Sejauh Mana Islam Kita?

April 2, 2008 at 8:45 am (untaian arti makna)

Oleh: Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi 

full_islam_moon1.jpgIslam diwahyukan oleh Allah kepada Rasulullah SAW secara utuh. Rasulullah menyampaikannya kepada kita juga secara utuh. Allah berfirman:

“Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS Al Baqarah 207)

.
Ajaran-ajaran Islam yang terpenting dan paling pokok ialah ajaran aqidah, syariat, akhlak, pendidikan, ekonomi, politik (siasah), jamaah, daulah Islamiah, amar ma’ruf nahi munkar. Sejauh manakah kita meyakini, memahami dan mengamalkannya selama ini? Bagaimana kita mengetahuinya, sedangkan di zaman kita saat ini sudah tidak ada pembandingnya? Oleh karena itu, hanya Rasulullah, para sahabat dan salafussoleh sajalah sebagai pembanding dan tolak ukurnya.

Allah berfirman di dalam Al Quran:

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada suri tauladan yang baik.” (QS Al Ahzab 21)

Dan Rasulullah SAW bersabda:

“Sahabat-sahabatku laksana bintang-bintang di langit. Yang mana saja kamu ikuti niscaya kamu akan dapat petunjuk.” (Riwayat Ad Daarami)

“Sebaik-baik manusia adalah di kurunku, kemudian yang mengikuti kurun mereka, kemudian yang mengiringi kurun mereka itu” (Riwayat Muslim)

Inilah yang dikatakan salafussoleh yang semua ini sudah tidak ada lagi di jaman kita ini. Walaupun hanya seorang, sudah cukup menjadi contoh kepada kita, misalnya Imam Malik. Tetapi ia juga tidak ada. Oleh karena itu, hendaklah kita lihat sejarah mereka di dalam sejarah, mudah-mudahan akan menjadi panduan kita di akhir zaman ini. Mari kita contoh mereka, terutama sekali Rasulullah SAW untuk menjadi panduan kita di akhir zaman ini dan menjadi tolak ukur kepada kita. Mari kita lihat bagaimana mereka menegakkan berbagai aspek dalam agama Islam.

Aqidah

Mereka membangun aqidah, bukan hanya pada taraf akal, tetapi sampai ke hati/jiwa, hingga mereka dapat merasakan kebesaran dan kehebatan Allah. Bila menyebut nama Allah, gemetarlah hati mereka. Bila menyebut neraka ada yang pingsan sampai tiga hari, bahkan ada yang langsung mati. Ada sebagian yang tidak bisa makan lagi ketika disebutkan tentang neraka. Begitulah para sahabat. Sedangkan iman kita belum sampai ke peringkat hati, kita hanya baru di peringkat akal saja. Buktinya, kalau kita sebut nama Allah atau “Allahu Akbar” mungkin hati kita tidak merasakana apa-apa, tidak merasakan kebesaran Allah sedikitpun, seolah-olah nama Allah itu atau “Allahu Akbar” itu sama saja seperti kita menyebut kata “tiang”, “batu” dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa hati kita boleh jadi telah mati dan keras.

Ibadah

Bagaimana Rasulullah SAW dan umumnya salafussoleh menegakkan ibadah? Shalat mereka banyak. Rasulullah kadang-kadang sampai terjatuh karena banyak shalat, kadang-kadang sampai bengkak-bengkak kakinya. Begitu juga sebagian sahabat dan umumnya salafussoleh, shalat fardhu dan sunnat mereka ada yang sampai 100 rakaat sehari semalam.

Bagaimana dengan kita? Sekuat-kuatnya shalat kita tidak sampai menandingi selemah-lemahnya shalat para sahabat dan salafussoleh. Belum lagi kekhusyukan mereka dalam shalat begitu hebat. Kalau kita lihat sejarah, Sayidina Ali Karamallahu Wajhah, begitu khusyuk shalatnya sehingga ketika sahabat-sahabat yang lain mencabut anak panah yang tertancap di kakinya Sayidina Ali tidak merasakan kesakitan sedikitpun. Kadang-kadang sebagian dari mereka, ketika mereka shalat, burung hinggap pun tidak terasa. Sedangkan kita, di dalam shalat pun bisa berniaga, bermacam-macam ingatan muncul kadang-kadang sampai terlupa gerakan atau rukun dalam shalat.

Puasa mereka juga hebat. Ada sebagian shabat yang berpuasa sepanjang masa kecuali dua hari raya dan hari-hari tasyrik. Sebagian yang lain sehari berpuasa, sehari berbuka. Puasa Senin dan Kamis merupakan amalan yang istiqamah. Sedangkan kita mungkin hanya bertahan saat puasa Ramadhan saja.

Bacaan Quran mereka dalam satu minggu dapat khatam 30 juz. Itu sudah menjadi perkara biasa. Paling tidak satu bulan 30 juz. Jika kita bandingkan dengan kita, kita setahun sekalipun susah. Itupun mungkin hanya di bulan Ramadhan saja. Bacaan yang sanggup dibaca habis ialah surat kabar, bahkan sampai helaian demi helaian pun habis dibaca.

Dakwah

Mereka begitu yakin dengan Allah dan Rasul-Nya. Mereka sanggup berkorban apa saja hingga Islam dapat keluar dari tanah Arab. Di antaranya Abdullah Al-Bahili yang membawa Islam hingga sampai di Cina. Mereka memegang teguh hadits Rasulullah SAW:

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (Riwayat Bukhari & Tarmizi)

Mereka cinta syahid dalam menyampaikan risalah dakwah. Padahal ketika mereka berdakwah mereka tidak ada kendaraan, yang ada hanya unta-unta saja. Namun dengan berkat perjuangan mereka Islam sampai kepada kita hingga hari ini.

Oleh karena itu, kita sudah selayaknya bertanya kepada diri kita sendiri, sudah sampai dimana dakwah yang kita lakukan? Sedangkan jika kita lihat di zaman kita ini, mubaligh kurang. Jika mubaligh kurang, hal ini menjadikan umat Islam tidak ada panduan dunia dan akhirat. Kita ada fasilitas dan kemudahan, mengapa kita tidak dapat berbuat seperti mereka?

Ukhuwah

Ukhuwah dan persaudaraan Rasulullah SAW dan para sahabat terbukti pada realitas kehidupan mereka. Mereka dapat merasakan kesusahan orang lain seperti kesusahannya sendiri, kesenangan orang lain seperti kesenangan mereka. Hadist Rasulullah SAW yang artinya:

“Tidak dikatakan seseorang itu beriman selagi dia tidak mengasihi saudaranya seperti dia mengasihi dirinya sendiri” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Sedangkan kita masih sebatas berbicara tentang ukhuwah. Realitanya justru semakin bertambah pecah ukhuwah di antara kita. Bahkan memfitnah dan mengumpat solah-olah sudah menjadi tradisi sehingga Islam terhina dimana-mana karena tidak ada contoh yang dapat diambil.

Akhlak

Akhlak di kalangan mereka adalah bunga diri. Akhlak di dalam ajaran Islam adalah hasil atau buah ibadah kepada Allah. Makin banyak ibadah mereka, makin baik akhlaknya. Kalau banyak ibadah tetapi tidak membuahkan akhlak yang mulia, hal ini menunjukkan ibadah yang dilakukan selama ini tidak diterima disisi Allah. Bahkan ibadah yang semacam ini hanya layak untuk mendapatkan balasan neraka saja.

Di dalam sejarah ada seorang wanita yang dikatakan oleh Rasulullah akan jadi penghuni neraka. Mengapa? Karena walaupun ibadahnya banyak tetapi akhlaknya buruk.

Lain lagi dengan kisah seorang sahabat Rasulullah yang Rasulullah sebut sebagai calon penghuni syurga. Walaupun ibadahnya tidak banyak, tetapi ibadah yang sedikit itu telah membuahkan akhlak yang terpuji pada dirinya. Ia tidak pernah berhasad dengki dan bahkan sama sekali tidak pernah berniat untuk berhasad dengki.

Akhlak yang terpuji itu uibarat bunga diri. Semua orang suka pada bunga yang indah. Bahkan Allah memuji akhlak Rasulullah SAW yang begitu agung.

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung” (QS Al Qalam 4)

Mari kita lihat beberapa contoh akhlak Rasulullah SAW. Suatu hari seorang Arab Badui menarik baju Rasulullah dan meminta baju itu diberikan kepadanya. Maka, Rasulullah pun langsung memberikan baju tersebut.

Rasulullah juga sanggup berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya yaitu seorang perempuan tua yang sering menabur kaca dan duri di kawasan yang setiap hari dilewati Rasulullah. Tiba-tiba suatu hari ketika Rasulullah melewati tempat itu, tidak ada lagi kaca dan duri seperti biasanya. Rasulullah merasa heran lalu beliau menziarahi orang tua itu. Rupanya orang tua itu sedang sakit. Kemudian Rasulullah menolong dengan mendoakan ibu tua itu. Akhirnya dengan berkat Rasulullah berbuat demikian, ibu tua itu pun memeluk Islam.

Rasulullah memaafkan Da’tsur ketika dia mengancam akan membunuh beliau. Baginda juga pernah diusir oleh penduduk Thaif dan dilempari dengan batu, tetapi Rasulullah malah mendoakan kaum itu.

Ekonomi

Sebelum kedatangan Islam ke Madinah, ekonomi Madinah ketika itu dikuasai oleh orang-orang Yahudi yang terdiri dari tiga golongan:

  • Bani Nadhir
  • Bani Quraidhah
  • Bani Mustaliq

Waktu itu jumlah umat Islam baru ratusan orang saja. Kemudian Rasulullah memerintahkan para sahabat membangun Suq Al Anshar atau pasar orang-orang Anshar. Suq Al Anshar ini diketuai oleh Sayidina Abdul Rahman Bin Auf. Hasilnya lima ribu orang Yahudi penduduk Madinah gulung tikar dan keluar dari kota Madinah. Karena itulah orang-orang Yahudi tidak habis-habis berdendam dengan orang Arab hingga hari ini.

Allah membantu Rasulullah dan para sahabat adalah karena taqwa yang ada pada mereka. Sebagaimana firman Allah :

“Allah akan menjadi pembela pada orang-orang bertaqwa.” (QS Al Jatsiyah 18)

Allah membuka rahmat dari pintu langit dan bumi karena taqwa. Firman Allah yang artinya :

“Jika ada di kalangan penduduk sebuah negeri itu beriman dan bertaqwa, niscaya Allah akan membuka keberkatan dari pintu langit dan bumi.” (QS Al A’raaf 96)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: