pendidikan anak mnurut islam

April 6, 2008 at 5:50 pm (islam)

Pendidikan Anak dalam Islam)*


pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam
Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman
yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam

hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita temui
banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah
maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.

Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui
betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla
terhadap pendidikan putra-putri islam.

Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.
(At-Tahrim: 6)

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan
Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”

Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang guru atau orang tua harus tahu
apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana
metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini, Rasulullah
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa tuntunan tersebut
antara lain:

· Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak

Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan
Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan
keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia pasti
terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta
kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan
mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah
kehendaki” (An- Nisa: 48)

Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang
besar”.(Luqman: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan
contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak
paman beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang
hasan. Ibnu Abbas bercerita,

“Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas
kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari
engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.
Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika
engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong,
minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin
dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat
kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah
ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh
umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan
mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan
Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah
kering lembaran-lembaran”.

Perkara-perkara yang diajarkan oleh Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas di atas adalah perkara tauhid.

Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah
tentang dimana Allah berada. Ini sangat penting, karena banyak kaum
muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian mengatakan bahwa Allah
ada dimana-mana. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati kita,
dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa
Allah itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit. Dalilnya antara
lain,

“Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy” (Thaha: 5)

Makna istiwa adalah tinggi dan meninggi sebagaimana di dalam riwayat Al-Bukhari dari tabi’in.

Adapun dari hadits,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang
budak wanita, “Dimana Allah?”. Budak tersebut menjawab, “Allah di
langit”. Beliau bertanya pula, “Siapa aku?” budak itu menjawab, “Engkau
Rasulullah”. Rasulllah kemudian bersabda, “Bebaskan dia, karena
sesungguhnya dia adalah wanita mu’minah”. (HR. Muslim dan Abu Daud).

· Mengajari Anak untuk Melaksanakan Ibadah

Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah
dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Mulai dari tatacara bersuci, shalat, puasa serta beragam
ibadah lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).

“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh
tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila
tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya
Al-Albani).

Bila mereka telah bisa menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajak
pula mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Dengan
melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah
terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.

· Mengajarkan Al-Quran, Hadits serta Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak

Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan surat-surat yang pendek serta
doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang
mengajari tajwid, menghapal Al-Quran serta hadits. Begitu pula dengan
doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai menghapalkannya,
seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain.

· Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia

Ajarilah anak dengan berbagai adab Islami seperti makan dengan
tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan,
mengucapkan salam, dll.

Begitu pula dengan akhlak. Tanamkan kepada mereka akhlaq-akhlaq
mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua,
dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda,
serta beragam akhlaq lainnya.

· Melarang Anak dari Berbagai Perbuatan yang Diharamkan

Hendaknya anak sedini mungkin diperingatkan dari beragam perbuatan
yang tidak baik atau bahkan diharamkan, seperti merokok, judi, minum
khamr, mencuri, mengambil hak orang lain, zhalim, durhaka kepada orang
tua dan segenap perbuatan haram lainnya.

Termasuk ke dalam permasalahan ini adalah musik dan gambar makhluk
bernyawa. Banyak orangtua dan guru yang tidak mengetahui keharaman dua
perkara ini, sehingga mereka membiarkan anak-anak bermain-main
dengannya. Bahkan lebih dari itu –kita berlindung kepada Allah-,
sebagian mereka menjadikan dua perkara ini sebagai metode pembelajaran
bagi anak, dan memuji-mujinya sebagai cara belajar yang baik!

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang musik,

“Sungguh akan ada dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, khamr
dan al-ma’azif (alat-alat musik)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Abu
Daud).

Maknanya: Akan datang dari muslimin kaum-kaum yang meyakini bahwa
perzinahan, mengenakan sutra asli (bagi laki-laki, pent.), minum khamar
dan musik sebagai perkara yang halal, padahal perkara tersebut adalah
haram.

Dan al-ma’azif adalah setiap alat yang bernada dan bersuara teratur
seperti kecapi, seruling, drum, gendang, rebana dan yang lainnya.
Bahkan lonceng juga, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,

“Lonceng itu serulingnya syaithan”. (HR. Muslim).

Adapun tentang gambar, guru terbaik umat ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah bersabda,

“Seluruh tukang gambar (mahluk hidup) di neraka, maka kelak Allah
akan jadikan pada setiap gambar-gambarnya menjadi hidup, kemudian
gambar-gambar itu akan mengadzab dia di neraka jahannam”(HR. Muslim).

????? ??????? ???????? ???????? ?????? ????? ?????? ???????????? ?????????????????

“Sesungguhnya orang-orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para tukang gambar.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu hendaknya kita melarang anak-anak kita dari
menggambar mahkluk hidup. Adapun gambar pemandangan, mobil, pesawat dan
yang semacamnya maka ini tidaklah mengapa selama tidak ada gambar
makhluk hidupnya.

· Menanamkan Cinta Jihad serta Keberanian

Bacakanlah kepada mereka kisah-kisah keberanian Nabi dan para
sahabatnya dalam peperangan untuk menegakkan Islam agar mereka
mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang pemberani, dan
sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan Muawiyah
telah membebaskan negeri-negeri.

Tanamkan pula kepada mereka kebencian kepada Yahudi dan orang-orang
zhalim. Tanamkan bahwa kaum muslimin akan membebaskan Al-Quds ketika
mereka mau kembali mempelajari Islam dan berjihad di jalan Allah.
Mereka akan ditolong dengan seizin Allah.

Didiklah mereka agar berani beramar ma’ruf nahi munkar, dan
hendaknya mereka tidaklah takut melainkan hanya kepada Allah. Dan tidak
boleh menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita bohong, horor serta
menakuti mereka dengan gelap.

· Membiasakan Anak dengan Pakaian yang Syar’i

Hendaknya anak-anak dibiasakan menggunakan pakaian sesuai dengan
jenis kelaminnya. Anak laki-laki menggunakan pakaian laki-laki dan anak
perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan anak-anak dari
model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan
menunjukkan aurat.

Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang meniru sebuah kaum, maka dia termasuk mereka.” (Shahih, HR. Abu Daud)

Untuk anak-anak perempuan, biasakanlah agar mereka mengenakan
kerudung penutup kepala sehingga ketika dewasa mereka akan mudah untuk
mengenakan jilbab yang syar’i.

Demikianlah beberapa tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dalam mendidik anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik
bisa merealisasikannya dalam pendidikan mereka terhadap anak-anak. Dan
hendaknya pula mereka ingat, untuk selalu bersabar, menasehati
putra-putri Islam dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jangan
membentak atau mencela mereka, apalagi sampai mengumbar-umbar kesalahan
mereka.

Semoga bisa bermanfaat, terutama bagi orangtua dan para pendidik. Wallahu a’lam bishsawab.

)* Diringkas oleh Abu Umar Al-Bankawy dari kitab Kaifa Nurabbi
Auladana karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu dan hadits-hadits tentang
hukum gambar ditambahkan dari Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Syaikh
Muqbil bin Hadi.

Dicopy dari: www.wiramandiri.wordpress.com.

PENTINGNYA pendidikan agama diajarkan di sekolah tak perlu diperdebatkan lagi. Kita semua sepakat, percaya dan yakin bila pendidikan agama memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk moralitas siswa. Karena hanya pendidikan agamalah yang mempunyai misi utama menanamkan dan menciptakan pribadi atau akhlak mulia anak.

Mengingat begitu besarnya peran pendidikan agama dalam membentuk moralitas, untuk menilai pendidikan agama berhasil atau tidak, ukurannya satu, yaitu baik buruknya perilaku siswa. Jika siswa berperilaku baik maka pendidikan agama dapat dinilai berhasil. Sebaliknya bila berperilaku jelek, pendidikan agama dapat dikatakan gagal.

Dari ilustrasi itu jelas betapa pentingnya pendidikan agama di sekolah. Apalagi pendidikan agama di SD. Tentu urgensinya jauh melebihi posisi pendidikan agama di tingkat SMP, SMA, dan perguruan tinggi (PT). Mengapa demikian? Ya, karena pendidikan agama di SD mengemban misi utama untuk menanamkan dasar keimanan, ibadah, Alquran, dan akhlak pada siswa.

Empat unsur pokok inilah yang harus ditanamkan dan dikembangkan secara baik dan maksimal dalam kehidupan beragama anak sejak dini. Namun sayang pentingnya pendidikan agama di SD ini seringkali tidak mendapat perhatian yang serius, terutama dalam hal mutu dan kualitasnya.

Mayoritas kita masih memandang sebelah mata atas pendidikan agama di SD. Tidak terkecuali di Grobogan. Di sini nasib pendidikan agama SD tergolong masih memprihatinkan. Selain mutunya jauh dari harapan, tragisnya lagi jumlah guru agamanya juga jauh dari memadai. Jauh dari layak untuk mengejar kualitas dan mutu.

Sebagai contoh di Desa Tanggungharjo .Kecamatan Grobogan. Di sana ada empat SD, namun guru agamanya (Islam) hanya ada dua saja. Begitu pula di desa tetangganya Putatsari, di sana ada enam SD, tetapi guru agamanya juga hanya dua saja.

Masih di kecamatan yang sama, yaitu di Desa Teguhan, di sana terdapat tiga SD, tetapi yang ada guru agamanya hanya di SDN 2 saja. Parahnya fenomena kekurangan guru agama di Kecamatan Grobogan ini juga dialami oleh kecamatan lain di seluruh Kabupaten Grobogan.

Dari sampel tersebut kita mendapatkan gambaran secara jelas bagaimana kondisi riil pendidikan agama SD di Grobogan. Memang, bukan berarti SD yang tidak ada guru agamanya, menjadi kosong dari pelajaran agama. Tidak. Karena rata-rata kekosongan tersebut saat ini dirangkap oleh guru agama SD lain serta diisi oleh guru wiyata bakti alias guru tidak tetap (GTT). Tetapi yang persoalannya sekarang adalah apakah guru agama yang mengajar di dua SD dan guru agama wiyata bakti dapat mengajar dan mendidik dengan optimal?

Jawabannya jelas tidak. Karena guru agama yang merangkap di dua SD konsentrasinya pasti terganggu, sehingga dalam mengajar menjadi tidak maksimal. Begitu pula guru agama wiyata bakti (GTT), pada umumnya mereka masih merangkap di sekolah lain. Terutama di sekolah swasta seperti MI, MTs, dan MA. Bila tidak merangkap di sekolah lain, mereka lumrahnya disibukkan oleh pekerjaan di luar yang dapat menghasilkan uang sebagai upaya untuk mempertahankan dapur agar tetap ngepul. Sebab bila hanya mengandalkan gaji bulanan wiyata baktinya di SD semata, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Kenyataan ini rasional karena guru yang notabene telah PNS saja masih banyak yang mencari tambahan penghasilan di luar dengan dalih gaji PNS saja tidak cukup. Apalagi dengan guru wiyata bakti.

Secara umum implikasi negatif dari realitas tersebut adalah pelaksanaan pendidikan agama di SD menjadi mentah dan tidak maksimal. Ujungnya siswa yang menjadi korban. Secara spesifik implikasi negatif atas kekurangan guru agama SD di atas adalah; Pertama, anak menjadi kurang menguasai materi pelajaran agama. Karena untuk melahirkan atau mencetak anak yang mampu menguasai materi pelajaran agama diperlukan bimbingan yang lebih dari guru agama.

Apalagi pendidikan agama di SD, yang masih banyak materi pelajaran wajib dihafalkan anak. Makanya dalam hal ini guru dituntut dapat meluangkan waktunya untuk mentashih semua hafalan itu. Sebagai contohnya pelajaran agama kelas satu. Guru agama harus mentashih hafalan syahadatain, surah Al-fatihah, surah al-Iklash, rukun iman, rukun Islam, niat wudu, doa sebelum tidur, doa sesudah tidur, dan lain-lain.

Kedua, penanaman budi pekerti luhur pada anak menjadi tidak maksimal dan tidak tuntas. Tidak maksimal karena mayoritas guru agama yang merangkap di dua SD, konsentrasinya terbagi dan guru agama wiyata bakti mayoritas muda-muda, sehigga masih miskin pengalaman.

Dampaknya seringkali dalam menyampaikan materi pendidikan agama lupa atas nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Kendatipun nilai-nilai tersebut disampaikan, tetapi biasanya tingkat penghayatannya masih kalah dengan guru agama sepuh.

 

 

1 Comment

  1. Abdillah said,

    I think the articles is quite good, but unfortunatelly part of it, can’t read clearly. Please fix it. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: