhannya. Sebagaimana dinyatakan dalam surah an-Nisaa`,

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak memiliki uzur dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala besar.” (an-Nisaa` [4]: 95)

Kekuatan Orang Beriman Berasal dari Keikhlasan yang Mereka Miliki

Secara umum, persekutuan orang-orang yang kafir kepada Allah dan hari akhirat dilandaskan pada sebuah kepentingan, yakni keterikatan mereka pada harta benda dan pengharapan atas balasan di dunia. Melalui persekutuan tersebut, mereka menghasilkan sebuah kesepakatan demi terpenuhinya kepentingan bersama. Tiap-tiap kelompok saling mendukung satu sama lain. Dengan demikian, mereka berharap dapat memperoleh keuntungan satu dengan yang lainnya. Tanpa perlu disebutkan, mereka yang membentuk persatuan seperti itu mengetahui bahwa persekutuan mereka tidak dilandaskan pada adanya rasa saling memercayai satu sama lainnya dan tidak didasarkan pada persahabatan, dan mereka pun mengetahui bahwa keikutsertaannya pada kelompok tersebut bersyarat. Ketika salah satu kelompok tidak lagi memberikan keuntungan bagi yang lainnya, persekutuan itu dihentikan. Kelompok yang menentang akan bersikap acuh tak acuh terhadap kebutuhan kelompok lawannya yang berada dalam kesulitan. Karena persekutuan seperti ini hanya meningkat kekuatannya melalui meningkatnya jumlah dan perolehan keuntungan duniawi belaka, persekutuan seperti ini akan dapat terpecah-belah dan hancur sesegera mungkin setelah perolehan keuntungan duniawi tersebut sirna. Sebagaimana Allah jelaskan kepada umat manusia di dalam Al-Qur`an, nurani orang–orang yang kafir kepada Allah tidak condong kepada yang lainnya, meskipun dari luar mereka terlihatan sebagai satu kesatuan,

“… Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (al-Hasyr [59]: 14)

Untuk alasan inilah, persatuan yang dibentuk di antara orang yang kafir terhadap Allah di dunia ini selalu rawan akan perpecahan. Hanya ada satu hal yang mampu menjamin terjalinnya kesatuan sejati, yakni persahabatan dan persatuan di antara orang–orang yang memiliki keyakinan. Ketika orang-orang yang memiliki keimanan, yang takut akan hari pembalasan, bersatu di dunia ini, mereka meletakkan dasar–dasar persatuan dakwah yang akan kekal di akhirat dan saling mangasihi serta saling menolong satu sama lainnya semata–semata hanya karena Allah. Mereka bersatu dengan niat ikhlas tanpa mengharapkan keuntungan apa pun. Persatuan ini bermula dari adanya rasanya cinta dan takut kepada Allah yang merupakan satu–satunya sumber terbentuknya persatuan tersebut. Karena itu, tidaklah mungkin persatuan tersebut dapat dimusnahkan kecuali jika Allah berkehendak demikian. Orang-orang beriman membentuk sebuah kekuatan yang menyerupai “dinding yang kokoh” yang tidak dapat ditembus. Sebagaimana kutipan ayat surah ash-Shaff di bawah ini,

“Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (ash-Shaff [61]: 4)

Mereka yang memiliki keimanan, yang ikhlas, diberikan kebulatan tekad serta semangat untuk menang walaupun musuh berjumlah miliaran. Hal ini dinyatakan dalam salah satu ayat-Nya,

“… Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.’” (al-Baqarah [2]: 249)

Mereka mendapatkan bantuan Allah dengan selalu bersikap ikhlas. Karena Allah adalah Yang Mahaperkasa (Al-Aziz), mereka pada akhirnya berhasil menang. Mereka sadar dan paham akan rahasia yang dijelaskan dalam ayat-ayat Allah, sebagaimana firman-Nya, “… padahal kamulah orang–orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang–orang yang beriman.” (Ali Imran [3]: 139) Hasilnya, mereka menjadi orang-orang yang luar biasa ulet dan kuat, yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan perselisihan, pertentangan, dan kecurigaan yang diciptakan oleh pihak asing.

Setiap mereka yang membentuk kesatuan karena ketakutannya kepada Allah dan penyerahan dirinya yang tanpa syarat kepada ayat-ayat yang terkandung di dalam Al-Qur`an–sebagaimana mereka berjuang semata-mata demi meraih ridha Allah dan tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah–tiap– tiap mereka adalah tentara Allah.

Keikhlasan Mereka adalah Penyebab

Timbulnya Solidaritas yang Mereka Miliki

Sebagaimana mereka mencari ridha Allah dengan keikhlasan yang terpatri di dalam jiwa, mereka tidak pernah dihadapkan pada kekacauan, perselisihan, atau pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Karena firman Allah adalah satu dan ayat–ayat yang terkandung dalam Al-Qur`an adalah suci, di mana seluruh mukmin yang taat dengan tanpa syarat kepada Al-Qur`an dan beramal hanya demi menggapai ridha Allah akan memberikan keharmonisan dan rasa tenteram. Sebagaimana semua orang beriman patuh kepada Allah dan Al-Qur`an dengan ikhlas, segala urusannya akan dimudahkan tanpa adanya perpecahan. Ketika persoalan–persoalan bermunculan karena kepentingan dirinya, tiap–tiap dari mereka senang akan kebaikan orang lain dan selalu mengutamakan kepentingan agama. Mereka mendambakan kebaikan yang dimiliki saudaranya, agar dapat menjadikannya contoh bagi dirinya, karena rasa solidaritas yang tinggi, kesatuan, dan adanya saling membantu yang terbentuk di antara mereka. Tidaklah selalu dibutuhkan, orang mukmin dikumpulkan bersama dalam rangka membentuk kesatuan tersebut. Yang menjadi hal penting bagi mukmin sejati adalah membentuk solidaritas dakwah dan moral yang kuat, walaupun masing-masing mereka terpisah jarak satu sama lainnya, berbeda bahasa, dan berbeda di negara mana mereka tinggal.

Sebagaimana orang–orang yang bertujuan menjalin persahabatan yang kekal di akhirat, mereka menyayangi satu sama lainnya dengan cinta, penghormatan, dan kesetiaan yang mendalam. Karena itu, mereka tidak pernah menginginkan adanya persaingan, perselisihan, dan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Meskipun mereka dihadapkan pada permasalahan dan penderitaan, mereka tidak terhanyut oleh kecurigaan, kelemahan, dan hilangnya kebulatan tekad, dikarenakan ketakutannya kepada Allah dan keikhlasannya. Bilamana salah seorang di antara mereka melakukan kekeliruan, yang lainnya–dengan keyakinan dan keikhlasannya–membimbing saudaranya itu ke jalan yang benar. Sebagaimana halnya mereka yang dengan terus-menerus mengumpulkan kebaikan dan mengahalau keburukan, keyakinannya akan bertambah kuat. Dengan demikian, keikhlasan dan kekuatan mereka akan terus meningkat. Badiuzzaman Said Nursi merujuk kepada kekuatan luar biasa dari keikhlasan orang mukmin yang berbagi tujuan, usaha, dan pengorbanan yang sama, dengan memberikan perumpamaan,

Sama halnya dengan tangan seorang manusia yang tidak dapat melebihi anggota tubuh yang lain, bisakah salah satu matanya mengecam yang lain, ataupun bisakah lidahnya menyatakan keberatan atas pendengarannya, ataupun bisakah hatinya melihat kesalahan jiwanya? Tiap-tiap pancaindranya memperbaiki kekurangan yang lain, menyelubungi kesalahan mereka, memenuhi kebutuhan mereka, dan mengulurkan tangan menyelesaikan tugas mereka. Sebaliknya, kehidupan manusia akan terpadamkan, semangatnya akan hilang lenyap, dan tubuhnya dihamburkan. Sama halnya seperti onderdil mesin yang berada di sebuah pabrik tidak dapat berlomba antara satu dan yang lainnya dalam sebuah persaingan. Lebih didahulukan daripada yang lain atau mendominasi satu dengan yang lainnya. Mereka tidak dapat mengawasi kesalahan yang lain lalu mengecamnya, membinasakan keinginan yang lain untuk bekerja lantas menyebabkannya jadi tidak berjalan. Mereka lebih baik menolong pergerakan antara satu dan yang lainnya dengan segala dayanya dalam rangka meraih tujuan yang sama. Mereka bergerak ke arah tujuan penciptaannya dalam solidaritas dan kesatuan sejati. Bahkan serangan yang paling meremehkan atau hasrat untuk campur tangan, akan menjadikan pabrik tersebut berada dalam kekacauan, membuatknya tidak memiliki hasil dan produksi apa pun. Dengan demikian, sang pemilik pabrik merobohkannya secara keseluruhan pabrik tersebut. Jadi, wahai siswa Risalah an-Nur dan hamba Al-Qur`an, kau dan aku adalah anggota kumpulan kepribadian seperti itu. Orang yang berjasa walaupun sedikit adalah orang yang sempurna. Kita bisa dikatakan adalah seperti bagian–bagian dari mesin tersebut yang menghasilkan kebahagiaan abadi di dalam kehidupan abadi. Kita adalah tangan yang bekerja pada kapal yang akan mendaratkan umat Rasulullah di alam yang damai, di pantai keselamatan.”[5]

Perumpamaan yang diberikan Badiuzzaman ini adalah penting dalam menolong manusia memahami makna solidaritas dan persatuan, yang dibutuhkan di antara mukmin sejati. Sebagaimana mereka disucikan dari segala jenis perasaan yang kemungkinan merusak keikhlasannya, mereka meraih sebuah kekuatan moral yang tak terkalahkan, menyerupai roda–roda pabrik yang berkumpul menjadi satu untuk membentuk kekuatan yang sungguh besar.

Pada karyanya yang lain, Said Nursi menceritakan bagaimana mukmin sejati mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Mereka sadar dan paham akan rahasia keikhlasan. Ia menjelaskan perumpamaannya sebagai berikut.

“Jadi, kita sangat membutuhkan solidaritas dan kesatuan sejati, yang diperoleh melalui keikhlasan-karena rahasia keikhlasan akan menyelamatkan 1.111 orang melalui empat orang saja. Sungguh, kita berusaha mencapainya.

Benar. Jika 3 alif tidak bersatu, nilainya hanya 3, sedangkan jika mereka bersatu, melalui rahasia jumlah, 3 alif itu akan bernilai 1.111. Jika 4 kali 4 tetap terpisah, nilainya 16, tetapi melalui rahasia persaudaraan, kesamaan tujuan, dan tugas bersama, kesatuan mereka akan muncul bahu-membahu. Mereka memiliki kekuatan dan bernilai 4.444. Seperti halnya sejumlah peristiwa sejarah yang membuktikan bahwa kekuatan moral dan nilai 16 saudara yang mengorbankan dirinya lebih besar dari 4.000.

Alasan misteri ini adalah bahwa setiap anggota kesatuan sejati yang ikhlas dapat juga melihat dengan mata saudaranya dan mendengar dengan telinganya. Sebagaimana jika setiap orang dari 10 kesatuan sejati memiliki nilai dan kemampuan melihat dengan 20 mata, berpikir dengan 10 pikiran, mendengar dengan 20 telinga, dan bekerja dengan 20 tangan.”[6]

Apa yang Dihasilkan dari Keikhlasan

Keikhlasan adalah kekuatan besar yang dilimpahkan kepada mukmin sejati untuk memungkinkan mereka menghasilkan keberkahan abadi, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana dikatakan Badiuzzaman, Merupakan prinsip yang terpenting dalam amalan-amalan yang berkenaan dengan keterangan-keterangan Akhirat. Ini adalah kekuatan terbesar dan terkuat dari dukungan dan kemampuan yang tertinggi serta ibadah yang tersuci,” tidak ada keraguan lagi bahwa keberkahan terbesar yang dilimpahkan kepada manusia, baik di dunia maupun di hari kemudian, adalah meraih ridha Allah.

Rahasia untuk mencapai ridha Allah dan penerimaan yang baik, ada dalam keikhlasan. Allah memberikan kabar gembira bagi mereka yang takut kepada Allah bahwasanya balasan termulia di akhirat adalah keridhaan Allah, sebagaimana firman-Nya,

“Katakanlah, ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang–orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah; dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran [3]: 15)

Ini merupakan tujuan akhir dari usaha mukmin sejati selama hidup di dunia. Dalam banyak ayat-Nya, Allah memberi kegembiraan bagi mukmin yang ikhlas, yang beriman kepada Allah dan hari pembalasan, dan yang melakukan amalan saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mendapatkan syafa’at dari rasulullah saw., mereka itulah orang-orang yang akhirnya akan memperoleh ridha Allah dan mendapatkan kenikmatan serta kebahagiaan di surga, sebagaimana firman-Nya,

“Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak, Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)Nya; sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah [9]: 99-100)

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat.” (Qaaf [50]: 31-33)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” (an-Nisaa` [4]: 124 )

Keindahan Hidup di Dunia

Sebagai tambahan bagi keberkahan hidup yang abadi, Allah menganugerahi mukmin yang ikhlas dengan pahala yang besar di dunia. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat Al-Qur`an berikut ini, Allah membimbing orang–orang yang bertobat kepada-Nya menuju jalan yang lurus.

“… Sesungguhnya, Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya.” (ar-Ra’d [13]: 27)

Dalam surah lain, Alah berfirman bahwa Dia akan membantu dan menolong mukmin yang ikhlas,

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maa`idah [5]: 16)

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur`an, Allah juga melimpahkan rahmat yang tak terhitung kepada mukmin yang ikhlas selama hidupnya di dunia. Ia memelihara mereka dari kesengsaraan, kesulitan, dan kegagalan hidup dari orang-orang yang kafir kepada Allah. Ia membolehkan mereka untuk menempuh hidup yang mulia,

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl [16]: 97)

Seseorang yang bertobat kepada Allah dengan seluruh kerendahan hati, ia akan dijauhkan dari segala permasalahan dan kesulitan hidup di dunia. Ia dapat menempuh hidupnya dengan penuh kedamaian dan dengan penuh kepercayaan karena ia takut kepada Allah. Selama ia tidak takut pada kecaman orang lain, ia tidak perlu khawatir terhadap urusan dunia. Selama ia hanya ingin memperoleh ridha Allah, tak seorang pun dapat mengecewakan atau menyengsarakannya. Karena ia ingin mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat, ia tidak terobsesi pada harta benda dan kekayaan dunia meski kerugian atau keuntungan akan harta membuatnya khawatir, tetapi ia selalu tunduk, percaya, yakin, murah hati, kasih sayang, sabar dan penuh kesederhanaan.

Dalam amalan yang dilakukan dengan ikhlas, hanya keridhaan Allahlah yang menjadi tujuan utama, bukan untuk mendapatkan ridha orang lain atau penghargaan dunia, atau untuk memenuhi hasrat dan ambisi yang harus dikesampingkan. Dengan demikian, hasil yang didapatkan diharapkan akan selalu membawanya kepada keberhasilan. Allah menegaskan kepada orang-orang beriman bahwa siapa saja yang tidak menyekutukan Allah, yang bertobat kepadanya dengan tulus, yang menyucikan diri dari keinginannya untuk mendapatkan ridha manusia dan penghargaan duniawi, maka ia termasuk golongan hamba–hamba-Nya yang beruntung. Sebagaimana firman Allah yang berhubungan dengan hal tersebut,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nuur [24]: 55)


[1] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-21

[2] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-21.

[3] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan Surat, Surat Ke-9

[4] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan Surat, Surat Ke-9

[5] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20

[6] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulah Risalah an- Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: