hukum onani

April 6, 2008 at 5:53 pm (islam)

HUKUM ONANI

 

Oleh

Syaikh Abdul Aziz bin Baz

 

 

 

 

Pertanyaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : ?Ada seseorang yang berkata ; Apabila

seorang lelaki perjaka melakukan onani, apakah hal itu bisa disebut zina dan

apa hukumnya ??

 

Jawaban.

Ini yang disebut oleh sebagian orang ?kebiasaan tersembunyi? dan disebut

pula ?jildu ?umairah? dan ??istimna? (onani). Jumhur ulama mengharamkannya,

dan inilah yang benar, sebab Allah Subhanahu wa Ta?ala ketika menyebutkan

orang-orang Mu?min dan sifat-sifatnya berfirman.

 

?Artinya : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap

istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki ; maka sesungguhnya

mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu

maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas? [Al-Mu?minun : 5-7]

 

Al-?Adiy artinya orang yang zhalim yang melanggar aturan-aturan Allah.

 

Di dalam ayat di atas Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak

bersetubuh dengan istrinya dan melakukan onani, maka berarti ia telah

melampaui batas ; dan tidak syak lagi bahwa onani itu melanggar batasan

Allah.

 

Maka dari itu, para ulama mengambil kesimpulan dari ayat di atas, bahwa

kebiasaan tersembunyi (onani) itu haram hukumnya. Kebiasaan rahasia itu

adalah mengeluarkan sperma dengan tangan di saat syahwat bergejolak.

Perbuatan ini tidak boleh ia lakukan, karena mengandung banyak bahaya

sebagaimana dijelaskan oleh para dokter kesehatan.

 

Bahkan ada sebagian ulama yang menulis kitab tentang masalah ini, di

dalamnya dikumpulkan bahaya-bahaya kebiasan buruk tersebut. Kewajiban anda,

wahai penanya, adalah mewaspadainya dan menjauhi kebiasaan buruk itu, karena

sangat banyak mengandung bahaya yang sudah tidak diragukan lagi, dan juga

betentangan dengan makna yang gamblang dari ayat Al-Qur?an dan menyalahi apa

yang dihalalkan oleh Allah bagi hamba-hambaNya.

 

Maka ia wajib segera meninggalkan dan mewaspadainya. Dan bagi siapa saja

yang dorongan syahwatnya terasa makin dahsyat dan merasa khawatir terhadap

dirinya (perbuatan yang tercela) hendaknya segera menikah, dan jika belum

mampu hendaknya berpuasa, sebagaimana arahan Rasulullah Shallallahu ?alaihi

wa sallam.

 

?Artinya : Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang

mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih

menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang

belum mampu hendakanya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya?

[Muttafaq ?Alaih]

 

Di dalam hadits ini beliau tidak mengatakan : ?Barangsiapa yang belum mampu,

maka lakukanlah onani, atau hendaklah ia mengeluarkan spermanya?, akan

tetapi beliau mengatakan : ?Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya

berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya?

 

Pada hadits tadi Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam menyebutkan dua

hal, yaitu :

 

Pertama.

Segera menikah bagi yang mampu.

 

Kedua.

Meredam nafsu syahwat dengan melakukan puasa bagi orang yang belum mampu

menikah, sebab puasa itu dapat melemahkan godaan dan bisikan syetan.

 

Maka hendaklah anda, wahai pemuda, ber-etika dengan etika agama dan

bersungguh-sungguh di dalam berupaya memelihara kehormatan diri anda dengan

nikah syar?i sekalipun harus dengan berhutang atau meminjam dana. Insya

Allah, Dia akan memberimu kecukupan untuk melunasinya.

 

Menikah itu merupakan amal shalih dan orang yang menikah pasti mendapat

pertolongan, sebagaimana Rasulullah tegaskan di dalam haditsnya.

 

?Artinya : Ada tiga orang yang pasti (berhak) mendapat pertolongan Allah

Azza wa Jalla : Al-Mukatab (budak yang berupaya memerdekakan diri) yang

hendak menunaikan tebusan darinya. Lelaki yang menikah karena ingin menjaga

kesucian dan kehormatan dirinya, dan mujahid (pejuang) di jalan Allah?

[Diriwayatkan oleh At-Turmudzi, Nasa?i dan Ibnu Majah]

 

[Fatawa Syaikh Bin Baz, dimutl di dalam Majalah Al-Buhuts, edisi 26 hal

129-130]

 

 

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar?iyyah Fi Al-Masa?il Al-Ashriyyah Min

Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal

406-409 Darul Haq]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: