mencari sisi hati yang hilang…
bukan saatnya dan bukan waktunya…
disaat pertemuan yang menorehkan rasa di permukaan hati, memaksa terus memenuhi candunya, membuat terhempas oleh pantulannya, ataukah kita tidak pandai menjaga sangkar hati ini……..
panjangnya bekas perjalanan ini memaksaku sadar dimana aku sekarang… semuanya memaksaku membuatku menundukan kepala. menatatap nanar bumi asal mulaku……
ibu bapak adik saudara dan temanku semuanya maafkan ku yang tidak akan pernah bisa membalas budi baik kalian…
sepinya hatiku
gersangnya ini
ataupun sunyinya cinta, ataukah memang aku yang tidak tahu akan kapan saatnya dan waktuya….
sekeping hati di bawa berlari
melalui jalanan sepi
bukan jalan kemunafikan
dan aku percaya suatu saat nanti
ada satu bunga untukku
dari kemurahan dan kasih sayang Tuhanku
12vg+3%
Rangkaian kehidupan terus akan menggiring kita pada sebuah naluri hidup yang tajam, pengalaman akan pilihan, keberanian, ketololan, kesalahan, pengalaman jatuh pada suatu lubang, Dan lain sebagainya seharusnya menjadi sebuah arti hikmah yang didapat. Sebuah sejarah anak manusia akan terus berulang, itulah kenapa pentingnya belajar sejarah.. seumuran manusia yang pada akhirnya akan menemui ajalnya tentulah sangat singkat. Maka sebuah makna sejarah seharusnya diambil agar nilai-nilai yang ada dapat kita fahami sehingga menjadi modal untuk menghadapi segala tantangan dan permasalahan yang ada.
Disaat kita muak akan kemandekan, disaat kita bosan akan sebuah ebrobokan, diwaktu penggilan nurani berteriak dimanakah aku….. dan ada sebuah tuntutan yang harus dipenuhi untuk…. Mbuhlah sik ngantuk ngetik’e habis subuhan….
siti khotijah
Siti khotijah
Sebuah nama yang cukup bermakna spiritual, bermakna historis magis dan bersejarah, jika kita pelajari sejarah kenabian Muhammad SAW, tentunya kita mengenal nama ini. Siti Khotijah adalah Istri pertama sang Revolusioner sejati, Istri seorang Tokoh terbesar sepanjang masa, dan dia adalah teman Hidup seorang Nabi dan Rosul yang kita imani, Muhammad SAW. Pada waktu itu Siti khotijah adalah seorang janda yang kaya raya, ia adalah seorang niagawati yang sukses, banyak saudagar kaya dan tokoh-tokoh yang terkemuka yang melawarnya, akan tetapi semuanya ia tolak… selain cantik dan baik hati ia juga seorang yang punya keteguhan iman. Pada suatu ketika siti khotijah bermimpi ada matahari yang turun dari langit dan masuk kerumahnya sehingga pancaran cahayanya bersinar merata keseluruh penjuru mekkah. Mimpi itu diceritakan kepada anak bapa saudaranya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.
Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahawa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.”
“Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh.
“Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat.
“Dari suku mana?”
“Dari suku Quraisy juga.”
Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?”
“Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur.
Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai anak bapa saudaraku?”
Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”
Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah sentiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.
Yang mana setelah itu Siti Khotijah benar-benar menikah dengan pemuda yang namanya Muhammad yang tidak lain adalah seorang Nabi dan Rosul. Siti Khotijah adalah sosok pertama yang mengimani bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rosul… ia menemani Muhammad selama dua puluh enah (26) tahun. Ia adalah istri Tunggal Nabi yang terceraikan karena kematiannya. Tahun kematiannya disebut dengan tahun kesedihan (‘amul khuzni). Pernah Muhammad Rosullulah berkata :”Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir’aun”.
Dan itulah namamu yang kamu emban sebagai bentuk do’a orang tuamu… nama yang suci, sederhana tapi sarat makna, juga sebagai bentuk inspirasimu untuk menjadi sosok wanita yang sholihah sebagai mana khotijah istri Rosullulah. Ahhh tapi melihat umurmu memang belum saatnya untuk membicarakan tentang apa itu pernikahan.apa itu istri… ya mungkin dari ceritamu, sebuah angan-angan dan bayangan sebuah keluarga sudah mulai kamu mimpikan. Sehingga sebuah keputusan untuk kerja sebagi satu bentuk rasa kedewasaanmu dalam menjalani tapak-tapak kehidupan sudah kamu beranikan… ya pesanku hati-hati dan selalu mendekatkan diri dengan yang Kuasa nantinya di negeri perantuan.
Lulus SMA adalah masa-masa remaja menginjak masa muda setelah itu baru dewasa… mungkin aku tidak sebegitu mengenal siapa kamu. Tapi sedikit pembicaraan lewat telephon kapan hari aku menghargai kamu adalah sosok muda yang sudah berani berproses menuju kedewasaan. Masa-masa dan cara berpikir remaja nampaknya sudah saatnya ditinggalkan.
Melihat begitu glamournya kehidupan sekarang, hedonis, bebas, dan lebih tak terjaganya moral-moral pergaulan. Tentunya haruslah diwaspadai.. cara pandang hidup yang pragmatis pada nilai-nilai material, dan sudah jauh dari substansi hidup sebagai bentuk penghambaan pada yang Kuasa, tentunya harus diperhatikan. Tentunya sebuah ketaatan dan keistiqomahan dalam belajar, bekerja, beramal dan ibadah seharusnya selalu semakin mengingatkan kita pada keagungan Tuhan Allah SWT.
KhoTidjah…….. kalau aku boleh memanggilmu begitu. Aku kira ini bukan nama yang jelek… atau kedengaran udah tua gitu…kayak eyang-eyang atau mbah-mabah… aku rasa lebih kental dengan makna ke-ibuan, dan lebih teduh dan bersahaja. Niatan dan harapan membahagiakan orang tua dan juga sebagai bentuk taruhan untuk diambil sebuah hikmah pengalaman, ketika merantau dinegeri orang jauh dari sanak saudara, beda adat dan budaya, lain bahasa dan tutur kata, asing secara lingkungan dan juga menggantungkan rasa kerinduan, kesepian, kesendirian yang nanti akan kamu rasakan, tapi itu bisa saja sebagai hikmah belajar untuk membentuk sebuah kemandirian diri dalam menghadapi realita kehidupan.
Merantau adalah bagian dari safari melihat kebesaran Tuhan. Dimanapun kita menginjak Bumi Allah, disana kita bisa bersujud pada-Nya. Tidak ada sebuah ketakutan, rasa kesendirian ataupun ketakutan karena kemanjaan untuk bisa mandiri di negeri orang. Allah adalah tempat bersandar, Ia adalah Sang Penjaga, yang Maha Memenuhi Kebutuhan. Dan Maha Penjawab Do’a.
Hidup memang pilihan….
Setiap pilihan akan semakin membentuk sebuah karakter dan bentuk bekas langkah kita dalam menjalani hidup ini, setiap aksi selalu ada reaksi, setiap sebab yang berproses selalu menghasilkan akibat, Setiap penyesalan adalah buah dari ketololan, dan setiap langkah kehidupan adalah pilihan.
Memilih pasangan hidup juga bagian dari memilih warna kehidupan…..
Pengorbanan membutuhkan sebuah perjuangan, perjuangan membutuhkan sebuah ketabahan, dan ketabahan membutuhkan keyakinan
Berjuta warna pelangi mewakili keindahan kehidupan
semoga kita adalah bagian dari warna pelangi itu..
hanya aku yang tahu
Berdiri dibelakang bayang bayang adalah kepengecutan…
karena kita tidak mau menghadapi kenyataan
dimana matahari pagi yang selalu kulihat semasa kecilku
kini aku suka bersembunyi di balik gelapnya malam
senja sore juga begitu indah dinikmati
aku berharap untuk nantinya bisa benar-benar tidur nyenyak
bangun dengan harapan yang dinanti-nanti
memandang wajahMu Tuhanku
didadaku
<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>
Engkau yang tersenyum ataukah tertawa
tapi serengaimu terkadang membuatku takut…
ataukah aku yang iri tidak mempunyai senyum seindah senyummu
jangan pernah percaya pada kata-kata cintaku
apa yang sama-sama kita pegang ini
dengan mata buta, dalam kegelapan,
jangan dikira kita tidak akan salah pegang..
yang bisa membuat berdarah-darah hati
sungguh akan kupenuhi segala kemauanmu
asal itu adalah yang Tuhan mau
puisi-ku
waktu yang tak lelah berlalu
memaksaku untuk terus berlari…
dan terus lebih cepat…
satu persatu mungkin tidak cukup…
untukku
untukmu
untuk kita
dan untuk semua…
ataukah memang aku terlalu serakah
energi adalah kekekalan
dan siapa yang berhak berbicata pada Tuhanku
ataukah memang hanya beberapa yang didengarkanNya
ataukah kita yang enggan bersuara….
sungguh diriku hanyalah tanah yang tidak ingin menjadi debu…………………………….
