Menuntut ilmu

April 7, 2008 at 6:22 am (islam, untaian arti makna)

Menuntut ilmu

Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu pengetahuan. Islam sangat menekankan umatnya untuk terus menuntut ilmu.

Dalam surat Ar-Rahman, Allah menjelaskan bahwa diri-Nya adalah pengajar (‘Allamahu al-Bayan) bagi umat Islam. Dalam agama-agama lain selain Islam kita tidak akan menemukan bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah perintah untuk belajar.

Ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Surat Al-‘Alaq, di dalam ayat itu Allah memerintahan kita untuk membaca dan belajar. Allah mengajarkan kita dengan qalam – yang sering kita artikan dengan pena.

Akan tetapi sebenarnya kata qalam juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang yang dapat dipergunakan untuk mentransfer ilmu kepada orang lain. Kata Qalam tidak diletakkan dalam pengertian yang sempit. Sehingga pada setiap zaman kata qalam dapat memiliki arti yang lebih banyak. Seperti pada zaman sekarang, komputer dan segala perangkatnya termasuk internet bisa diartikan sebagai penafsiran kata qalam.

Dalam surat Al-‘Alaq, Allah Swt memerintahkan kita agar menerangkan ilmu. Setelah itu kewajiban kedua adalah mentransfer ilmu tersebut kepada generasi berikutnya. Dalam hal pendidikan, ada dua kesimpulan yang dapat kita ambil dari firman Allah Swt tersebut; yaitu Pertama, kita belajar dan mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya. Kedua, berkenaan dengan penelitian yang dalam ayat tersebut digunakan kata qalam yang dapat kita artikan sebagai alat untuk mencatat dan meneliti yang nantinya akan menjadi warisan kita kepada generasi berikutnya.

Dalam ajaran Islam, baik dalam ayat Qur’an maupun hadits, bahwa ilmu pengetahuan paling tinggi nilainya melebihi hal-hal lain. Bahkan sifat Allah Swt adalah Dia memiliki ilmu yang Maha Mengetahui. Seorang penyair besar Islam mengungkapkan bahwa kekuatan suatu bangsa berada pada ilmu. Saat ini kekuatan tidak bertumpu pada kekuatan fisik dan harta, tetapi kekuatan dalam hal ilmu pengetahuan. Orang yang tinggi di hadapan Allah Swt adalah mereka yang berilmu.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Saw menganjurkan kita untuk menuntut ilmu sampai ke liang lahat. Tidak ada Nabi lain yang begitu besar perhatian dan penekanannya pada kewajiban menuntut ilmu sedetail nabi Muhammad Saw. Maka bukan hal yang asing jika waktu itu kita mendengar bahwa Islam memegang peradaban penting dalam ilmu pengetahuan. Semua cabang ilmu pengetahuan waktu itu didominasi oleh Islam yang dibangun oleh para ilmuwan Islam pada zaman itu yang berawal dari kota Madinah, Spanyol, Cordova dan negara-negara lainnya. Itulah zaman yang kita kenal dengan zaman keemasan Islam, walaupun setelah itu Islam mengalami kemunduran. Di zaman itu, di mana negara-negara di Eropa belum ada yang membangun perguruan tinggi, negara-negara Islam telah banyak membangun pusat-pusat studi pengetahun. Sekarang tugas kita untuk mengembalikan masa kejayaan Islam seperti dulu melalui berbagai lembaga keilmuan yang ada di negara-negara Islam.

Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa orang yang mulia di sisi Allah hanya karena dua hal; karena imannya dan karena ketinggian ilmunya. Bukan karena jabatan atau hartanya. Karena itu dapat kita ambil kesimpulan bawa ilmu pengetahuan harus disandingkan dengan iman. Tidak bisa dipisahkan antara keduanya. Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan iman akan menghasilkan peradaban yang baik yang disebut dengan Al-Madinah al-Fadhilah.

Dalam menuntut ilmu tidak mengenal waktu, dan juga tidak mengenal gender. Pria dan wanita punya kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu. Sehingga setiap orang, baik pria maupun wanita bisa mengembangkan potensi yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita sehingga potensi itu berkembang dan sampai kepada kesempurnaan yang diharapkan. Karena itulah, agama menganggap bahwa menuntut ilmu itu termasuk bagian dari ibadah. Ibadah tidak terbatas kepada masalah shalat, puasa, haji, dan zakat. Bahkan menuntut ilmu itu dianggap sebagai ibadah yang utama, karena dengan ilmulah kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya dengan benar. Imam Ja’far As-Shadiq pernah berkata: “Aku sangat senang dan sangat ingin agar orang-orang yang dekat denganku dan mencintaiku, mereka dapat belajar agama, dan supaya ada di atas kepala mereka cambuk yang siap mencambuknya ketika ia bermalas-malasan untuk menuntut ilmu agama”.

Ajaran agama Islam yang menekankan kewajiban menuntut ilmu tanpa mengenal gender. Karena menuntut ilmu sangat bermanfaat dan setiap ilmu pasti bemanfaat. Kalau kita dapati ilmu yang tidak bermanfaat, hal itu karena faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Sedangkan ilmu itu sendiri pasti sesuatu yang bermanfaat.

Sumber :

Peran Perguruan Tinggi Dalam Meningkatkan Keberadapan Islam

Prof. Dr. Ayatullah Sayyid Hasan Sadat Mustafawi
(Rektor Islamic University of Teheran-Iran)

PERANAN ILMU DALAM ISLAM

Tuesday, 29. January 2008, 16:35:01

Telah menjadi fitrah semula jadi setiap manusia, tidak kira apa kaum atau bangsa, suka kepada ilmu. Justeru itulah setiap orang berlumba-lumba menuntut dan mencari ilmu di dalam berbagai-bagai bidang. Pada umat Islam pula ia didorong lagi oleh ajaran agamanya.
Sebagaimana firman Allah:

“… supaya Allah meninggikan darjat orang yang beriman di kalangan kamu dan orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa darjat.” (Al Mujadalah: 11)

Sabda Rasulullah SAW:

Maksudnya: “Menuntut ilmu itu wajib ke atas setiap muslimin dan muslimat.” Sabda baginda lagi: Maksudnya: “Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang abid seperti kelebihanku atas orang yang terendah dari umatku.” (Riwayat At Tarmizi)

Maksudnya: “Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang abid ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang.” (Riwayat Abu Daud)
Dalam Islam, menuntut ilmu itu adalah wajib, ada yang fardhu ain, ada yang fardhu kifayah. Manusia suka menuntut ilmu itu kerana memandangkan peranan ilmu itu di dalam kehidupan sangat memberi faedah-faedah dan memberi kesan, antaranya:

1.Orang yang bodoh susah berhadapan dengan kehidupan yang bersimpang-siur dan pancarobanya, maka perlulah ilmu untuk berhadapan dengannya.

2. Dengan ilmu pengetahuan ada manusia boleh maju di dalam bidang ekonomi.

3.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia boleh maju di dalam bidang pembangunan.

4.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia boleh maju di dalam bidang perhubungan.

5.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia boleh maju di dalam bidang ketenteraan dan persenjataan.

6.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia boleh maju di dalam berbagai-bagai bidang yang lain.

7.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia boleh memberi makan otak dan jiwa.

8.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia boleh menjadi kawan di waktu ketika apa dan suasana apa sekalipun.

9.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia boleh membawa kehidupan yang mudah dan senang.

10.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia biasa boleh menguasai orang atau kaum dan bangsa-bangsa yang bodoh.

11.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia dihormati dan disegani orang.

12.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia mudah membuat kerja yang susah dan mencabar.

13.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia mudah mendapat kejayaan dunia dan Akhirat.

14.Dengan ilmu pengetahuan ada manusia biasa dia memimpin orang yang bodoh.

15.Dengan ilmu pengetahuan jarang orang menjadi miskin.

16.Dengan ilmu pengetahuan manusia boleh mendapat harta dan kekayaan.

17.Dengan ilmu pengetahuan manusia boleh mendapat kuasa

Walaupun telah menjadi fitrah manusia suka dengan ilmu pengetahuan dan berusaha mencarinya, namun tidak semua orang dapat memiliki ilmu yang banyak dan tinggi. Di antara sebabnya adalah seperti berikut:
1.Kerana seseorang itu Allah Taala telah takdirkan lemah akal fikirannya. Dengan sebab itu dia tidak mampu menimba ilmu yang banyak.
2.Mungkin seseorang itu tidak dapat peluang belajar dengan cukup kerana kemiskinan dan kesusahan hidup.
3.Kerana tidak ada peluang-peluang kemudahan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang tinggi seperti tempat belajar jauh.
4.Kerana ditakdirkan oleh Allah Taala selalu sakit atau kecacatan anggota maka tidak membolehkan cergas menuntut ilmu.
5.Kerana seseorang itu cepat berkahwin maka terhalanglah untuk mendapat ilmu yang banyak.
6.Kerana seseorang itu atau sesuatu kaum atau bangsa itu tidak bersungguh-sungguh menuntut ilmu pengetahuan atau malas menuntut ilmu.

Di antara sumber-sumber ilmu ialah:

1. Melalui belajar dan membaca, membuat kajian.
2. Melalui pengalaman.
3. Bagi rasul atau nabi melalui wahyu.
4. Bagi orang yang bertaqwa, melalui ilham.

Orang yang menuntut dan mencari ilmu ada beberapa golongan pula. Di antaranya seperti disenaraikan di bawah:

1. Menuntut dan mencari ilmu kerana ilmu semata-mata. Dia seronok, mabuk dan asyik dengan ilmu. Inilah golongan orang yang mencari ilmu kerana ilmu semata-mata atau golongan mabuk ilmu.

2. Orang yang mencari ilmu kerana inginkan kekayaan dan harta dunia. Dengan ilmu yang banyak dan tinggi, boleh menjawat jawatan yang tinggi dan dapat gaji besar. Dengan ilmu juga ada orang boleh pandai berniaga. Dengan berniaga, boleh mendapat kekayaan dan harta. Inilah golongan menggunakan ilmu untuk mendapat kekayaan.

3. Ada orang mencari ilmu kerana ingin menjadi pemimpin. Seseorang yang hendak menjadi pemimpin mesti ada ilmu. Kalau tidak, sudah tentu tidak boleh memimpin orang. Atas sebab ini, ada golongan memburu ilmu. Inilah golongan yang menggunakan ilmu untuk menjadi pemimpin.

4. Ada setengah golongan pula bersungguh-sungguh mencari ilmu kerana ingin nama dan glamour. Agar orang menganggap dia golongan intelek. Moga-moga dia dihormati orang dan moga-moga nama masyhur. Inilah golongan ahli ilmu yang inginkan nama.

5. Ada orang belajar ilmu kerana hendak keluar daripada kebodohan dan kejahilan. Agar jangan orang memandang hina. Jahil itu dipandang tidak baik. Maka mereka pun belajarlah ilmu pengetahuan hingga menjadi orang yang pandai. Inilah golongan ahli ilmu yang mendapatkan ilmu agar tidak terhina.

6. Ada orang menuntut dan mencari ilmu kerana ingin membangun dan maju demi kedaulatan dan kemegahan bangsa dan negara. Agar jangan bangsanya mundur dan terhina. Inilah golongan ahli ilmu yang berfahaman nasionalisme.

7. Orang yang menuntut ilmu kerana perintah Allah Taala. Juga dengan tujuan agar dapat mengamalkan ilmu supayaboleh mengabdikan dan mendekatkan diri kepada Allah Taala. Moga-moga dengan itu mendapat keredhaan Allah Taala dan terselamat daripada kehinaan di dunia dan di Akhirat. Golongan ini menggunakan ilmu untuk membangunkan ekonomi, ketenteraan, pertanian, bangunan, sekolah, pejabat, jalan raya dan lain-lain lagi. Ia adalah dengan tujuan agar dapat melindungi iman, memperkuatkan syariat, membesarkan syiar Tuhan dan mendaulatkan hukumhukum Tuhan. Justeru itu, di dalam membangun melalui ilmunya, mereka sangat menjaga syariat, terlalu menjaga halal dan haram, tidak lari daripada disiplin Islam hingga seluruh usaha dan kemajuan yang dibangunkan menjadi ibadah, menjadi amal soleh, dianggap jihad fisabilillah dan diberi pahala yang besar oleh Allah Taala yang Maha Pemurah. Inilah golongan ahli ilmu yang bertaqwa.

Kita umat Islam, dalam menuntut dan mencari ilmu biarlah menjadi golongan yang ketujuh itu, iaitu mencari ilmu kerana Allah Taala. Kalau bukan kerana Allah Taala, termasuk orang yang rugi. Kalaupun mendapat untung di dunia, namun rugi di Akhirat kerana masuk Neraka. Wal‘iyazubillah.

Sabda Rasulullah SAW:
Maksudnya: “Sesiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bersaing dengan para ulama atau untuk mujadalah dengan orang-orang yang jahil atau untuk mengambil perhatian manusia, ia akan masuk Neraka.”

Sabda baginda lagi:
Maksudnya: “Barang siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah amalannya dia akan bertambah jauh dari Allah.”

Sumber : http://my.opera.com/alwy23/blog/show.dml/1704056

[AWRA PASENGGERAHAN Expresi Anak Bangsa]

MENUNTUT ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM

Oleh : Solehudin Irawan

web site : Http:\\www.geocities.com\broadway\4516\

“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri cina”.

Kadang-kadang kita lupa untuk apa sebenarnya kita menuntut ilmu, dan kita

juga lupa apa hukumnya menuntut ilmu dalam agama Islam. Dalam hal tersebut,

saya ingin mengingatkan kembali untuk apa sebenarnya, dan apa hukumnya kita

menuntut ilmu dalam agama Islam. Hal ini saya sadur dari buku “Ilmu fiqih

Islam” karangan Drs.H.Moh.Rifai.

Insya Allah tulisan ini bisa mengingatkan kembali dan akan menjadi patokan

untuk kita melanjutkan perjalanan kita dalam menuntut ilmu, baik ilmu dunia

maupun ilmu akhirat….amin ya rabbal alamin

1.. HUKUM MENUNTUT ILMU.

Apabila kita memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadist, maka terdapatlah

beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun

perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang

cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menuntut ilmu artinya

berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan menanya, melihat atau

mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi

Muhammad saw :

Artinya :

“Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun

perempuan”. (HR. Ibn Abdulbari)

Dari hadist ini kita memperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan

pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui

segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat

meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang

lalu, baik yang berhubungan dangan ‘aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan

dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.

Nabi Muhammad saw. bersabda :

Artinya :

“Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah

ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia)

diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang

meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula”. (HR.

Bukhari dan Muslim)

Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan

berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan

kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik ; dan agar setiap muslim

dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan

bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang diridhai Allah swt.Demikian

pula Islam mewajibkan kita menuntut ilmu akhirat yang menghasilkan natijah,

yakni ilmu yang diamalkan sesuai dengan perintah-perintah syara’.Hukum

wajibnya perintah menuntut ilmu itu adakalanya wajib ‘ain dan adakalnya

wajib kifayah.

Ilmu yang wajib ‘ain dipelajari oleh mukallaf yaitu yang perlu diketahui

untuk meluruskan ‘aqidah yang wajib dipercayai oleh seluruh muslimin ; dan

yang perlu di ketahui untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang

difardhukan atasnya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji.

Disamping itu perlu dipelajari ilmu akhlak untuk mengetahui adab sopan

santun yang perlu kita laksanakan dan tingkah laku yang harus kita

tinggalkan. Disamping itu harus pula mengetahui kepandaian dan keterampilan

yang menjadi tonggak hidupnya.

Adapun pekerjaan-pekerjaan yang tidak dikerjakan sehari-hari maka di

wajibkan mempelajarinya kalau di kehendaki akan melaksanakannya, seperti

seseorang yang hendak memasuki gapura pernikahan, seperti syarat-syarat dan

rukun-rukunnya dan segala yang di haramkan dan dihalalkan dalam menggauli

istrinya.

Sedang ilmu yang wajib kifayah hukum mempelajarinya, ialah ilmu-ilmu yang

hanya menjadi pelengkap, misalnya ilmu tafsir, ilmu hadist dan sebagainya.

1.. MENUNTUT ILMU SEBAGAI IBADAT.

Dilihat dari segi ibadat, sungguh menuntut ilmu itu sangat tinggi nilai

dan pahalanya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.

Artinya :

“Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun

petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Quran), maka

pahalanya lebih baik daripada ibadat satu tahun”.

Dalam hadist lain dinyatakan :

Artinya :

“Barang siapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk

golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai

pulang kembali”.

Mengapa menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi

ibadat?. Karena amal ibadat yang tidak dilandasi dengan ilmu yang

berhubungan dengan itu, akan sia-sialah amalnya. Syaikh Ibnu Ruslan dalam

hal ini menyatakan :

Artinya :

“Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka

segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima”.

2.. DERAJAT ORANG YANG BERILMU.

Kalau kita telah mempelajari dan memiliki ilmu-ilmu itu, apakah kewajiban

kita yang harus ditunaikan?.

Kewajiban yang harus ditunaikan ialah mengamalkan segala ilmu itu, sehingga

menjadi ilmu yang bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun bagi orang

lain.

Agar bermanfaat bagi orang lain hendaklah ilmu-ilmu itu kita ajarkan kepada

mereka. Mengajarkan ilmu-ilmu ialah memberi penerangan kepada mereka dengan

uraian lisan, atau dengan melaksanakan sesuatu amal di hadapan mereka, atau

dengan jalan menyusun dan mengarang buku-buku untuk dapat diambil

manfaatnya.

Mengajarkan ilmu kecuali memang diperintah oleh agama, sungguh tidak

disangkal lagi, bahwa mengajar adalah suatu pekerjaan yang seutama-utamanya.

Nabi diutus ke dunia inipun dengan tugas mengajar, sebagaimana sabdanya :

Artinya :

“Aku diutus ini, untuk menjadi pengajar”.(HR. Baihaqi)

Sekiranya Allah tidak membangkitkan Rasul untuk menjadi guru manusia, guru

dunia, tentulah manusia tinggal dalam kebodohan sepanjang masa.

Walaupun akal dan otak manusia mungkin menghasilkan berbagai ilmu

pengetahuan, namun masih ada juga hal-hal yang tidak dapat dijangkaunya,

yaitu hal-hal yang diluar akal manusia. Untuk itulah Rasul Allah di

bangkitkan di dunia ini.

Mengingat pentingnya penyebaran ilmu pengetahuan kepada manusia/masyarakat

secara luas, agar mereka tidak dalam kebodohan dan kegelapan, maka di

perlukan kesadaran bagi para mualim, guru dan ulama, untuk beringan tangan

menuntun mereka menuju kebahagian dunia dan akhirat. Bagi para guru dan

ulama yang suka menyembunyikan ilmunya, mendapat ancaman, sebagaimana sabda

Nabi saw.

Artinya :”Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu, kemudian menyembunyikan

(tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah akan mengekangkan (mulutnya),

kelak dihari kiamat dengan kekangan ( kendali) dari api neraka”.(HR Ahmad)

Marilah kita menuntut ilmu pengetahuan, sesempat mungkin dengan tidak ada

hentinya tanpa absen sampai ke liang kubur, dengan ikhlas dan tekad

mengamalkan dan menyumbangkannya kepada masyarakat, agar kita semua dapat

mengenyam hasil dan buahnya.

Disadur kembali oleh Solehudin Irawan mahasiswa teknik Informatik FHTW

Berlin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: