Cinta Pra-Nikah Belum Populer di Arab

April 7, 2008 at 6:27 am (-cinta-)

Cinta Pra-Nikah Belum Populer di Arab

Sana`a (ANTARA News) – Di berbagai negara, pria dan wanita menjalin

cinta kasih sebelum menikah merupakan hal yang wajar saja, tetapi

tidak demikian bagi kebanyakan masyarakat Arab yang konservatif.

Meskipun sebagian besar muda-mudi Arab saat ini merupakan kalangan

terpelajar, perjodohan keluarga masih dominan.

Banyak gadis negeri kaya minyak itu yang menilai hubungan cinta kasih

sebelum menikah adalah sesuatu yang baik namun sulit diterapkan dalam

masyarakat konservatif yang menolak hubungan cinta pranikah.

Mengingat pandangan masyarakat tersebut, pemuda dan gadis setempat

juga berbeda pendapat tentang masalah itu.

Hasil wawancara yang dilakukan harian Al-Watan, Saudi, Minggu (6/5),

dengan sejumlah muda-mudi Saudi menegaskan lagi tentang pro-kontra

cinta pranikah.

“Saya tidak mendukung hubungan cinta pranikah karena pemuda Saudi

masih hidup dalam tradisi setempat yang belum menerima hubungan

seperti ini,” kata seorang gadis negeri kaya minyak itu yang

berinisial HA

Dasar dari penolakan itu adalah cinta hanya milik suami, sehingga

cinta tersebut dipupuk setelah resmi menjadi suami istri.

Beda dengan gadis Amal yang mendukung hubungan cinta pra nikah.

Pernikahan yang didasari cinta pra nikah berpengaruh positif karena

kedua pihak saling mengetahui kelebihan dan kelemahan dari

pasangannya. Tapi harus didasari saling percaya bukan berburuk

sangka,” paparnya.

Di kalangan pemuda juga demikian sebagian mendukung cinta pra nikah

sebagian lagi menolaknya. “Saya mendukung, tapi masih meragukan

keseriusan cinta para gadis sebelum menikah,” kata Saud Al-Shahri.

Bagi Tarek Al-Madkhali, seorang mahasiswa, tidak yakin dengan hubungan

cinta pranikah. “Hubungan cinta pranikah terkesan hanya sekedar

basa-basi karena tidak menunjukkan hakikat kedua pasangan sebenarnya,”

paparnya.

Tentang kondisi tersebut, pakar ilmu sosial Universitas King Saud, DR.

Salwa Al-Khatib menilai bahwa pernikahan yang sukses adalah apabila

dilakukan berdasarkan cinta dan akal sekaligus.

“Namun dalam masyarakat kita, pernikahan umumnya dilakukan berdasarkan

perjodohan dari keluarga dua mempelai karena keyakinan mereka bahwa

pernikahan adalah ikatan antara dua keluarga,” ujarnya kepada

Al-Watan.

Namun, ia mengakui, dalam tahun-tahun belakangan ini, sudah mulai ada

perubahan pandangan dengan makin meluasnya siaran berbagai televisi

bersatelit mancanegara dan peningkatan pendidikan.

“Mulai banyak yang memandang pernikahan perlu didasari cinta kasih

sebelum menikah dan saling pengertian suami-istri, ” katanya.

Pendapat senada juga dikemukakan pakar sosial lainnya.

“Kebanyakan masyarakat memang belum menerima, tapi dengan adanya

perubahan besar, generasi baru dapat mengubah pandangan yang ada,”

kata DR. Saud Al-Dhahyan.

Alhasil, cinta pra-nikah memang belum populer di masyarakat Arab

karena pernikahan umumnya berlangsung lewat perjodohan keluarga

sehingga memupuk cinta pranikah terasa sulit. Hanya sebagian kecil

masyarakat yang membebaskan anak mencari jodoh sendiri. (*)

__._,_.___

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: