ndlurung…
hidup terus menjadi alasan dari swegala permasalahan-permasalahan yang ada. seakan-akan kita lupa untuk mengingat bahwa kitapun akan mati.. caba kamu rasakan bahwa kamu akan matiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
- = – and + = + never – = +
waktu memang akan terus berlalu…
tapi tidur dan bermalas-malaslah
ketololan ketololan pernah kita lakukan…..
tapi ratapilah.
konsep sudah kita siapkan……
tapi teruslah berangan-angan.
keberhasilan-keberhasilan sudah kita lakukan…..
tapi teruslah kamu banggakan.
dan sadarilah apa yang terjadi……………………………………………………………………………………………..
entah..

sejenak kita merenung, dari mana kita,,, darimana kita berasal… kenapa kita ada disini…dan untuk apa kita ada disini.
ragam macam tipikal warna kehidupan seharusnya membuat hidup ini indah. memang tidak semua warna kita sukai, tapi janganlah warna yang kita sukai itu membuat kita semakin terjebak atau tersempitkan olehnya.. hidup memang memilih. ataukah kita akan dipilihkan oleh waktu… hidup memang mengalir… larut. tapi yang luruh dan larut adalah apa-apa yang sudah kita kerjakan. tapi apa-apa yang kita yakini dalam jiwa nurani tidak akan mencair bahkan cenderung mengkristal membentuk karakteristik yang akan terus membangun sikap, tindak,dan tanduk kita untuk selanjutnya.
selalulah kita yakin dan percaya bahwa Allah akan menunjukkan hambaNya jalan yang Ia Ridhoi…
selalulah berusaha dan berjuang dimana kita menyambut petunjuk itu dan memaknainya dalam rangkaian kehidupan yang kita jalani.
jangan pernah menyerah….
banting setir juga ndak apa-apa, dalam rangka mencari jalan dan cara untuk mencapai tujuan yang mulia…
Mendahulukan Kepentingan Orang Lain
Mendahulukan Kepentingan Orang Lain
Al-Waqidiy bercerita, “Suatu saat, saya berada dalam himpitan ekonomi yang begitu keras. Hingga tiba bulan Ramadhan, saya tidak mempunyai uang sedikitpun. Saya bingung, lalu aku menulis surat kepada teman saya yang seorang alawy (keturunan Ali bin Abi Thalib). Saya memintanya meminjami saya uang sebesar seribu dirham. Dia pun mengirimkan kepada saya uang sebesar itu dalam sebuah kantong yang tertutup. Kantong itu saya taruh dirumah. Read the rest of this entry »
Memberi Satu Dirham Lalu Allah Memberinya Seratus Dua Puluh Ribu Dirham
Memberi Satu Dirham Lalu Allah Memberinya Seratus Dua Puluh Ribu Dirham
Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang laki-laki menceritakan kepadaku: “Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepal kawannya. Ia lalu bertanya, ‘Ada apa?’ Orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu. Read the rest of this entry »
Khalifah Umar dan Keadilan
Khalifah Umar dan Keadilan
Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhotbah di masjid di kota Madinah tentang keadilan dalam pemerintahan Islam. Pada saat itu muncul seorang lelaki asing dalam masjid , sehingga Umar menghentikan khotbahnya sejenak, kemudian ia melanjutkan.
“Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas itu diberikan haknya untuk membalas pemimpin itu. Read the rest of this entry »
Kedermawanan Itu Adalah Jernih
Kedermawanan Itu Adalah Jernih
Seorang pria dari kaum Quraisy bercerita:
“Suatu saat, Muhammad bin Al-Munkadir dari Bani Taim bin Murrah pergi untuk berhaji. Dia seorang yang sangat dermawan. Sebelum berangkat dia memberikan sedekah kepada orang-orang. Semua barang miliknya sudah habis, yang tersisia hanyalah sebuah baju yang dia pakai, dia berangkat haji bersama kawan-kawannya. Read the rest of this entry »
Keadaan Si Kikir
Keadaan Si Kikir 03/14/2003 Suatu hari dalam suatu kesempatan di kehidupan Rasulullah saw. ada seorang perempuan datang menemui beliu. Tangan sebelah kanan dari wanita itu terlihat mengecil dan mengering. Waktu ia telah berada dekat dengan Rasulullah, kemudian berkata, “Ya Rasulullah, mohon berdoalah engkau kepada Allah, kiranya Ia dapat berkenan untuk menyembuhkan dan mengembalikan tanganku ini kepada keadaan sebagaimana semula.” Sembari menyampaikan permohonannya, wanita itu memperlihatkan tangan kanannya kepada Rasulullah. Rasulullah memperhatikan sejenak keadaan tangan itu. Tangan itu memang telah mengecil dan tulang-tulangnya terkesan besar dalam pandangan karena mengeringnya daging yang menyelimutinya. Read the rest of this entry »
Hikmah Diam pada Saat yang Tepat
Hikmah Diam pada Saat yang Tepat
10/18/2002
Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar. Read the rest of this entry »
Harimau dan Istri yang Cerewet
Harimau dan Istri yang Cerewet
02/02/2003
Pada zaman dahulu ada seorang saleh yang mempunyai saudara yang saleh juga di lain tempat yang berjauhan. Maka, berziarah pada saudaranya tiap tahun sekali, dan pada suatu hari ketika ia berziarah ke rumah saudaranya dan mengetuk pintu rumahnya, ditanya oleh istri saudaranya, “Siapa?”
Jawabnya, “Iparmu/sudara dari suamimu, datang untuk sambaing.”
Istri saudaranya itu berkata, “Ia masih pergi mencari kayu, semoga tidak dikembalikan oleh Allah.”
Lalu, ia memaki-makinya.
Kemudian tidak lama datanglah saudaranya itu mendapat seikat kayu yang dipikulkan pada harimau, ia berkata pada harimau itu:
“Pergilah, semoga Allah memberkahi kamu.”
Kemudian dipersilahkan saudaranya untuk masuk ke rumah, sedang istrinya terus memaki-maki padanya, tetapi tidak dijawab walau sepatah kata pun, sehingga dihidangkan makanan dan makan bersama saudaranya. Setelah itu ia minta izin untuk kembali dan tidak henti-hentinya memikirkan tentang kesabaran saudaranya terhadap istrinya yang sedemikian itu.
Kemudian di lain tahun datang kembali saudaranya itu, dan ketika sampi di rumah dan mengetuk pintu, ditanya oleh istrinya, “Siapa?”
Jawabnya, “Aku saudara suamimu datang untuk sambaing.”
Maka disambut oleh istrinya, “Selamat datang,” dan dipersilahkan untuk menunggu suaminya yang sedang mencari kayu dan dipuji-puji kebaikan suaminya itu, maka tidak lama kemudian datanglah suaminya memikul kayu di atas punggungnya, kemudian kepada saudaranya yang datang sambaing itu dipersilahkan masuk, dan sesudah makan bersama ia bertanya tentang hal dahulu ketika itu harimau membawa kayuya, dan kini kayu terpaksa dipikulnya sendir.
Jawabnya, “Hai saudaraku, istriku yang cerewet dahulu itu telah meninggal dunia, dan karena saya sabar atas kecerewetannya, Allah mendatangkan harimau untuk membantuku dalam mencari kayu, kemudian ketika aku telah diganti oleh Tuhan dengan istri yang baik budi ini, sudah tidak ada lagi harimau itu. Kini terpaksa aku harus memikulnya sendiri kayuku itu.”
Sumber: 1001 Kisah-Kisah Nyata, Achmad Sunarto