ISLAM AUTENTIK MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

April 7, 2008 at 7:30 am (islam)

ISLAM AUTENTIK MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

Posted on January 1st, 2008 in 02 Sajian Utama by redaksi

Prestasi Nabi Muhammad yang tercatat dengan tinta emas sejarah adalah; dengan melaksanakan ajaran Islam yang autentik mampu mengubah masyarakat jahiliyah yang biadab menjadi masyarakat Islam yang beradab. Proses dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat Islam yang beradab ini memerlukan waktu 23 tahun. Tidak berlangsung secara instan. Ada tahapan-tahapan yang memungkinkan ajaran dan nilai-nilai Islam itu dicerna dan diamalkan oleh pemeluknya. Kemudian, hasilnya nyata. Hadirlah masyarakat yang ditandai oleh kemakmuran dan keadilan, ditandai oleh dijunjung tingginya nilai-nilai kemanusiaan. Tauhid dipegang teguh yang perwujudannya diperkaya dengan berbagai amal individual, amal sosial dan amal kultural yang optimal. Iman dan amal shalih menyatu, iman pun menjadi produktif bagi kehidupan.

Inilah yang mampu mengubah bangsa  Arab yang semula tidak diperhitungkan,
ketika mengamalkan ajaran Islam autentik menjadi bangsa yang diperhitungkan oleh dunia global pada waktu itu.
Proses internalisasi ajaran dan nilai-nilai Islam ini berlangsung dinamis dan interaktif. Dalam tarikh Islam dan sirah Nabi tercatat bagaimana upaya mewujudkan Islam autentik itu sangat kaya dengan dialog yang juga kaya makna. Tantangan riil dan aktual pada zaman itu mampu dijawab oleh ajaran Islam autentik, Islam yang benar-benar asli, berasal dari Allah SwT dan sampai kepada umat manusia dengan perantaraan Nabi Muhammad saw. Para sahabat Nabi yang berasal dari berbagai suku dan bangsa yang memiliki karakter berbeda dapat berbaur dan menyatu dengan kehidupan yang diwarnai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam ini. Berkat pengamalan Islam yang autentik pula, masyarakat Islam pada waktu itu dapat memayungi dan mengayomi bermacam-macam komunitas dan agama lain lewat kesepakatan damai yang kemudian dikenal sebagai Piagam Madinah. Sebuah piagam perdamaian monumental yang dibuat ratusan tahun sebelum Magna Charta dirumuskan di Inggris.
Sepeninggal Nabi Muhammad, di bawah kepemimpinan empat sahabat besar bergantian yang dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin upaya untuk mengamalkan Islam autentik terus dilakukan. Pada saat itu wilayah pemeluk Islam makin meluas dan persoalan yang dihadapi Khulafaur Rasyidin makin rumit. Empat sahabat besar yang memimpin umat secara Khalifah (dengan baiat oleh umat) itu menghadapi persoalan baru yang pada zaman kehidupan Nabi belum ditemui. Proses ijtihad pun dimulai, agar Islam autentik  tetap mampu menjawab tantangan zaman yang selalu baru.
Begitulah, pasca era Khulafaur Rasyidin yang dikenal dengan munculnya era Daulah (Dinasti Kerajaan) Islamiyah, diawali dengan Dinasti Bani Umayah, Bani Abasiyah, Bani Umayah di Andalusia, dan Bani-bani lain di Persia, India, Asia Tengah, Asia Tenggara, pun umat Islam tetap berupaya mengamalkan Islam autentik. Tentu masalahnya menjadi amat rumit ketika spirit Islam autentik ini kemudian menjadi kabur di bawah pemerintahan para raja dinasti para Bani itu, sehingga ketika zaman besar terbaru muncul yang disebut sebagai era modern, umat Islam yang ratusan tahun berjaya kemudian berada di bawah penjajahan bangsa Barat yang Kristen. Para pejuang Islam yang berusaha menggali spirit Islam autentik mencoba mengubah instrumen perjuangannya dalam bentuk yang lebih tepat. Misalnya, apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah dengan mempergunakan instrumen budaya berupa lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, lembaga penerbitan dan lembaga pelayanan sosial. Islam autentik berakar pada tauhid dan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah pun diperkaya dengan tafsir aktual dan  ijtihad aktual sehingga terbukti dapat mewarnai kehidupan umat dan bangsa Indonesia dan bangsa lain sekarang ini.
Pilihan pada Islam autentik yang kaya makna, kaya amal, kaya ilmu dan kaya tanda inilah yang agaknya perlu senantiasa dilakukan sekarang ini. Ketika zaman makin bergerak cepat dan persoalan makin rumit dan mengglobal, kita tidak cukup mengandalkan pada pemahaman agama yang miskin makna, miskin ilmu, miskin amal dan miskin tanda. (Bahan dan tulisan: tof)

TANTANGAN DAKWAH

Posted on December 23rd, 2007 in 02 Sajian Utama by redaksi

Tantangan Dakwah di tahun 2008 akan makin berat. Ini dimungkinkan karena, tahun 2008 merupakan ‘tahun pemanasan politik’, dimana semua kekuatan politik sudah memasang kuda-kuda dan menggelar jaring-jaring politiknya agar dalam pemilu 2009 dapat memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Dan seperti biasa, demi meraup kemenangan politik bagi partai atau kelompoknya, segala macam cara dan manuver akan ditempuh. Tujuan menjadi penting dan utama, sementara cara apa pun cenderung boleh dan halal dilakukan. Misalnya, teknik kamuflase, teknik metamorfose, teknik manipulasi dan teknik merayu yang paling gombal pun menjadi sah untuk dipergunakan.
Nah, kalau ini sampai mengimbas ke wilayah dakwah, dimana dakwah dipolitisasi sejadi-jadinya atau politik diberi wajah dakwah sedakwah-dakwahnya sungguh bisa membuat masyarakat dan umat betul-betul berposisi sebagai obyek politik. Bias-bias politik dalam wilayah, lengkap dengan segala limbah-limbah politiknya akan membuat gerak dakwah dan langkah dakwah kita menjadi kurang mulus. Lebih-lebih gerak dakwah dan langkah dakwah yang berjangka panjang, dapat saja dilindas oleh manuver dan kepentingan politik berjangka amat pendek.
Dalam kondisi seperti ini bisakah dakwah di tahun 2008 justru menjadi faktor penyembuh dari berbagai penyakit umat seperti kecenderungan terpecah belah, kecenderungan untuk merasa benar sendiri, dan kecenderungan untuk mencurigai dan memposisikan orang lain sebagai lawan? Bisakah dakwah di tahun 2008 justru menjadi faktor integratif, faktor konstruktif dan faktor kontributif yang positif bagi kepentingan umat dan bangsa? (Bahan dan tulisan: tof)

Aliran Sesat Berkembang di Indonesia, Mengapa Bisa Terjadi?

Posted on December 8th, 2007 in 02 Sajian Utama by redaksi

Baru-baru ini masyarakat kembali dihebohkan dengan munculnya berbagai aliran atau sekte keagamaan yang sangat berbeda dalam ajaran dan paham keagamaannya dengan ajaran Islam selama ini.

Jika sebelumnya masyarakat dihebohkan dengan munculnya pengikut Lia Eden yang meyakini bahwa dirinya sebagai Malaikat Jibril, kini muncul lagi aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang meyakini bahwa pemimpinnya Ahmad Mussadeq adalah sebagai Nabi setelah Muhammad saw. Sehingga aliran ini tidak hanya mengubah hal-hal yang berkaitan dengan furu’iyah dalam keagamaan, namun juga mengubah aspek yang berkaitan dengan akidah, seperti mengubah bacaan syahadat atau tauhid. Oleh karenanya, Majelis Ulama Indonesia dengan tegas menyatakan bahwa aliran keagamaan tersebut merupakan aliran sesat dan menyesatkan.
Keberadaan dua aliran tersebut memang sudah ditangani oleh pihak kejaksaan maupun kepolisian, akan tetapi walaupun demikian, bukan berarti fenomena keberadaan aliran sesat di Indonesia sudah selesai sampai di sana. Sebab sebagaimana hasil temuan Majelis Ulama Indonesia (MUI), terdapat sembilan daftar aliran keagamaan yang dikategorikan sebagai aliran sesat di Indonesia. Di antaranya menurut Ketua MUI Ihwan Syam adalah Islam Jamaah, Ahmadiyah, Ikrar Sunah, Qur’an Suci, Shalat dua Bahasa. Lia Eden. “Jadi data ini sudah terdapat sejak tahun 1989 hingga saat ini, tapi memang ada juga yang lainnya, tapi bergerak di tingkat lokal,” tuturnya.
Senada dengan itu, Hedi Muhammad Koordinator Aliansi Umat Islam (ALUMI) menyebutkan keberadaan aliran sesat di Indonesia cukup banyak dan bahkan sudah berlangsung lama. “ kami melihat, dari hasil penyelidikan ALUMI terhadap kemunculan aliran sesat ini sudah mulai berlangsung sejak tahun 1980 sampai saat sekarang, jumlahnya sendiri sudah mencapai 250 aliran”, ungkapnya. Kemunculan aliran sesat ini cukup terasa ketika era reformasi saat sekarang ini yang membuka pintu kebebasan begitu longgar. Sehingga dengan mudah setiap orang untuk membentuk aliran kepercayaan yang diyakini. KH.Hasyim Muzadi, Ketua PBNU sendiri juga menemui data yang serupa, menurutnya sejak tahun 2001 hingga tahun 2007, sedikitnya terdapat 250 aliran sesat yang berkembang di Indonesia. Sebanyak 50 di antaranya tumbuh subur di Jawa Barat.
Jika dirunut secara historis, keberadaan aliran sesat ini memang sudah ada sejak dulunya, bahkan menurut Tarmidzi Taher, mantan Menteri Agama RI menyebutkan sejarah Islam sendiri pernah mencatat adanya aliran sesat ini yang menganggap Muhammad bukanlah sebagai Nabi terakhir. “ Ajaran sesat dalam sejarah Islam sudah lama ada. Bahkan sejarah Islam juga pernah mencatat ada orang yang mengaku nabi sesudah Nabi Muhammad saw. Ini berkembang di zaman Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sejarah Islam sebelum khalifah-khalifah itu juga sudah ada orang yang membuat masjid, tetapi menggunakan masjid itu untuk memecah-belah umat. Bahkan di zaman saya menjadi Menteri Agama, sudah ada aliran-aliran sesat seperti itu,” ungkapnya. Jadi keberadaan aliran maupun sekte keagamaan yang dinilai sesat ini bukanlah hal yang baru, melainkan sudah menjadi isu laten sejak masa perkembangan Islam sendiri sampai saat sekarang.

Akar Persoalan
Kemunculan aliran a
tau sekte keagamaan yang dikategorikan sebagai aliran sesat tersebut di Indonesia tentunya bukan tanpa sebab. Prof. Dr. Sunyoto Usman, mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM melihat kemunculan aliran sesat dalam Islam ini merupakan salah satu wujud kesalahan ulama. “Munculnya aliran agama sesat ini merupakan bentuk ketidakpuasan umat terhadap pemimpin agama atau ulama. Karena para kiai sepuh zaman sekarang ini kan banyak sibuk dengan urusan politik. Kebutuhan umat untuk berdiskusi tentang agama, tidak terpenuhi dan digantikan dengan televisi atau majalah,” ujar sosilog UGM ini.
Sementara televisi maupun majalah tidak sepenuhnya mampu menggantikan peran ulama. Akhirnya umat berada pada kondisi krisis teladan. “Tidak ada seseorang yang bisa menjadi panutan. Tentunya dalam situasi seperti ini sangat mudah dimasuki konstruksi pemikiran yang nyeleneh. Tanpa ada rasionalisasi yang panjang, mereka mengikuti ajaran nyleneh itu,” tambahnya.
Apalagi secara sosiologis, masyarakat Indonesia tergolong masyarakat yang masih banyak berasal dari keluarga miskin. Sedangkan faktor kemiskinan ini dalam koteks sosiologis merupakan unsur yang memberi peluang akan munculnya suatu kondisi yang negatif, seperti kemunculan aliran sesat tersebut. Oleh karenanya, Tarmidzi Taher ketika diwawancari melihat berkembangnya aliran sesat ini merupakan salah satu akibat dari faktor kemiskinan itu.
Sebab setiap orang yang berada di tengah kondisi ketidakpastian, tekanan hidup yang kuat, kecemasan, keterasingan dan keputusasaan dalam memandang masa depan, sulit untuk berpikir panjang dan rasional. Pilihan-pilihan yang diambil pun akan cenderung instan dan tanpa pertimbangan. Maka banyaknya masyarakat yang masuk menjadi pengikut aliran sesat ini, merupakan imbas atas kondisi yang dialami seperti demikian itu. Komarudin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, menyebutkan faktor pemicu kemunculan aliran sesat ini sangat multifaktor. “saya menilai selain adanya problem psikiatrik dan psikologis dalam diri seseorang, yang tidak kalah pentingnya adalah menyangkut masalah ekonomi, ketidakadilan, ketidakseimbangan sosial, pendidikan, dan kultural,” ungkapnya.
Senada dengan Komarudin Hidayat, menurut M. Ali Haidar dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyebutkan kemunculan aliran sesat ini akibat dari kurangnya peran negara dalam memfasilitasi berbagai kebutuhan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun keadilan. “Menurut beberapa teori sosial munculnya kelompok aliran sesat itu pada umumnya disebabkan oleh sekelompok masyarakat yang merasa didzalimi pemerintah sebagai pengatur negara yang tidak memberi berbagai kemudahan untuk memperoleh hak-hak mereka, sehingga mereka membentuk kelompok sendiri,” kata Haidar.
Oleh karenanya, Haidar bisa merasa optimistis, kelompok-kelompok itu akan berkurang jumlahnya bila kesenjangan sosial dapat diatasi dengan memberikan berbagai kemudahan masyarakat memperoleh hak-hak hidup mereka secara adil, “ kalau ini tidak dilakukan, besar kemungkinan sekte-sekte keagamaan yang demikian terus bermunculan di tanah air kita,” tambahnya.

Ragam Motif Aliran
Dengan beragamnya akar atau latar belakang kemunculan aliran atau sekte keagamaan yang dipandang sesat tersebut, menunjukkan beragamnya tujuan maupun orientasi mereka. Sebagian kalangan memang ada yang menyebutkan sebagai bentuk keresahan spritual individu tertentu, sehingga aliran yang muncul tersebut sebagai alternatif jawaban. Bagi mereka yang berada dalam tekanan ekonomi, ketidakpastian hidup, kemunculan aliran sesat dijadikan sebagai alat penenang untuk menjawab atau mengobati dalam waktu sementara kondisi labil yang dialami.
Akan tetapi yang lebih radikal, melihat motif kemunculan aliran sesat ini juga diduga sebagai permainan dan skenario pihak tertentu untuk menghancurkan NKRI atau agama Islam. Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Achmad Satori Ismail, salah seorang pengurus MUI pusat, menurutnya setelah MUI melakukan survei, ternyata aliran sesat itu merupakan skenario asing. “Kesimpulan MUI yang demikian itu diperoleh dari temuan adanya pemimpin aliran yang tidak dapat membaca Al-Qur’an. Kami heran, lalu kami tanya tentang pengetahuan pemimpin itu tentang Islam dan siapa yang membayarnya untuk menyebarkan aliran sesat, dia menyebut sebuah negara, Lantas, apa target dari skenario itu? Skenario itu dirancang untuk merusak NKRI,” tutur Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu.
Menanggapi adanya pihak asing dalam keterlibatan munculnya aliran sesat ini juga ditanggapi oleh Tarmidzi Taher, menurutnya adanya keterlibatan pihak asing atau intelijen dalam fenomena aliran sesat ini bisa saja terjadi. “Dunia ini kan ibarat gloal village, kita hidup, di mana suatu negara bisa mengintervensi negara lain melalui aparat-aparat intelijen, melalui penggunaan-penggunaan ekonomi. Cuma, kita harus punya bukti-bukti, dan ini tugas aparat keamanan kita,” ungkapnya.
Untuk itu  para ulama maupun tokoh agama, perlu kembali memberikan perhatian lebih terhadap umat. Karena banyak mereka kadangkala yang kurang tersentuh oleh para tokoh agama. Para tokoh agama, bisa memberikan pemahaman keagamaan yang lebih mendalam agar masyarakat bisa terhindar dari kriteria kesesatan dalam beragama sebagaimana yang difatwakan MUI tersebut.l Bahan: Berbagai sumber, Tulisan: Den

ADVOKASI MODEL AL-MA’UN BAGI PETANI

Posted on November 8th, 2007 in 02 Sajian Utama by redaksi

Para petani Indonesia selalu berada pada posisi sebagai korban kebijakan negara. Kebijakan negara kolonial Belanda yang berkolaborasi dengan elit kerajaan lokal mengarahkan para petani agar menanam tanaman yang laku di pasar global. Ini bukan demi kesejahteraan petani, tetapi demi penggelembungan pundi-pundi pemodal asing Belanda dan negara kolonial itu sendiri. Demikian juga ketika pabrik gula didirikan di banyak titik pulau Jawa. Yang mengenyam kemakmuran adalah orang asing dan segelintir elit lokal yang menjadi antek mereka. Masyarakat petani tetap sengsara sampai-sampai mereka melakukan perlawanan maksimum, membakari tanaman tebu.
Kasus semacam ini terus berulang-ulang sampai hari ini. Menjadi petani identik menjadi orang rugi. Apa yang disebut sebagai revolusi hijau hanya menghasilkan kemelaratan dan ketergantungan. Petani menjadi tidak bisa mandiri, bahkan hanya untuk memilih jenis tanaman padi, memilih pupuk, memilih benih dan memilih pola tanam saja mereka nyaris tidak bisa. Semua sudah diseragamkan oleh negara. Barangsiapa menyimpang dan punya inisiatif alternatif tanamannya bakal dibabat oleh aparat keamanan. Kasus ini banyak terjadi di zaman Orde Baru. Setelah itu dengan kebijakan negara untuk mengimpor beras dan produk pertanian lain justru menguntungkan negara lain dan hampir melumpuhkan para petani dalam negeri. Perubahan di perdagangan global untuk produk pertanian sering membingungkan para petani. Petani merasa tanpa pelindung. Mereka marah diam-diam dan melakukan protes.Banyak petani menebangi tanaman cengkeh atau terpaksa menelan kepahitan ketika kebun karetnya dibakar orang agar kemudian dapat dijadikan area penanaman sawit oleh pemodal besar. Ada petani yang marah membuang hasil pertanian dan menginjak-injaknya di jalan raya. Dalam kondisi seperti ini negara tetap memalingkan muka dari petani. Para petani yang telah dikalahkan dan dipurukkan nasibnya selama berabad-abad menjadi makhluk tanpa pembela.
Pada kondisi seperti ini, advokasi model Al-Ma’un perlu segera dilakukan. Muhammadiyah sebagai bagian dari kekuatan masyarakat perlu tampil melakukan pembelaan terhadap petani. Dan sebelum melakukan pembelaan, agaknya pemetaan masalah perlu dilakukan terlebih dahulu. Ini untuk menentukan langkah strategis dan langkah sinergis apa yang tepat. Sebab di lapangan terbukti, pemberdayaan petani secara parsial tetap tidak dapat mengubah posisi petani sebagai korban kebijakan negara. Diperlukan pemberdayaan yang sinergis, mulai dari hulu sampai ke hilir yang menyangkut perikehidupan bertani itu sendiri. Pendekatan makro dan mikro, pendekatan kultural dan struktural dengan mengembangkan semua potensi menjadi kegiatan aktualisasi berupa aksi-aksi pemberdayaan yang mendasar, efektif dan berjangka panjang. Lantas bagaimana semua ini dapat dilakukan oleh Muhammadiyah bersama masyarakat petani itu sendiri? (Bahan dan tulisan: tof).

LANGKAH NYATA PENEGUHAN DAN PENCERAHAN

Posted on October 19th, 2007 in 02 Sajian Utama by redaksi

Setelah Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, Muhammadiyah melihat persoalan internal dan eksternal yang dihadapi semakin rumit dan menantang. Diperlukan stategi dan langkah jitu untuk mengatasi. Juga diperlukan keterlibatan yang penuh dari segenap aktivis Muhammadiyah di semua level kepemimpinan, dan jaringan keanggotaan. Rumusan langkah jitu, sebagaimana dihasilkan dalam Tanwir pertama lalu, secara sederhana disebut sebagai langkah peneguhan dan pencerahan, yang ditujukan untuk kemajuan bangsa.
Langkah peneguhan (ke dalam) dan pencerahan (ke luar) yang dilakukan Muhammadiyah membutuhkan dukungan konkret dari semua aktivis persyarikatan. Untuk ini ada beberapa hal yang terlebih dahulu dipahami dan dijadikan rujukan. Termasuk di dalamnya arah atau orientasi dari peneguhan dan pencerahan. Maksudnya, untuk apa dan siapa pencerahan itu diberi makna? Untuk kemajuan bangsa Indonesia.
Dalam kaitan ini perlu dikaji secara mendalam peneguhan dan pencerahan dalam aspek ruh dan komitmen Ber-Muhammadiyah yang dikaitkan dengan aspek pemikiran Islam. Dalam bahasa Muhammadiyah bagaimana tajdid dan ijtihad dapat memberi makna untuk meneguhkan diri sekaligus berfungsi sebagai instrumen pencerahan.
Selain itu upaya peneguhan dan pencerahan ditinjau dari aspek tarjih, tabligh, pendidikan, AUM perlu juga dikaji. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan pembinaan Keluarga Sakinah dan Kaderisasi yang sekarang ini amat dibutuhkan. Perubahan yang terjadi di berbagai skala dan lini kehidupan tidak dapat dihadapi dengan cara yang lama dan dengan biasa-biasa saja.
Peneguhan dan Pencerahan dari aspek kemasyarakatan dan kebangsaan pun patut menjadi perhatian kita semua. Ini akan memperjelas peran-peran kemasyarakatan dan kebangsaan dari Muhammadiyah. Persyarikatan yang dulu dikenal sebagai perintis amal kemasyarakatan, penggerak kemajuan masyarakat ke arah kemajuan dan dikenal ikut menentukan nasib bangsa dan negara pada periode kritis sekarang sepertinya harus berbenah diri dan mengubah diri. Hadirnya kekuatan modal global yang mampu memporak-porandakan kemhidupan masyarakat dan bangsa, serta memperlemah kuasa negara memperlukan perhatian dan kiat yang jitu untuk mengantisipasi dampak buruknya. Untuk ini apa yang disebut sebagai kesadaran kritis. Dengan kesadaran semacam ini maka banyak hal yang sepertinya biasa dan wajar, ternyata terbukti menyembunyikan persoalan yang amat serius. Ini dapat dilihat dari praktik ekonomi, politik, hukum, budaya dan dalam hubungan sosial sekarang ini.
Nah, peneguhan dan pencerahan untuk kemajuan bangsa yang sekarang diusung sebagai isu besar oleh Muhammadiyah, memang memerlukan langkah-langkah yang nyata.l Bahan dan tulisan: tof

Lebaran di Bawah Cengkraman Konsumtivisme

Posted on October 3rd, 2007 in 02 Sajian Utama by redaksi

Lebaran Idul Fitri merupakan sebuah momen keagamaan yang rutin dilakukan oleh umat Islam dalam setiap tahunnya. Kehadirannya menunjukkan sebagai sebuah makna kesucian atas kemenangan umat Islam yang menjalankan ibadah Ramadlan satu bulan penuh.

Oleh karenanya Lebaran Idul Fitri lazimnya dijadikan sebagai ajang berbagi kegembiraan antar sesama  umat manusia terutama bagi mereka yang mampu dengan mereka yang tidak mampu atau mereka yang tergolong kaya dengan mereka yang miskin sebagai sebuah bentuk perayaan atas kemenangan tersebut.
Akan tetapi belakangan ini Lebaran Idul Fitri relatif sedikit dimaknai oleh masyarakat sebagai momentum keagamaan atau momentum kesucian untuk berbagi dengan fakir miskin. Kenyataannya, lebaran cenderung dimaknai dan diimplementasikan sebagai ajang “pamer” dan ajang mempertontonkan barang-barang yang serba baru. Seperti pakaian baru, perabot rumah tangga baru, handphone baru dan segala hal yang bersifat baru. Maka ketika jelang Lebaran datang misalnya, masjid-masjid sudah mulai mengalami kekurangan jamaah, sebab yang terjadi adalah pergeseran aktivitas masyarakat dari masjid ke tempat pusat-pusat perbelanjaan seperti mal-mal besar, supermaket dan pasar tradisional. Tujuannya tentunya tidak lain dan tidak bukan untuk mengonsumsi barang-barang baru untuk diperagakan di hari Lebaran nantinya.
Perilaku yang demikian tentunya tidak salah secara keseluruhan, karena, ketika memang itu menjadi sebuah kebutuhan maka bukanlah masuk dalam sikap yang konsumtivisme, akan tetapi ketika mereka mengkonsumsi barang yang serba baru tersebut bukan berdasarkan logika kebutuhan, maka di situlah praktik konsumtivisme itu terjadi. Hudy Ahyah, M.Si, seorang Psikolog dan Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang ketika dihubungi oleh SM membenarkan hal tersebut, “Menurut saya prilaku konsumtif ini memang cenderung kita lihat di dalam masyarakat menjelang hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, akan tetapi sebenarnya tidak semua masyarakat kita yang berprilaku konsumtif tersebut. saya melihat hanya sebagian saja memiliki kecenderungan demikian,” tuturnya.
Hudy Ahyah juga menilai bahwa, kecenderungan masyarakat berprilaku konsumtif ini tidak lepas dari faktor seseorang melakukan pemaknaan terhadap pesan agama yang sangat harfiah. Misalnya kita dianjurkan untuk berpakaian baru, namun ini dimaknai dengan membeli setiap komoditas yang baru. “Jadi seakan-akan membeli atau mengonsumsi sesuatu yang baru itu dibenarkan dan dilegitimasi oleh agama, padahal kalau kita lihat prilaku konsumtif ini sama saja dengan prilaku mubazir dalam Islam. Sebab yang namanya prilaku konsumtivisme ini menurut saya adalah membeli atau mengonsumsi suatu barang secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan yang sesungguhnya. Jadi perilaku yang demikian jelas dilarang oleh Islam,” tambahnya.
Senada dengan itu juga disampaikan oleh Prof. DR. Sartini Nuryoto, menurut Dosen Psikologi UGM ini, prilaku konsumtivif  ini memang sangat tampak ketika kita akan menyambut atau merayakan Lebaran Idul Fitri. “Memang menjelang Idul Fitri ini sangat kelihatan prilaku konsumtif itu dalam masyarakat kita. Hal ini menurut saya tidak lepas dari pemaknaan lebaran yang dinilai sebagai hari yang istimewa oleh masyarakat, maka mereka juga cenderung memberikan pada hari itu sesuatu yang juga dinilai istimewa pula, seperti membeli sesuatu yang serba baru,” tuturnya.
Terlepas dari berbagai pemaknaan masyarakat terhadap momentum lebaran tersebut, sebenarnya kecenderungan prilaku konsumtif ini juga tidak lepas dari pengaruh tingkat pengetahuan masyarakat yang sangat rendah. Sehingga, ketika ada konstruksi budaya tertentu yang menganggap bahwa kesuksesan bagi seseorang adalah dengan memiliki sesuatu yang baru, maka setiap orang akan berusaha untuk memenuhi itu, walaupun kadangkala dengan cara berhutang. “Misalnya saja bagi mereka yang di rantau. Masyarakat kampung akan menilai mereka sukses di rantau ketika bisa membeli atau mengonsumsi sesuatu yang serba baru, maka ketika mereka tidak mampu membeli sesuatu yang serba baru, dianggaplah belum sukses di perantauan,” ungkap Hudy Ahyah, M.Si. Dampak dari image yang demikian akhirnya cenderung membuat orang berprilaku konsumtif.
Di samping pengaruh yang demikian, Abdullah Sumrahardi, melihat prilaku konsumtif ini memang terbuka lebar dalam masyarakat kita bukan saja karena adanya momentum Lebaran, sebab setiap saat orang bisa saja untuk berprilaku konsumtif. “Ini menurut saya tidak lepas dari pengaruh industri budaya yang begitu kuat dalam masyarakat kita,” ungkap kandidat Doktor Sosiologi UGM ini ketika dihubungi SM. Jadi, menurut alumnus UMY ini, persoalan apakah seseorang itu akan berperilaku konsumtif atau tidak pada akhirnya sangat tergantung pada masing-masing perseorangan diri kita. Karena memang media merupakan bagian dari sarana industri, sedangkan kerja industri itu sendiri adalah untuk melakukan akumulasi kapital, maka untuk memperlancar akumulasi kapital tersebut, media harus setiap saat melakukan proses “pembiusan” kepada masyarakat, agar tidak terjadi kemandekan produksi.
Dengan prilaku konsumtif inilah, makna dan semangat Lebaran Idul Fitri tersebut mengalami  reduksi, artinya  Idul Fitri yang seharusnya dimaknai sebagai momentum kesucian dan keagamaan bergeser menjadi momentum pesta prilaku konsumtif masyarakat untuk memamerkan berbagai komoditas yang dinilai serba baru. “Menurut saya ketika proses reduksionis ini terjadi, maka Lebaran sudah dikalahkan dengan industri budaya yang berdampak pada hilangnya nilai-nilai orisinalitas dari Lebaran itu sendiri,” tambah Sumrahardi.

Strategi Perlawanan
Untuk mengantisipasi kecenderungan prilaku konsumtif masyarakat dalam menyambut bulan Ramadlan ini, banyak cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat, misalnya menurut Prof. Dr. Sartini Nuryoto adalah dengan mengembalikan peran keluarga. “Untuk melawan ini memang kita harus kembali kepada keluarga, karena keluarga itu adalah masyarakat terkecil. Jikalau setiap keluarga itu tidak bersikap konsumtif, maka masyarakat pun juga bisa tidak akan bersikap konsumtif, akan tetapi sebaliknya juga demikian,” tuturnya.
Akan tetapi di samping peran keluarga, juga dibutuhkan pula adanya orang-orang kunci dari suatu masyarakat atau lingkungan yang bisa memberikan pengertian kepada masyarakat tentang buruknya prilaku konsumtif tersebut. “Kalau ada orang-orang kunci yang bisa mengarahkan masyarakat, prilaku konsumtif tersebut saya pikir bisa diminimalisir,” tambah dosen UGM ini.
Orang-orang kunci ini salah satunya bisa disandarkan pada peran para ulama. Menurut Hudy Ahyah, M.Si, peran para ulama ini sangat penting, “Yaitu bagaimana ulama ini mampu menyadarkan masyarakat untuk menyambut dan menjalankan Lebaran Idul Fitri ini bukan sebagai momen hiburan, melainkan sebagai momen berbagi kegembiraan dengan mereka yang tidak mampu. Sikap yang seperti ini caranya bisa kita lakukan dengan memberikan pendidikan terhadap anak-anak mulai saat sekarang,” ungkapnya.
Sementara menurut Abdullah Sumrahardi, untuk melawan konsumtivisme ini sangat dibutuhkan adanya kekuatan kelompok, jamaah atau organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU. Hal ini tujuannya agar bisa menjauhkan masyarakat dari rongrongan budaya yang demikian. “Misalnya saja Muhammadiyah, perlu memperkuat kelompok maupun jamaah-jamaahnya untuk mempertahankan nilai-nilai Idul Fitri tersebut tanpa kita harus terjebak dengan budaya konsumtivisme  ini. Saya pikir Muhammadiyah mampu, sebab kenapa untuk membentuk kelompok gerakan anti korupsi, atau kelompok gerakan anti pornografi dan sebagainya Muhammadiyah bisa, namun untuk persoalan prilaku konsumtivisme Muhammadiyah tidak bisa? Saya pikir ini bisa dilakukan. Selama Muhammadiyah tidak menjadi aktor atau terlibat pula dalam membangun  konsumtivisme ini,” ungkapnya.
Oleh karenanya sebagai sebuah rekayasa sosial, prilaku konsumtif tersebut juga dibutuhkan rekayasa untuk membendungnya. Jikalau masyarakat tidak mampu membendung prilaku konsumtif ini dalam banyak momentum keagamaan seperti Idul Fitri, maka  Idul Fitri kita tidak ubahnya sebagai sebuah pesta belaka, dan prilaku konsumtif akhirnya akan menjadi tertuduh sebagai sebuah marabahaya di momen Idul Fitri.l Tulisan DNA, Bahan Den

Budaya Baca Merana

Posted on September 18th, 2007 in 02 Sajian Utama by redaksi

Tingkat melek huruf masyarakat Indonesia sebetulnya sudah termasuk tinggi. Program pemerintah untuk mem­berantas buta huruf dan menggalakkan wajib belajar 9 tahun telah ikut mendorong masyarakat untuk keluar dari budaya dan kebiasaan yang tidak akrab dengan baca, tulis dan hitung. Dalam Laporan Program Pembangunan PBB 2005, tingkat melek huruf Indonesia berada di peringkat ke-95 dari 175 negara.
Begitu pula dengan maraknya industri penerbitan buku dan industri pers di tanah air, dari waktu ke waktu mengalami peningkatan dan perkembangan yang tergolong besar, terutama dari segi jumlah dan produk. Perkembangan dan pertambahan ini secara kasat mata dan sepintas bisa menandakan bahwa, masyarakat memiliki minat baca yang baik atau semakin meningkat.
Namun begitu, ternyata program pendidikan yang kian menyebar serta pertumbuhan industri pers dan penerbitan buku tersebut tidak mencerminkan tumbuhnya budaya baca yang kuat di masyarakat. Karena, terbukti respons dan produksi dari budaya baca tersebut tidak terlihat dalam berbagai aspek kehidupan publik yang lebih santun dan berkeadaban. Masyarakat sepertinya tidak terpengaruh untuk giat membaca oleh kedua industri tersebut.
Jika ditilik dengan seksama, memang banyak faktor yang menghambat tumbuhnya budaya baca di masyarakat, baik yang berkaitan dengan aspek sosial-ekonomi maupun dinamika kebudayaan di masyarakat itu sendiri.  Di antara faktor yang gampang dilihat adalah gencarnya industri hiburan melalui media massa elektronik, terutama televisi, yang telah memalingkan perhatian masyarakat akan pentingnya budaya baca.
Sepinya ruang baca itu bukan saja di rumah dan sekolah, tetapi juga di perpustakaan-perpustakaan, baik yang dikelola oleh perguruan tinggi, pemerintah, atau yayasan swasta. Dalam konteks kemajuan bangsa, tentu saja fenomena tersebut cukup memprihatinkan dan sekaligus mengkhawatirkan.
Dalam konteks ini Muhammadiyah sejak awal telah menaruh perhatian serius untuk membudayakan pustaka dan kebiasaan membaca, khususnya di kalangan umat Islam. Organ khusus dan  komponen Persyarikatan yang diberi tugas untuk mengelo­la dunia pustaka dan memasyarakatkan budaya membaca adalah Bagian Pustaka, Dokumen dan Sejarah. Terkait dengan kepentingan ini pula maka sesungguhnya penerbitan majalah Suara Muhammadiyah sejak 1915 berada dalam barisan semangat untuk menebarkan budaya baca tersebut.
Berkenaan dengan hal itu semua, kali ini Suara Muham­madiyah ingin menyajikan fenomena  dan masalah budaya baca di masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan umat Islam, yang masih lemah dan merana. Budaya baca yang layu di tengah industri pers dan penerbitan; serta nasib perpustakaan yang kurang perhatian dari publik.
Sajian topik ini dipilih karena, di samping bulan September telah dicanangkan sebagai “Bulan Kunjungan Perpustakaan”, juga pada tahun ini bulan tersebut kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadlan yang antara lain terkait dengan pewahyuan pertama Al-Qur’an untuk membaca: Iqra’, bacalah! [Bahan dan tulisan: apb]

MENCARI SPIRIT RAMADLAN YANG HILANG

Posted on September 2nd, 2007 in 02 Sajian Utama by redaksi

Di tengah gempuran pasar bebas yang begitu dahsyat, baik pasar global, nasional maupun pasar lokal maka waktu dan ruang pun telah dikapling-kapling menjadi bagian dari pasar itu sendiri. Seluruh kehidupan manusia telah dimodifikasi dan komodifikasi menjadi pasar. Artinya, kehidupan manusia telah dijadikan sasaran, dijadikan obyek dan dijadikan target dari penjualan produk-produk, baik berupa produk benda, jasa maupun produk citra. Para produsen dan pemilik kapital transnasional yang bergerak mendesain kehidupan manusia agar dapat ditaklukkan dan diposisikan sebagai pasar dari produk dan modal mereka rupanya bergerak tanpa henti dan tanpa membedakan sasaran. Siapa pun, bahkan apa pun ia senantiasa mereka format, mereka bentuk dan mereka kendalikan agar menjadi pasar yang patuh, sehingga, keuntungan pun mengalir tiap detik ke pundi-pundi mereka.
Dalam kaitan dimensi makro dan global seperti ini kelihatan sekali kalau pasar akan muncul sebagai pemenang kehidupan. Pihak lain semisal negara, masyarakat dan indivividu manusia sendiri akan jatuh tergeletak menjadi pecundang. Kita melihat bagaimana negara dan banyak negara sekarang hampir selalu dipermainkan oleh pasar, mulai dari pasar barang, pasar jasa, pasar modal dan pasar citra seperti hiburan. Ketidakberadayaan negara Indonesia untuk melindungi warganya dari serbuan hal-hal yang negatif dan destruktif semisal pornografi dan pornoaksi dan gaya hidup hedonis –dengan instrumen hukum bernana UU APP– jelas menunjukkan bagaimana keperkasaan pasar jasa, pasar modal, dan pasar citra berkekuatan global telah mampu mempecundangi negara Indonesia. Demikian juga ketidakberdayaan masyarakat Indonesia termasuk tokoh-tokoh agama dan budaya dalam membendung hal-hal negatif dan destruktif itu juga menunjukkan bagaimana pasar telah dapat melumpuhkan masyarakat. Apalagi individu-individu warga negara yang sekarang hidup dibiarkan tanpa pelindung dan perisai nilai dan hukum oleh negara, jelas akan dan selalu menjadi sasaran serta mangsa empuk dari pasar global itu.
Dalam kaitan inilah spirit Ramadlan, spirit puasa Ramadlan menjadi penting dan relevan. Sebab spirit puasa Ramadlan dapat menjadi amunisi berkualitas dalam kaitan upaya kita untuk membendung gejala penindasan, penguasaan dan hegemoni pasar atas kehidupan manusia. Spirit puasa Ramadlan merupakan  energi kritis yang mampu mempertanyakan, bahkan, menggugat keberadaan pasar yang sekarang cenderung dhalim terhadap nilai-nilai utama kehidupan. Spirit puasa Ramadlan yang berakar pada pengendalian diri, berakar pada kesucian jiwa dan raga dan berakar pada pilihan untuk mengutamakan makna dan nilai luhur dari ajaran agama dapat kita format sebagai instrumen untuk melawan kecenderungan pasar yang seperti itu. Hanya sayang, sekarang ini spirit puasa Ramadlan yang seperti itu sepertinya hilang, ditelan oleh gemuruhnya pasar sehari-hari. Maka tidak mengherankan jika bulan puasa baru mulai, maka yang dikampanyekan oleh pasar adalah sirup, busana, kendaraan mewah, liburan saat Lebaran, kue-kue lebaran dan impian duniawi lain. Semua bermunculan serentak di ruang maya maupun di ruang nyata. Jadi, tanggal puasa baru muda, tetapi, pikiran orang telah digiring untuk menikmati kemewahan rasa dan suasana Lebaran. Maka tak mengherankan jika pada minggu pertama bulan puasa, hipermarket, supermarket, mall, dan toko-toko menjadi lebih ramai dibanding tempat ibadah tarawih dan tempat tadarus.
Nah, di tengah kepungan pasar dengan sebagai macam manifestasinya itu, bagaimana kita dapat menemukan kembali spirit puasa Ramadlan yang nyaris hilang ini? Apa yang dapat dilakukan oleh Muhammadiyah? (Bahan dan tulisan: tof)

SOS SEKOLAH MUHAMMADIYAH?

Posted on August 20th, 2007 in 02 Sajian Utama by redaksi

Bagi Muhammadiyah, amal usaha pendidikan merupakan hal penting yang sudah menjadi prioritas program. Persyarikatan sejak perintisan Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah organisasi non-pemerintah yang memulai penyelenggaraan  pendidikan formal bagi kaum pribumi, baru kemudian diikuti Taman Siswa, dan lembaga-lembaga yang lain.
Kalau sejarah kemudian mencatat Taman Siswa sebagai lembaga perintis pendidikan nasional dan Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Pendidikan Nasional adalah masalah lain yang masih dapat didiskusikan. Yang jelas ketika membicarakan Muhammadiyah maka kita harus membicarakan amal usaha pendidikannya dan kalau membahas pendidikan nasional maka siapapun harus menoleh kepada Muhammadiyah. Baik karena pertimbangan sejarah ataupun karena pertimbangan waktu sekarang. Secara kwantitas Muhammadiyah sampai saat ini masih tercatat sebagai organisasi non-pemerintah yang memiliki lembaga pendidikan terbanyak di Indonesia bahkan mungkin di dunia.
Seiring pertumbuhan sekolah Muhammadiyah yang terus bertambah, kondisi sekolah-sekolah Muhammadiyah mulai beragam. Ada yang terus meningkat kualitasnya namun banyak pula yang mengalami kemerosotan mutu, terancam bubar. bahkan, banyak pula yang sudah bubar karena kalah bersaing dengan sekolah yang dikelola lembaga lain. Tegasnya, saat ini banyak sekolah Muhammadiyah yang tidak laku karena memang tidak bermutu.
Kita dapat berkilah mengingat jumlah sekolah Muhammadiyah yang ada di Indonesia sangat banyak, maka kalau ada sepuluh sampai dua ratus sekolah kita yang masuk kategori rendah adalah wajar karena masih banyak pula sekolah Muhammadiyah yang masuk kategori berkualitas tinggi semisal, SD Muhammadiyah Sapen dan SD Muhammadiyah Sokonandi di Yogyakarta. SD Muhammadiyah Pucang dan SD Kreatif Muhammadiyah di Surabaya. SMP dan SMA Muhammadiyah I di Yogyakarta. Ada juga sekolah Imajiner SD dan SMP Muhammadiyah Belitong di dalam novel-novel Andre Hirata. Dalih seperti pada dasarnya dapat dikatakan sebagai upaya membohongi diri sendiri.
Munculnya sekolah Islam semisal sekolah-sekolah yang berakhiran IT (Islam terpadu) dalam skala nasional, maupun sekolah semacam Budia Mulia dalam konteks lokal Yogyakarta yang justeru dapat berkembang lebih pesat seiring dengan melajunya jumlah sekolah Muhammadiyah yang terpuruk adalah dalil yang nyata bahwa Sekolah Muhammadiyah saat ini memang kalah bermutu dengan sekolah-sekolah yang dikelola lembaga lain, baik oleh lembaga Islam kemarin sore maupun lembaga kristiani yang sudah jauh lebih mapan.
Mungkin, ada beberapa sekolah Muhammadiyah yang terus berbenah untuk memperbaiki keadaan ini dengan kearifan dan kekreatifan lokal masing-masing. Ada pula Majelis Dikdasmen suatu daerah yang juga berpikir mengenai hal ini, namun mungkin ada pula yang masih menutup mata pada kenyataan yang telah berubah seraya membangga-banggakan masa lalu ketika Muhammadiyah menjadi pembaharu sistem pendidikan Indonesia. Mereka lupa bahwa keadaan tahun 1912 itu sangat berbeda dengan tahun 2012. Tanpa kesadaran untuk berbenah secara bersama maka Muhammadiyah pasti akan segera menjadi  gajah bengkak yang jatuh ke dalam kolam dan menantang ikan untuk berenang.
Jadi apakah benar kalau sekolah Muhammadiyah sekarang dalam bahaya?l Bahan dan tulisan: ies

DI SINI KAMI INGIN MENGABDI….

Posted on August 1st, 2007 in 02 Sajian Utama by redaksi

Muslim, Mahasiswa PUTM Yogyakarta, asal Sulawesi Selatan
Ketertarikan saya untuk menjadi kader ulama tarjih atau kuliah di PUTM ini, selain karena faktor biaya, yang utama adalah karena spesifikasi keilmuan saya yang sejak dulu sudah dari agama, saya dulu tamatan pondok, jadi kalau saya lari ke sekolah umum, saya akan kesulitan. Sejak di pondok dan dalam masa pengabdian saya memang sudah meniatkan menjadi kader ulama tarjih. …Selanjutnya
Rencana ke depan, setelah saya menamatkan pendidikan di PUTM ini, nanti saya akan dioper ke daerah. Semacam akan dibuatkan surat tugas dari daerah. Karena saya di sini kan ditugaskan dari PDM atau PWM. Nanti setelah dari sini saya akan dikembalikan ke PDM.
Harapan saya terhadap Muhammadiyah dengan kader-kader ulama tarjihnya ini, mereka bisa mengembangkan Muhammadiyah ke depan, karena saya sendiri di sini baru mendalami Muhammadiyah. Pondok saya sendiri dulu tidak beraliran Muhammadiyah atau NU. Maka dari itu, saya di sini untuk mempelajari Muhammadiyah dan mengembangkannya di daerah.

Solahuddin, Mahasiswa PUTM asal Tegal Jawa Tengah
Tujuan pertama saya menjadi kader ulama tarjih atau masuk PUTM ini adalah untuk mengembangkan Muhammdaiyah.
Saya dulunya dari Muallimin, jadi sebelum lulus saya sudah banyak tawaran. Tapi setelah saya pikir-pikir akhirnya, saya milih PUTM ini, karena di sini saya dapat lebih fokus ke Muhammadiyah, jadi nantinya bisa mengembangkan Muhammadiyah. Daerah sini juga jauh dari kota, jadi menjadi lebih tenang.
Selepas dari pendidikan PUTM ini, planning saya ya sangat tergantung dengan PDM atau PWM nya. Karena saya di sini ini atas usulan dan utusan PDM atau PWM setempat, makanya nanti PDM atau PWM yang akan mencari daerah di mana saya harus mengembangkan ilmu tarjih ini. Bisa jadi di daerah masing-masing dan bisa jadi di luar daerah asal. PUTM sendiri nantinya setelah lulus juga akan mencarikan di mana wilayah pengembangan ilmu saya nanti, jadi nanti itu kita benar-benar dipastikan sudah bisa bergerak di suatu wilayah oleh PUTM, baru setelah itu saya dilepas. Tapi sebelum jelas keberadaan saya PUTM juga tidak akan melepaskan.
Harapan saya terhadap Muhammadiyah dengan adanya kader ulama tarjih ini nantinya yang bisa fokus terhadap Muhammadiyah. Mengingat selama ini ulama tarjih itu banyak, tapi jarang yang fokus kepada Muhammadiyah, bahkan banyak melenceng dari Muhammadiyah. Jadi bagaimana mereka nantinya bisa meluruskan Muhammadiyah ke tujuan yang sebenarnya.

Dian Berka, Santri Padepokan Hizbul Wathan UMM Malang Jawa Timur asal Bekasi
Saya masuk ke sini memang bertujuan untuk bisa lebih mendalami imu agama, meskipun saya dulu tidak dari pesantren tetapi ada sedikit bekal untuk masuk ke sini. Saya rasa program seperti ini perlu diadakan di banyak tempat agar Muhammmadiyah tidak kehabisan stok ulama.
Semua madzab pemikiran diajarkan di Padepokan (Pondok Pesantren) ini, para ustadnya juga bermacam-macam, ada yang dari Timur Tengah namun ada juga yang dari selain Timur Tengah, jadi kita bisa menimba bermacam ilmu. Pola pendidikan seperti ini tampaknya memang cukup bisa melengkapi dengan apa yang kita dapat dari kampus. Hanya saja perlu dikaji lagi agar tidak terjadi tumpang tindih materi di padepokan dengan yang ada di kampus, sehingga kalaupun terpaksa ada pengulangan materi, pengulangan itu benar-benar sebuah pengulangan yang berbeda.
Furqan Mawardi, Santri Pondok Hajah Nuriyah Shobron Surakarta, Asal Makasar
Motivasi saya masuk pondok Shobron ini salah satunya adalah karena saya melihat adanya kelangkaan ulama, khususnya ulama tarjih di lingkungan Muhammadiyah. Terutama sekali di daerah saya, Makasar. Padahal Muhammadiyah itu adalah organisasi dakwah, jadinya agak lucu kalau organisasi dakwah, tapi yang akan berdakwah atau yang akan menyampaikan dakwah itu kurang. Apalagi, saat sekarang ini banyak sekali isu-isu kontemporer yang harus bisa dikuasai oleh Muhammadiyah. kalau Muhammadiyah tidak bisa merespon isu-isu kontemporer tersebut Muhammadiyah pasti akan ketinggalan atau ditinggalkan umat.
Rencana saya pasca Shobron ini melanjutkan pendidikan S2, tapi kalau tidak bisa, maka saya akan mengembangkan ilmu saya di daerah sambil membangun dakwah di daerah. Harapan terhadap Muhammadiyah dengan adanya ulama tarjih nantinya adalah, bagaimana Muhammadiyah melalui ulama-ulamanya ini bisa mencapai tujuan Muhammadiyah untuk membentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, selanjutnya juga bagaimana Muhammadiyah bisa melahirkan ulama-ulama yang intelek.l isma; K‘ies, den

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: